Untuk
Apa Kita di Dunia?
Bangkitnya
manusia tergantung pada pemikirannya tentang manusia,alam semesta dan kehidupan
serta hubungan ketiganya dengan apa-apa yang ada sebelumnya dan apa-apa yang
ada seseudahnya.—Syaikh Taqiyudin An-Nabhani (Nizhamul Islam, 2001). Semua itu
dapat dilakukan dengan cara mengubah pola pikir manusia terkait ketiga unsur
tadi dan akan menghasilkan suatu pemahaman dan akan menjadikan suatu landasan
berpikir. Yang dimana dalam prosesnya haruslah sesuai fitrah manusia dan memuaskan
akal.
Dalam
tulisan sebelumnya kita telah menemukan bahwa adanya Tuhan yang menciptakan
segala sesuatu yang ada di alam semesta. Tapi untuk apa Tuhan menciptakan ini
semua? Pencipta yang seperti apa yang menciptakan ini semua? Perlu diketahui
bahwa kita ini adalah manusia yang memiliki akal yang bersifat lemah dan
terbatas. Juga alam semesta dan kehidupan, semuanya memiliki sifat yang
terbatas. Hanya ketiga unsure tadilah yang mampu dijangkau oleh kemampuan indra
manusia. Sedangkan Pencipta yang menciptakan seluruh keluarbiasaan ini, yang
wujud ataupun sifatnya tidak dapat di indra oleh manusia sebab Pencipta diluar
ketiga unsure tadi. Hingga untuk menemukan tujuan dari segala penciptaan ini
kita sangatlah memerlukan bantuan.
Dalam tulisan yang sebelumnya
juga kita telah menyimpulkan bahwa Allah lah yang menciptakan semua ini. Dalam
setiap agama yang diturunkan oleh Allah, Allah sertakan kitab yang akan
menjadi pedoman hidup manusia. Dalam agama islam Allah telah menurunkan
kitab Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, SAW. Berarti Al-Quran lah
yang akan menuntun umat manusia kepada apa yang harus dilakukannya selama di
dunia serta membantu manusia untuk menemukan tujuan hidupnya.
Sesungguhnya di dunia
ini hanya ada 3 ideologi yakni: Sosialisme-Komunisme, Kapitalisme-Sekulerisme
dan Islam. yang pertama ada sosialis-komunis yang berdasarkan teori Karl Marx
“sejarah dari segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah
sejarah pertikaian antara golongan.” Yang nantinya lebih terkenal dengan
semboyan “sama rata sama rasa” tentu pemikiran yang seperti ini
bertentagan dengan fitrah manusia, ibaratnya
saya bekerja selama 12 jam dan teman saya bekerja selama 8 jam, tapi gaji saya
sama dengan teman saya, missal 1 juta perbulan. Tentu ini bisa dibilang tidak
sesuai dengan fitrah manusia. Dan mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang
ada berasa daripada materi dan jika mai aka berubah kembali menjadi materi. Ini
sangatlah bertentangan baik dengan fitrah manusia maupun dengan akal. Sedangkan
kapitalis-sekulerisme, kapitalisme yang berakidahkah sekularisme yakni
memisahkan agama dari kehidupan menjadikan para penganutnya memiliki tujuan
hidup hanya mengejar materi, materi, dan materi—yup, seperti yang terjadi saat
ini. Tentulah ini juga bertentangan dengan fitrah manusia yang dimana manusia
akan mensucikan sesuatu yang lebih agung daripadanya, yang darimana fitrah ini
apabila ‘ditundukkan’ dengan benar dan sesuai dengan aturan Tuhannya,akan
menjadi suatu kerangka moral yang akan menghasilkan suatu perilaku dimana
perilaku itu akan Nampak dalam kehidupan sosial, ini sudah membuktikan bahwa
selamanya agama tidak dapat dipisahkan dari aturan kehidupan. Yang terakhir ada
Islam, islam bukanlah hanya terkait ibadah spiritual saja tapi islam juga memiliki
segala aturan yang mencakup segala aspek kehidupan yang aturan-aturan tersebut
sangatlah sesuai dengan fitah mansia juga memuaska akal. Karna Islam bukan lah
berasal dari manusia, melainkan Zat yang Maha yang menciptakan kita semua, maka
aturannya pun datang dari Sang Pencipa yang maha tahu atas segala sesuatu
tentang manusia.
Terkait ketiga unsure
tadi untuk menemukan landasan berfikir, bahwa dalam proses pemecahannya
haruslah sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal. Maka hanya islam lah
yang mampu memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Melalui Al-Quran
yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, SAW kita tahu betul apa yag akan menjadi
tujuan hidup kita karna Al-Quran lah pedoman hidup manusia. Dan terjawablah
pertanyaan ini: “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia selain untuk
beribadah kepadaku” (Q.S Az-Zariyat:56)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar