Individualisme
Isme yang satu ini
amatlah berbahaya bagi persatuan dan kesatuan. Seorang yang individualis
menjadikan kehidupan yang ada di dunia hanya ia jalani untuk dirinya sendiri,
hingga tak peduli dengan keadaan sesame yang padahal sedang ditimpa musibah.
Inilah buah daripada nasionalisme tadi, karena berpikiran bahwa kita hanya
harus mengurusi bagian kita. Sedangkan bagian orang lain biarlah menjadi urusan
mereka. Langsung saja pada contoh yang nyata, yakni konflik yang ada di Suriah,
Aleppo khususnya. ketika kita melihat saudara kita sedang dibantai
habis-habisan oleh Bashar Assad, apasih yang kita pikirkan? Weslah biarlah
konflik itu damai dengan senidirinya, karna lam-lama juga pasti damai.
Indonesia kan disini, Aleppo disana ngapain ngurusin yang jauh-jauh. Biarlah
perang yang kini sedang terjadi menjadi tanggung jawab si penindas. Apa itu
yang kita pikirkan?
Selain menyekat-nyekat negara, upaya musuh Islam pun
adalah menyekat-nyekat pemikiran kaum muslim hingga dijadikanlah kaum muslim
saat ini berpikiran sempit. Membuat kaum muslim malas berpikir, malas untuk
menemukan solusi dari segala permasalahan yang ada termasuk konflik yang ada di
Suriah. Padahal banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk mereka. Tapi sekali
lagi, kita terhalang oleh sekat-sekat negara tadi. Berhasil sudah upaya Barat
untuk memecah belah kaum muslim, hingga kini kaum muslim yang ibaratnya satu
tubuh—satu bagian sakit, maka yang lainnya pun terasa sakit. Sudah benar-benar
tidak memedulikan keadaan tubuh yang sedang sakit itu. keadaan dunia pun telah
berubah, maka kita harus semain berbenah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar