Kabsyah
binti Rafi’ ra.
Benar adanya dibalik
lelaki gagah, terdapat wanita hebat. Beliau lah Kabsyah binti Rafi’ ra yang
kematian anaknya mengguncangkan ‘Arsy di langit. Sa’ad bin Muadz adalah
anaknya, beliau adalah tokoh terkemuka di bani Abdul Asyhal. Ketika itu bani
Abdul Asyhal masih diselimuti oleh kegelapan jahiliyah sebelum diutusnya
Mushabbin Umair oleh Rasulullah SAW untuk menyebarkan agama Allah yang haq ini yakni Islam. Madinah
saat itu masih kental sekali dengan sukuisme, mereka tak mau ada satu orang pun
yang memecah belah keturunannya. Termasuk ketika Mushab bin Umair datang ke
daerah bani Abdul Asyhal, kedatangannya disambut oleh kaum Anshar yang sudah
memeluk islam terlebih dahulu. Tapi tentu kedatangannya tak disambut baik oleh
pemuka bani Abdul Asyhal yakni Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Muadz, karna
mereka menganggap kedatangan Mushab adalah salah satu ancaman bagi kaumnya.
Tapi alih-alih ingin mengusir Mushab dari tanahnya, Usaid dan Sa’ad malah ingin
memeluk islam ketika mendengar Mushab yang menyampaikan ajaran-ajaran islam dan
membacakan ayat-ayat Al-Quran. Akhirnya setelah Sa’ad memeluk islam, ia segera
memerintahkan kaumnya untuk berbuat hal yang serupa dengannya seraya berkata
pada kaumnya yang menganggap ia adalah pemimpin mereka ,orang paling baik dalam
menjagahubungan kekeluargaan, memiliki pandangan yang baik dan membawa
keberuntungan bagi kaumnya, “jika memang begitu, maka semua laki-laki dan perempuan
diantara kalian haram berbicara padaku, kecuali jika kalian beriman kepada
Allah dan Rasulnya.” Akhirnya atas dasar kecintaan kaumnya pada pemimpinnya
itu, sebelum matahari terbenam tidak ada satu orang pun dari suku bani Abdul
Asyhal yang belum menyatakan masuk islam. Hal yang demikian bukanlah paksaan,
sebab telah dibuktikan sendiri oleh Sa’ad beserta kaumnya termasuk Kabsyah
setelah mereka memeluk islam mereka merasakan kebahagiaan yang menyeruak dalam
jiwa dan raganya. Itulah islam, agama penyempurna. Semakin kita mencari
kebenarannya semakin terpuaskan akal kita dan membuat kita ingin tahu lebih
lanjut mengenai islam, tapi jika kita tidak merasakan hal yang ddemikian
berarti ada yang salah terkait keislaman kita.
Setelah gelombang islam
telah memenuhi tiap sudut kota Madinah, tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak
diluar sana musuh-musuh islam tepatnya yang ingin memerangi kaum muslim. Karna
mereka menganggap dengan datangnya islam itu membuat orang-orang berpaling dari
kepercayaan nenek moyangnya. Sa’ad bin Muadz menjadi yang terdepan untuk
melawan orang-orang kafir yang ingin menghancurkan islam dan ia menyerahkan
seluruh hidupnya hanya untuk menegakkan menegakkan agama Allah ini, ketika
keimanan yang bergerak serta tekad kuat apalah lagi yang bisa menghalangi?
Kepribadian Sa’ad yang luar biasa itu tentu tercermin dari ajaran ibunya.
Tatkala islam datang memasuki Madinah, Kabsyah atau ummu Sa’ad menjadi orang
pertama yang berbaiat kepada Rasulullah SAW dan beliau adalah wanita yang
memikul amanah agama di atas pundaknya, selalu berharap dapat memperjuangkan
agama ini walaupun harus mengorbankan seluruh harta, anak-anak bahkan nyawanya
sendiri. Salah satu pengorbanannya untuk memperjuangkan agama ini adalah ketika
berlagsungnya perang Uhud banyak kaum muslim yang gugur termasuk salah satu
putra ummu Sa’ad yakni ‘Amr bin Muadz. Tapi kesedihan atas kabar meninggalnya
putranya hilang seketika ketika ummu Sa’ada melihat sosok Rasulullah SAW dan
Rasulullah memberi kabar gembira atas kematian anaknya seraya berkata “wahai
ummu Sa’ad berbahagialah dan sampaikan kabar gembira pada keluarga mereka bahwa
semua yang gugur itu sedang masuk surge secara beriringan. Mereka jugatelah
memberi syafaat pada keluargamereka semua.” Mendengar kabar seperti itu dari lisan
Rasulullah SAW, siapalah yang hendak bersedih hati?
Pun tatkala perang
Khandaq, Sa’ad bin Muadz terkena lemparan panah yang tepat pada urat lenganya
hingga putus. Alhamdulillah Allah masih memberinya umur, dan jika Allah
menghendaki Dia akan memberi kesempatan pada Sa’ad untuk terus berjuang di
jalan Allah. Tapi meskipun demikian, kondisi Sa’ad makin hari makin memburuk
hingga pada saat yang telah ditentukan, Sa’ad kembali menghadap-Nya. Kematian
Sa’ad pun menggoncangkan ‘Arsy Allah, sebagaimana dinyatakan Rasulullah SAW,
“’Arsy Allah yang Maha Pengsih berguncang karna kematian Sa’ad bin Muadz.” Juga
diungkapkan oleh para sahabat ketika mereka mengangkat jenazah Sa’ad, mereka
merasakan keringanan yang luar biasa ringan. Ibnu Umar ra. Berkata “Rasulullah SAW
bersabda,’hamba shalih yang kematiannya mengguncangkan ‘Arsy membuat
pintu-pintu langit terbuka dan 70.000 malaikat hadir untuk mengiringinya.”
Itulah keistimewaan Sa’ad bin Muadz putra dari Kabsyah binti Rafi’ra. Itulah
pengorbanan Kabsyah untuk memperjuangkan agama Allah ini hingga ia ikhlas
kehilangan duaorang putranya. Tapi kehilangan kedua putranya tak membuat surut
semangatnya untuk terus memperjuangkan agama yang haq ini. Rasulullah SAW
berkata, “setiap wanita berdusta dengan tangisannya, kecuali Ummu Sa’ad.”
SUMBER: 35 Sirah
Shahabiyah Nabi karya Mahmud Al Mishri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar