Kapitalisasi
Pada tanggal 21 Desember 2016 kemarin,
berlangsungnya aksi bakar ban Gerakan Akhir Tahun Tolak Kapitalisasi Pendidikan
dan Ciptakan Dewan Mahasiswa oleh Forum Mahasiswa Untirta bersatu. Aksi ini
tepatnya dilaksanakan di depan gedung rekotorat. Sebelumnya aksi ini kerap kali
berlangsung dengan tuntutan yang sama, yakni tolak kapitalisasi pendidikan.
Mahasiswa menolak adanya pungutan liar, jalur masuk haram, fasilitas yang tidak
memadai dan administrasi lainnya yang tidak semestinya dilakukan oleh pihak
manapun termasuk Perguruan Tinggi Negeri. Ya, tepat sekali bahwa hal yang
demikian adalah kapitalisasi. Kapitalisasi sendiri berasal dari bahasa Inggris,
capital yang berarti modal. Kemudian
menadi serapan bahasa Indonesia yaitu capital. Akhiran isasi disini memiliki
makna upaya atau usaha atau proses. Kapitalisasi adalah usaha untuk
mengkapitalkan. Jadi kapitalisasi pendidikan adalah usaha untuk menjadikan
prinsip kapitalisme agar digunakan dalam sector pendidikan. Dari bahasa Inggris
yang berarti capital tadi dapat
disimpulkan bahwa kapitalisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik
modal bisa melakukan usahanya dengan bebas untuk meraup keuntungan
sebesar-besarnya. Peran pemerintah dalam kapitalisme disingkirkan malah dibuat
tunduk olehnya hingga kini pemerintahan diatur oleh para pemilik modal.
Dari aksi ini, kita bisa tahu siapa mendzolimi
siapa. Mahasiswa yang kritis dan maju pemikirannya tentu tidak bisa diam saja
melihat ketidakadilan seperti ini. Namun, sadarkah kalian adanya kapitalisasi
ini berasal dari mana? Apakah kapitalisasi ini ulah tangan-tangan nakal rektor
beserta jajarannya? Asap tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa adanya api
bukan? Pun halnya dalam kasus ini, ulah tangan-tangan nakal rkctor beserta
jajarannya hanyalah dampak daripada api tersebut hingga ini hanyalah menjadi
asap. Jika kita hanya membenahi asap, besar kemungkinankah asap itu akan hilang
tanpa memadamkan penyebab timbulnya asap? Tidak, bukan? Maka jelas, api dari
segala macam permasalahan saat ini adalah kapitalisme. Dan segalanya ini sudah
tersistem dengan amat rapi meski hanya dalam beberapa kurun waktu, kini
perlahan-lahan api itu mulai terlihat akan padam karena banjuran-banjuran
teriakan dari orang-orang yang menuntut
keadilan. Kemunduran demi kemunduran bahkan kehancuran sudah mulai
terasa ketika kapitalisme
bercokol di negeri ini. Tak tanggung-tanggung system ini berdampak pada seluruh
aspek kehidupan termasuk pendidikan tadi.
Saatnya kita sadar dan buka mata kita lebar-lebar
bahwa akar dari segala permasalahan yang ada adalah karena system yang saat ini
diterapkan. Jangan lagi menuntut perubahan yang bersifat parsial saja, tapi
bawalah perubahan yang hakiki. Disaat dunia berubah, di jalan perjuangan ini
kita harus semakin berbenah.
SUMBER: 1. Bidikutama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar