Rabu, 28 Desember 2016

Maulid Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi Muhammad SAW
Bulan Rabiul Awal, bulan yang kita yakini sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan kembali umat muslim merayakannya dalam rangka memperingati. Di Banten sendiri di kota-kota tertentu, perayaan maulid itu begitu luar biasa, karna seperti yang kita tahu Banten adalah tempatnya para ulama dan berbagai tradisi ada di Banten. Setiap maulid Nabi, ibu-ibu di daerah Baros, Pandeglang wajib menyediakan makanan untuk merayakannya, bukan makanan mentahnya tapi makanan yang sudah di masak, maka tak heran banyak ibu-ibu yang begadang untuk masak. Hal yang demikian menjadi wajib adanya bahkan jika ibu-ibu tersebut sedang tidak memiliki uang, maka ia terpaksa untuk berhutang. Uang yang dikeluarkan pun tak sedikit untuk masak-masak, hal yang demikian bagus memang karna akan menjadi ajang untuk berbagi pada sesama. Ada juga tradisi ambil makanan yang ada di tumpeng, siapa yang berhasil mengambilnya maka niscaya itu akan membawa keberkahan. Dengan berbagai tradisi yang ada di berbagai daerah untuk merayakan maulid Nabi, sebenarnya apa sih hakikat daripada memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW?
Ditanyalah Aisyah ra oleh Saad bin Hisyam mengenai akhlak Rasulullah, lalu Aisyah menjawab: sesungguhnya akhlak beliau adalah Al-Qur’an (HR Ahmad) berarti perayaan maulid Nabi Muhammad SAW ini seharusnya menjadi ajang untuk kita semua untuk terus mengingat perjuangan beliau  yang rela mengorbankan waktu, tenaga, harta bahkan jiwa selama 23 tahun di Mekah dan Madinah demi menyampaikan ajaran agama yang haq ini melalui Al-Quran yang bersumber langsung dari Sang Khalik, agar manusia kembali padajalanyang benar danberpegang teguh pada Al-Quran. Selain itu yang paling penting adalah dalam perayaan maulid Nabi Muhammad SAW adalah senantiasa meneladani akhlaknya dan melaksanakan amalan-amalannya. Ya, meneladani akhlaknya berarti meneladani Al-Quran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, karna akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Al-Quran. Tapi berdasarkan fakta yang sudah  dipaparkan di atas, adakah perilaku yang diajarkan oleh Rasul? Ketika ibu-ibu cape memasak dan malah sering terjadi adalahmengakhir-akhirkan shalat bahkan tak jarang meninggalkannya dengan alasan capek, apakah hal yang demikian diajarkan oleh Rasulullah? Juga dalam meganggap datangnya keberkahan dari makanan, bukankah itu bisa dikatakan syirik? Lantas dengan rutinnya perayaan maulid tiap tahunnya, apa sebenarnya maknanya jika nyatanya kita masih belum mengamalkan apa yang daijarkan, bukankah hakikat dari maulid Nabi itu kita semakin meneladani sikap Rasulullah SAW? Tak bisa dipungkiri hal yang demikian karena sudah disingkirkannya Al-Quran dalam kehidupan, Al-Quran hanya dijadikan bahan bacaan belaka sementara hukumnya dicampakkan dan hukumnya diabaikan.
Terbukti pencampakkan al-Quran dari kita yang enggan lagi berhukum dengan al-Quran. Kita malah mengagungkan manusia untuk membuat suatu aturan, padahal manusia amatlah dipenuhi oleh hawa nafsu. Salah satunya adalah dengan berlakunya system demokrasi, demokrasi menempatkan manusia sebagai pihak yang membuat hukum dan undang-undang. Ya, kedaulatan ada di tangan rakyat, katanya. Padahal dalam hal ini jelas sekali Allah berfirman dalam QS Yusuf: 40 “sesungguhnya kewenangan membuat hukum adalah milik Allah, yang telah memerintahkan agar kalian tidak menghambakan diri kecuali kepada-Nya.”

Sesungguhnya peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebagai wujud kecintaan kepada Allah, sebagaimana dalam firman-Nya: “katakalah, “jika kalian benar-benar mencintai Allah ikutilah aku (Muhammad)” (QS Al-Imran: 31). Dan sebagaimana yang Aisyah katakan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Quran, berarti jika kita hendak meneladani sikap Rasulullah adalah ddengan cara megamalkan seluruh isi Al-Quran. Maka kita tidak bisa hanya meneladani sikapnya dalam hal ibadah ritual saja, tapi harus meneladaninya dalam seluruh perilakunya mulai dari akidah, ibadah, kegiatan muamalah dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukun dan pemeritahan. Hal yangdemikian itu diajarkan sepenuhnya oleh Rasulullah SAW. Maka dengan ini kita harus mengembalikan hakikat perayaan maulid Nabi, yakni mengamalkan seluruh isi al-Qur’an karna akhlak Nabi Muhammad SAW adalah al-Quran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar