Maulid
Nabi Muhammad SAW
Bulan Rabiul Awal,
bulan yang kita yakini sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan kembali
umat muslim merayakannya dalam rangka memperingati. Di Banten sendiri di
kota-kota tertentu, perayaan maulid itu begitu luar biasa, karna seperti yang
kita tahu Banten adalah tempatnya para ulama dan berbagai tradisi ada di
Banten. Setiap maulid Nabi, ibu-ibu di daerah Baros, Pandeglang wajib
menyediakan makanan untuk merayakannya, bukan makanan mentahnya tapi makanan
yang sudah di masak, maka tak heran banyak ibu-ibu yang begadang untuk masak. Hal
yang demikian menjadi wajib adanya bahkan jika ibu-ibu tersebut sedang tidak
memiliki uang, maka ia terpaksa untuk berhutang. Uang yang dikeluarkan pun tak
sedikit untuk masak-masak, hal yang demikian bagus memang karna akan menjadi
ajang untuk berbagi pada sesama. Ada juga tradisi ambil makanan yang ada di
tumpeng, siapa yang berhasil mengambilnya maka niscaya itu akan membawa
keberkahan. Dengan berbagai tradisi yang ada di berbagai daerah untuk merayakan
maulid Nabi, sebenarnya apa sih hakikat daripada memperingati Maulid Nabi
Muhammad SAW?
Ditanyalah Aisyah ra
oleh Saad bin Hisyam mengenai akhlak Rasulullah, lalu Aisyah menjawab:
sesungguhnya akhlak beliau adalah Al-Qur’an (HR Ahmad) berarti perayaan maulid
Nabi Muhammad SAW ini seharusnya menjadi ajang untuk kita semua untuk terus
mengingat perjuangan beliau yang rela
mengorbankan waktu, tenaga, harta bahkan jiwa selama 23 tahun di Mekah dan
Madinah demi menyampaikan ajaran agama yang haq ini melalui Al-Quran yang
bersumber langsung dari Sang Khalik, agar manusia kembali padajalanyang benar
danberpegang teguh pada Al-Quran. Selain itu yang paling penting adalah dalam
perayaan maulid Nabi Muhammad SAW adalah senantiasa meneladani akhlaknya dan
melaksanakan amalan-amalannya. Ya, meneladani akhlaknya berarti meneladani
Al-Quran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, karna akhlak Nabi Muhammad SAW
adalah Al-Quran. Tapi berdasarkan fakta yang sudah dipaparkan di atas, adakah perilaku yang
diajarkan oleh Rasul? Ketika ibu-ibu cape memasak dan malah sering terjadi
adalahmengakhir-akhirkan shalat bahkan tak jarang meninggalkannya dengan alasan
capek, apakah hal yang demikian diajarkan oleh Rasulullah? Juga dalam meganggap
datangnya keberkahan dari makanan, bukankah itu bisa dikatakan syirik? Lantas
dengan rutinnya perayaan maulid tiap tahunnya, apa sebenarnya maknanya jika
nyatanya kita masih belum mengamalkan apa yang daijarkan, bukankah hakikat dari
maulid Nabi itu kita semakin meneladani sikap Rasulullah SAW? Tak bisa
dipungkiri hal yang demikian karena sudah disingkirkannya Al-Quran dalam
kehidupan, Al-Quran hanya dijadikan bahan bacaan belaka sementara hukumnya
dicampakkan dan hukumnya diabaikan.
Terbukti pencampakkan
al-Quran dari kita yang enggan lagi berhukum dengan al-Quran. Kita malah
mengagungkan manusia untuk membuat suatu aturan, padahal manusia amatlah
dipenuhi oleh hawa nafsu. Salah satunya adalah dengan berlakunya system
demokrasi, demokrasi menempatkan manusia sebagai pihak yang membuat hukum dan
undang-undang. Ya, kedaulatan ada di tangan rakyat, katanya. Padahal dalam hal
ini jelas sekali Allah berfirman dalam QS Yusuf: 40 “sesungguhnya kewenangan
membuat hukum adalah milik Allah, yang telah memerintahkan agar kalian tidak
menghambakan diri kecuali kepada-Nya.”
Sesungguhnya peringatan
maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebagai wujud kecintaan kepada Allah,
sebagaimana dalam firman-Nya: “katakalah, “jika kalian benar-benar mencintai
Allah ikutilah aku (Muhammad)” (QS Al-Imran: 31). Dan sebagaimana yang Aisyah
katakan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Quran, berarti jika kita hendak
meneladani sikap Rasulullah adalah ddengan cara megamalkan seluruh isi
Al-Quran. Maka kita tidak bisa hanya meneladani sikapnya dalam hal ibadah
ritual saja, tapi harus meneladaninya dalam seluruh perilakunya mulai dari
akidah, ibadah, kegiatan muamalah dalam bidang ekonomi, sosial, politik,
pendidikan, hukun dan pemeritahan. Hal yangdemikian itu diajarkan sepenuhnya
oleh Rasulullah SAW. Maka dengan ini kita harus mengembalikan hakikat perayaan
maulid Nabi, yakni mengamalkan seluruh isi al-Qur’an karna akhlak Nabi Muhammad
SAW adalah al-Quran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar