Hati-hati
Menjaga Hati
“Kamu (umatIslam) adalah umat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan
mencegah yangmunkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Al-Imran:110). Allah telah
berfirman demikian, tapi kenyataannya sudahkan umat muslim saat ini menjadi
umat terbaik? Belum bukan? Berarti ada dua kemungkinan; Allah yang salah atau
manusia yang salah? Kemungkinan yang kedua adalah sangat mungkin karna
mungkinkah Allah salah? Tapi sebelum itu, kita bahas manusia sebagai mahluk
terbaik. Terbaik apanya? Jelas sekali bahwa manusia adalah ciptaanNya yang
paling sempurna, manusia dikaruniai akal oleh Allah dan itulah yang membuat
segala perbedaan dengan mahlukNya yang lain. Selain dikaruniai akal, manusia
pun memiliki hati yang di dalamnya tersimpan iman dan takwa. Berkata Rasulullah
SAW, takwa itu ada disini (sambil menunjuk dadanya) juga berkata Rasulullah SAW
siapa yang hatinya baik, maka perbuatannya baik dan sebaliknya. Tapi sayang
sungguh sayang, sepertiapa yang dikatakan oleh Ustad Abbi Makki dalam
tausyiahnya di damai indonesiaku, hati itu ibaratkan sebuah bola yang ditendang
dan jatuh ke empang. Ketika ada angin bola itu akan berputar mengikuti arah
angin. Pun sama halnya dengan hati, ia mudah berbolak-balik. Berarti benar
adanya bahwa iman seseorang itu naik turun. Tetapi ketika hati kita mau
ditundukkan pada aturan Allah, maka kita pun akan memiliki keyakinan yang kuat.
Tapi sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Hujurat:12
“wahai orang-orang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu dosa…” kita tidak bisa senantiasa menjadikan hati
sebagai tolak ukur untuk melakukan suatu pebuatan. Karna apabila kita hanya
mengandalkan hati apalagi dalam rangka menuju keimanan pada Allah, bisa-bisa
kita berandai-andai terhadap wujud daripada Zat Allah. Bisa-bisa kita
menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan. Maka dalam hal inilah akal berperan
penting, keterbatasan akal akan senantiasa membuat kita tundukkarna
ketidamampuan akal untuk mengindra Zat Allah. Dalam hal menuju keimanan, akal
hanya mampu pada batasan yang dapat di indra untuk membuktikaan adanya Tuhan,
caranya yakni denganmengindra ciptaanNya seperti alam semesta, kehidupan dan
manusia. manusia yang berpikir secaracemerlang menggunakan akalnya, pastilah
akan merasa lemah dan terbatas tatkala ia sudah tidak mampu lagi mengindra hal
yang ketiga tadi. Dari ketundukkannya inilah hadirlah rasa pasrah dan berserah
diri pada sang Khalik, dan inilah yang membuat seseorang beriman.
Maka satu-satunya cara agar hati ini juga iman dan
takwa yang ada di dalamnya tidak naik turun, serahkanlah segalanya pada Sang
Pemilik dan Pembolak-balik Hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar