Rabu, 28 Desember 2016

Hati-hati Menjaga Hati

Hati-hati Menjaga Hati
“Kamu (umatIslam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah yangmunkar, dan beriman kepada Allah…” (QS Al-Imran:110). Allah telah berfirman demikian, tapi kenyataannya sudahkan umat muslim saat ini menjadi umat terbaik? Belum bukan? Berarti ada dua kemungkinan; Allah yang salah atau manusia yang salah? Kemungkinan yang kedua adalah sangat mungkin karna mungkinkah Allah salah? Tapi sebelum itu, kita bahas manusia sebagai mahluk terbaik. Terbaik apanya? Jelas sekali bahwa manusia adalah ciptaanNya yang paling sempurna, manusia dikaruniai akal oleh Allah dan itulah yang membuat segala perbedaan dengan mahlukNya yang lain. Selain dikaruniai akal, manusia pun memiliki hati yang di dalamnya tersimpan iman dan takwa. Berkata Rasulullah SAW, takwa itu ada disini (sambil menunjuk dadanya) juga berkata Rasulullah SAW siapa yang hatinya baik, maka perbuatannya baik dan sebaliknya. Tapi sayang sungguh sayang, sepertiapa yang dikatakan oleh Ustad Abbi Makki dalam tausyiahnya di damai indonesiaku, hati itu ibaratkan sebuah bola yang ditendang dan jatuh ke empang. Ketika ada angin bola itu akan berputar mengikuti arah angin. Pun sama halnya dengan hati, ia mudah berbolak-balik. Berarti benar adanya bahwa iman seseorang itu naik turun. Tetapi ketika hati kita mau ditundukkan pada aturan Allah, maka kita pun akan memiliki keyakinan yang kuat.

Tapi sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Hujurat:12 “wahai orang-orang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…” kita tidak bisa senantiasa menjadikan hati sebagai tolak ukur untuk melakukan suatu pebuatan. Karna apabila kita hanya mengandalkan hati apalagi dalam rangka menuju keimanan pada Allah, bisa-bisa kita berandai-andai terhadap wujud daripada Zat Allah. Bisa-bisa kita menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan. Maka dalam hal inilah akal berperan penting, keterbatasan akal akan senantiasa membuat kita tundukkarna ketidamampuan akal untuk mengindra Zat Allah. Dalam hal menuju keimanan, akal hanya mampu pada batasan yang dapat di indra untuk membuktikaan adanya Tuhan, caranya yakni denganmengindra ciptaanNya seperti alam semesta, kehidupan dan manusia. manusia yang berpikir secaracemerlang menggunakan akalnya, pastilah akan merasa lemah dan terbatas tatkala ia sudah tidak mampu lagi mengindra hal yang ketiga tadi. Dari ketundukkannya inilah hadirlah rasa pasrah dan berserah diri pada sang Khalik, dan inilah yang membuat seseorang beriman.


Maka satu-satunya cara agar hati ini juga iman dan takwa yang ada di dalamnya tidak naik turun, serahkanlah segalanya pada Sang Pemilik dan Pembolak-balik Hati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar