Mengatasi
Anak yang Suka Berbohong
Bisa dikatakan bahwa usia remaja adalah batas akhir
daripada masa kanak-kanak. Dan pada usia inilah akal seorang remaja sudah mulai
matang, dan disini pula lah bimbingan amat diperlukan, agar seseorang bisa
mengenali dan memahami dirinya sendiri, dari pemahaman tentang diri ini
seseorang bisa memutuskan segala sesuatunya berdasar apa yang ia pilih, dan ia
bertanggung jawab atas pilihannya tersebut. Masa remaja identik dengan
kelabilannya, bingung atas segala sesuatu, dan selalu mengandalkan ego di atas
segalanya, merasa paling benar, dan sulit diberitahu karna merasa sudah tahu
segalanya. Tak jarang kita temui banyak remaja yang sering berbohong pada
orangtuanya demi kepentingan mereka sendiri.
Ketika anak sering berbohong, menjadi tantangan
tersendiri untuk para orangtua. Dan tentu kebiasaan buruk ini tak bisa terus
dibiarkan. Maka peran orangtua amatlah besar disini. Bagi para orangtua,
cobalah cari tahu kenapa anak sering berbohong. Karna pasti ada banyak alasan
dibalik kebohongannya itu. Beberapa alasan anak berbohong yakni karna ingin
melindungi dirinya sendiri , bisa juga karna membutuhkan perhatian dari
orangutan dan lingkungan, melindungi teman atau orang lain dari serangan atau
kritikan, bahkan bisa jadi mencontoh orangtua dan perilaku orang di sekitarnya.
Jika kebiasaan berbohong ini terus berlanjut, maka kemungkinan besar anak akan
tumbuh menjadi anak yang tidak jujur dan tak dapat dipercaya..
Kebiasaan berbohong ini bisa diatasi dengan
mempererat hubungan keluarga antara orangtua dan anak. Dan ketika anak memasuki
usia remaja, cara berkomunikasi orangtua kepada anaknya pun tentu haruslah
berbeda, tidak bisa disamakan ketika sang anak masih kecil yang masih harus
‘didikte’ untuk menjalani kehidupan. Jalin komunikasi layaknya kepada seorang
teman, karna saat remaja ia butuh sekali seseorang untuk dijadikannya tempat
mencurahkan seluruh isi hatinya. Sekali lagi peran orangtua amatlah penting,
apa jadinya orangtua tidak berperan dalam hal yang ddemikian urgent ini? pastilah anak akan mencari pelampiasan keluar
yang belum tentu lingkungan luar ‘baik’ kepadanya. Dan ciptakanlah rasa aman
dan nyaman, karena itu merupakan salah satu aspek terpenting untuk menjadikan
anak terbuka. Dan jelaskan pula bahwa segala tindakan akan ada konsekuensinya,
dan dari sini anak bisa diajarkan tentang rasa tanggungjawab.
SUMBER: tulisan Dra(Psi) Zulia Ilmawati dalam
tabloid media umat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar