Kebahagiaan
hakiki
Apasih makna bahagia buat kita? Dapet kado? Juara
kelas? Disayang orangtua? Dan masih bnayak lagi ya. dan tentunya kita punya
standar kebahagiaan masing-masing. Tapi sebelum itu, setelah kita bisa
menyelesaikan 3 simpul besar dalam hidup
tentu kita sudah bisa menemukan tujuan hidup kita, ya beribadah kepada Allah.
So, kita sebgai muslim seharusnya dan semestinya memiliki standar kebahagiaan
yakni sennatiasa mendapatkan ridho Allah. Sehingga bahagia bagi kita adalah
ketika Allah meridhoi segala aktivitas
kita. Setiap detik ada berbagai kejadian dalam tubuh kita mulai dari 8
juta sel dimatikan dalam tubuh kita, dan 8 juta sel yang baru kemudia dihidupka
kembali dalam tubuh kita, setiap detik lahir 4 bayi ke dunia dan setiap
detiknya ada 2 orang yang meninggal dunia. Setiap detiknya 16 juta ton air
menguap dan naik ke langit, setiap detiknya pun 16 juta ton air turun sebagai
air hujan. Begitu tak terhingga nikmat Allah yang sudah kita rasakan ini, tapi
mengapa kita sedikit sekali bersyukur? Untuk kita mensyukuri setiap nikmat
Allah adalah cukup denganmematuhi setiap perintah-Nya dan menjauhi
larangan-Nya. Karena itu merupkan wujud daripada kebahagiaan hakiki.
Adapun segenap aturan dalam ruang lingkup islam yang
musti kita jalani demi meraih ridhonya. Dalam ruang lingkup islam, islam
mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya yang mencakup ibadah ritual yang
berupa penghambaan dan sebagai wujud dari rukun islam. yang kedua islam
mengatur hubungan manusia denga dirinya sendiri yang mencakup akhlak, tata cara
berpakaian, dan terkait pemenuhan keubutuhan jasmani (makan, minum). Yang
ketiga islam mengatur hubungan manusia dengan sesame yang mencakup system
pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Itulah ruang lingkup islam,
islam bukanlah hanya sekedar ibadah ritual saja, tapi islam pun mengatur segala
aspek kehidupan. Dan segenap aturan inilah yang disebut hukum syara yang dalam
pelaksanaannya akan melahirkan perilaku atau perbuatan seseorang.
Kita sebagai muslim harus senantiasa menyandarkan
segala perbuatan kita pada hukum syara karna melalui hukum syara kita bisa
mendapatkan ridho Allah, dan merupakan wujud dari kebahagiaan yang hakiki.
Sebagaimana dalam firman Allah “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan
tidak membaca suatu ayat dari Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu
pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.
Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau
pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar
dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul
mahfuz).” (QS. Yunus [10]: 61).
Dalam
ayat ini Allah mengatakan “Allah akan menjadi saksi” yang artinya Dia akan
senantiasa menyaksikan amal perbuatan kita di dunia, dan di akhirat kelak Allah
akan menghisab perbuatan kita. Dulu para sahabat Rasul pun senantiasa
menanyakan suatu hukum perbuatan sebelum melakukan perbuatan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar