Rabu, 28 Desember 2016

Kebahagiaan Hakiki

Kebahagiaan hakiki
Apasih makna bahagia buat kita? Dapet kado? Juara kelas? Disayang orangtua? Dan masih bnayak lagi ya. dan tentunya kita punya standar kebahagiaan masing-masing. Tapi sebelum itu, setelah kita bisa menyelesaikan 3 simpul besar dalam  hidup tentu kita sudah bisa menemukan tujuan hidup kita, ya beribadah kepada Allah. So, kita sebgai muslim seharusnya dan semestinya memiliki standar kebahagiaan yakni sennatiasa mendapatkan ridho Allah. Sehingga bahagia bagi kita adalah ketika Allah meridhoi segala aktivitas  kita. Setiap detik ada berbagai kejadian dalam tubuh kita mulai dari 8 juta sel dimatikan dalam tubuh kita, dan 8 juta sel yang baru kemudia dihidupka kembali dalam tubuh kita, setiap detik lahir 4 bayi ke dunia dan setiap detiknya ada 2 orang yang meninggal dunia. Setiap detiknya 16 juta ton air menguap dan naik ke langit, setiap detiknya pun 16 juta ton air turun sebagai air hujan. Begitu tak terhingga nikmat Allah yang sudah kita rasakan ini, tapi mengapa kita sedikit sekali bersyukur? Untuk kita mensyukuri setiap nikmat Allah adalah cukup denganmematuhi setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu merupkan wujud daripada kebahagiaan hakiki.
Adapun segenap aturan dalam ruang lingkup islam yang musti kita jalani demi meraih ridhonya. Dalam ruang lingkup islam, islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya yang mencakup ibadah ritual yang berupa penghambaan dan sebagai wujud dari rukun islam. yang kedua islam mengatur hubungan manusia denga dirinya sendiri yang mencakup akhlak, tata cara berpakaian, dan terkait pemenuhan keubutuhan jasmani (makan, minum). Yang ketiga islam mengatur hubungan manusia dengan sesame yang mencakup system pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Itulah ruang lingkup islam, islam bukanlah hanya sekedar ibadah ritual saja, tapi islam pun mengatur segala aspek kehidupan. Dan segenap aturan inilah yang disebut hukum syara yang dalam pelaksanaannya akan melahirkan perilaku atau perbuatan seseorang.
Kita sebagai muslim harus senantiasa menyandarkan segala perbuatan kita pada hukum syara karna melalui hukum syara kita bisa mendapatkan ridho Allah, dan merupakan wujud dari kebahagiaan yang hakiki. Sebagaimana dalam firman Allah “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul mahfuz).”  (QS. Yunus [10]: 61). Dalam ayat ini Allah mengatakan “Allah akan menjadi saksi” yang artinya Dia akan senantiasa menyaksikan amal perbuatan kita di dunia, dan di akhirat kelak Allah akan menghisab perbuatan kita. Dulu para sahabat Rasul pun senantiasa menanyakan suatu hukum perbuatan sebelum melakukan perbuatan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar