Selasa, 06 Desember 2016

Back To Islam, Back To Muslim Identity

“Berikanlah aku 1000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” – Soekarno. Generasi muda adalah asset bangsa di masa mendatang. Generasi muda lah yang akan meneruskan tongkat esafet kepemimpian bangsa ini. Karena pemuda lah yang akan menjadi garda terdepan untuk suatu perubahan. Ingatkah ketika era reformasi, siapakah yang berkontribusi membuat suatu perubahan sampai-sampai menggulingkan suatu pemerintahan? Ya. pemuda lah jawabannya.
“Pergunakanlah yang lima sebelum datang masa lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum masa sibuk mu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu.” (HR. Hakim)
 “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: (salah satunya)…pemuda yang tumbuh dalam ibdah (ketaatan) kepada Allah…” (HR. Bukhari)
“Tidak akan bergeser kaki seorang manusia dari sisi Allah sampai dia ditanya lima perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa digunakan? hartanya, darimana diperoleh dan kemana dibelanjakan? Ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya?” (HR. Tirmidzi)
Dari hadits yang sudah dipaparkan, sangat terbukti bahwa ketika memasuki masa muda, hendaknya kita manfaatkan masa muda kita dengan sebaik-baiknya. Berikanlah kontribusi terbesar untuk suatu perubahan. Mengingat semangat pemuda adalah semagat yang begitu membara dan menggelora. Jangan sampai kita melewatkan masa muda kita dengan sia-sia dan dibiarkan diisi dengan hal yang tidak bermanfaat. Karena masa muda tidak akan datang dua kali, maka berlomba-lomba lah untuk menjadi pemuda yang membawa kepada perubahan yang hakiki. Karena maju mundurnya suatu bangsa sangatlah ditentukan oleh pemudanya.
Tapi melihat fakta saat ini, fakta negeri  dan dunia ini yang sudah tak diragukan lagi menerapkan system kapitalisme-sekulerisme. Dari sisi akidah, dimana kita sebagai generasi muslim sudah benar-benar kehilangan identitasnya.mengaku berakidah Islam, tapi dalam kehidupan sehari-hari menerapkan system sekulerisme tanpa mereka sadari. Ketika membahsa ilmu politik, agama dilarang dibawa-bawa ke dalam topic pembahasan. Ketika kita mempelajari ilmu agama secara mendalam, berpakaian sesuai syariat. Malah dicurigai sebagai teroris, ekstrimis, fanatik. Dan baru-baru ini negeri ini sedang dihebohkan ole kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi beserta pengikutnya yang notabene nya adalah para intelektual. Mereka percaya bahwa dia benar-benar bisa menggandakan uang. Ini membuktikan bahwa masyarakat saat ini lebih percaya kepada figure daripada Tuhannya sendiri. Dari sisi sosial, maraknya kasus pelecehan seksual, perzinahan, seks bebas, dll. Dan pelaku dari kasus tersebut kebanyakan adalah pemuda. Ini membuktikan bahwa moral pemuda saat ini sudah benar-benar sampai pada titik terendah. Dari sisi ekonomi, riba dimana-mana. Korupsi tal tertahankan. Utang Negara semakin bertambah. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Dari sisi politik/pemerintahan, aktivis muda saaat ini sepertinya hanya menginginkan eksistensi semata. Ketika mereka sedang aksi menuntut suatu perubahan, itu hanyalah perubahan yang parsial saja. Dimana seharusnya merekalah yang menjadi pelopor perubahan hakiki untuk umat. Dan jika melihat kursi pemerintahan, adakah dari mereka yang bukan pemilik modal?
Inilah buah dari system Kapitalisme-sekulerisme, melahirkan cetakan-cetakan pemuda yang tidak memiliki identitas, tidak jelas tujuan hidupnya, tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan orang lain. Yang akhirnya mereka lebih mengarah kepada kepentingan individu saja, tidak peduli dengan keadaan sekitar. Memilih diam ketika ada kemungkaran di depan mata. Diam ketika saudara sesama muslim nya yang sedang diserang habis-habisan oleh kafir Barat.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, islam pernah Berjaya selama kurang lebih 1300 tahun lamanya dan hampir menguasai 2/3 dunia. Dan selama itu pula islam benar-benar memimpin dunia dengan segala kegemilangannya. Siapapun yang berada dalam naungan islam benar-benar merasakan kesejahteraan sesungguhnya, Negara bertanggung jawab penuh atas masyarakat. Saking sejahteranya pernah ketika masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz saat pembagian zakat tidak ada rakyatnya yang layak mendapatkan zakat. Dan saat ada 1 keluarga kelaparan, itu dikatakan sebagai krisis pangan. Itulah Negara Islam yang pada masanya menjadi Negara adidaya nomor 1 yang mengalahkan 2 imperium besar, yakni Romawi dan Persia. Segala ilmu pengetahuan dan teknologi berhutang pada islam. Inilah yang terjadi apabila islam diterapkan, terwujudlah Islam rahmatan lil alamin.
Tepat pada tahun 1924 islam benar-benar dihancurkan, ‘ditiadakan’ dari dunia ini, generasinya dihasut agar tergoda dengan kenikmatan dunia. Pelopor pengahancur islam ialah  Mustafa Kemal Attaturk, ia adalah sekutu kafir barat yang turut membantu orang-orang kafir dalam menghancurkan islam. usaha mereka dalam menghancurkan islam ibaratnya ketika kita mau melipat sebuah permadani pastilah kita melipatnya dari bagian samping terdahulu, barulah kita akan sampai ke tengah.
Sesungghunya di dunia ini hanya ada 3 ideologi: Sosialis-Komunis, Kapitalisme-Sekulerisme, dan Islam. yang dimana setiap penganut dari ideology tersebut ingin agar ideology nya diterpkan. Cara termudah untuk menerapkan ideology tersebut adalah denga mendirikan sebuah Negara. Maka sesungguhnya perang di dunia ini tak lain dan tak bukan adlah perang ideology, yang dimana mereka berlomba-lomba agar ideology nya diterapkan. Tak heran ketika islam diterapkan, begitu berambisinya kafir barat sehingga mereka tau apa yang menjadi titik lemahnya orang islam. William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan perdana menteri Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dalam dada pemuda Islam bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan music lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkanlah di hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”
Kini mereka benar-benar berhasil mengahancurkan Islam. melihat fakta yang sudah dipaparkan di awal, mereka berhasil membuat generasi muslim jauh dari agamanya, dan seakan tidak tahu menahu tentang agamanya. Mereka berhasil membuat umat Islam terpecah belah dengan adanya sekat Negara. Menjadikan umat islam benci terhadap saudaranya sendiri, yang mengakibatkan perang sesame muslim.  Sesungguhnya kemunduran suatu bangsa yakni telah terjadinya kemunduran berfikir dalam masyarakat. Yang mengakibatkan kita berfikir secara parsial saja, membuat kita tidak bisa memecahkan suatu permasalahan. Ini terjadi karena akibat dari system yang diterapkan saat ini, pemikiran kita pun disekat-sekat. Dibuat malas untuk mencari sebuah kebenaran.
Untuk mengembalikan pola pikir kita dan agar kita bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada, maka uraikanlah ketiga simpul besar ini:
1.      Darimana kita berasal?
2.      Untuk apa kita hidup?
3.      Akan kemana setelah mati?
Jika kita muslim, pastilah jawaban kita Allah. Tapi pertanyaan seanjutnya, apakah kita benar-benar meyakininya? Apabila kita meyakininya, maka simpul atau permasalaha yang lain akan terurai dengan sendirinya. Maka dari itu kita sebagai hamba Allah, tak peduli kita berasal dari bangas manapun. Sudah semestinya dan sepatutnya kita menerapkan hukum Allah dimanapun berada. Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah: 208
“wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” Maka dari itu, marilah kita memperjuangkan kembali agama ini. Karena percayalah, apabila islam diterapkan kembali, kebangkitan akan benar-benar terwujud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar