A LITTLE FIGHTER
AUTHOR POV
Laailahailaullah
Muhammadarrasulullah. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah. Hanya
percaya akan hal itu, percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah, Nabi
yang terakhir bagi seluruh umat, percaya akan semua janji-Nya, menaati semua
perintah-Nya, menjauhi semua laranga-Nya, menjalani segala sunnah Rasul.
Percayalah..hidupmu akan baik-baik saja. Hidupmu penuh berkah, hidupmu penuh
keikhlasan yang menentramkan hati.
Tapi entah apa yang merasuki hati,
pikiran, dan akal umat sekarang sehingga banyak dari mereka yang ingkar. Banyak
dari mereka yang tidak lagi percaya akan janji-Nya. Padahal, Dia adalah yang
mengatur segala urusan, Dia yang menghidup matikan manusia, Dia yang
mendatangkan rezeki, Dia adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun.
Dia adalah segala Maha. Dia adalah Zat yang dengan hanya mengingat-Nya hati
akan menjadi tenang, tapi beda lagi apabila kita tidak mengahadirkan Dia dalam
setiap kehidupan, beda lagi ketika kita terlalu sibuk memikirkan dunia yang
hanya ladang untuk memperbanyak amal untuk menuju akhirat. Padahal, sungguh
dunia ini tak bernilai di sisi Allah walau sehelai sayap nyamuk pun.
Kita ini seakan lupa bahwa dia Maha
Melihat, Maha Mendengar. Dengan mudahnya kita bermaksiat kepadanya, dengan
mudahnya kita melakukan dosa, seakan amal perbuatan kita tak akan pernah di
hisab oleh-Nya. Semakin kita terlena oleh nikmatnya dunia, semakin kita lupa
pada-Nya. Padahal dulu, kita sering bangun di 1/3 malam, melakukan qiyamullail,
mengadu kepada-Nya atas segala permasalahan hidup kita. Tapi sekarang? Subuh
pun terlewat.
*Ketika Allah rindu dengan tangisnya
di keheningan malam, ketika Allah kangen dengan keluhan mesra dalam rangkaian
doa-doanya, ketika Allah rindu kekhusyu’an dalam shalat-shalatnya, maka segera
‘dikaruniakan’ lah kesulita hidup kepadanya.
(*dikutip dari buku
Ahmad Rifa’I Rif’an
Tuhan, maaf, kami sedang sibuk)
FAQIH POV
Namaku Muhammad Faqih Pasha. Biasa dipanggil Faqih kalau
di sekolah, kalau di rumah dipanggil De
Iki karena aku anak bungsu. Besok, tanggal 21 Maret bersama dengan sekolah ku,
TK Ibu Pertiwi, Aku akan pergi ke Dufan, jalan-jalan akhir semester. Tapi
sayang, Aku tidak jadi pergi, tapi yang teman-teman yang lain jadi pergi. Aku
tidak jadi pergi karena tidak bisa pergi, aku harus menjaga Ibunya, takut
tiba-tiba sakit.
“De
Iki gak apa-apa gak jadi pergi?” Tanya ka Ifa sambil mengelap ingusku karena
habis nangis.
Nama
kakak ku Amatullah Hanifah Pasha, biasa dipanggil Ifa. Ka Ifa masih kelas 1
SMP.
“Iya
gak apa-apa lain kali aja perginya. Iki takut Ibu sakit.” Jawab ku sambil
sesenggukan.
“de
Ifa, de Iki, makan dulu yu. Dari pagi belum makan, nanti sakit loh.” Seru ka
Ina
Ka
Ina, kakak kami. Nama lengkapnya Aminah Muslim Pasha. Dia kelas 3 SMP, dan
sudah diterima di SMK Kimia Analis yang notaben anak-anaknya pintar dan kaya
karena sekolahnya ada di kota. Ka Ina pintar sejak kecil, umur 1 tahun sudah hafal surat Al-Fatihah, sudah
pintar baca Al-Qur’an. Dan dia masuk sekolah itu lewat seleksi raport loh.
“Ibu
mana ka?” Tanya ku kepada ka Ina.
“Ibu
lagi tidur, kasian capek. Tapi Ibu udah makan kok, de Iki tenang aja. Ibu kan
cewe strong, gamungkin sakit!” jawab ka Ina dengan senyum yang dipaksakan.
“de
Iki besok libur dulu berarti yah? Jagain Ibu dulu, belajar di rumah dulu yah.
Besok ka Ina sama ka ifa pulangnya abis dzuhur kok, kan kalo lagi ujian
pulangnya suka cepet.” Ucap ka Ifa
“iya
ka.” Jawab Faqih
Keesokan paginya, kami sekeluarga pergi ke
makam ba’da shubuh. Disini pepohonan sudah tak banyak dan tak terlalu rindang.
Jadi ba’da shubuh sudah terang. Sesampainya di makam, suasana nya sangat
mencekam, dan sedikit menakutkan. Padahal tak usah takut, karena itu akan
menjadi rumah terakhir kita.
“bu,
makam bapak masih basah yah? Tanah dan bunganya masih segar.” Ucapku polos
“iyalah
de, kan baru kemarin bapak dikuburnya.”
“aku
gak ngomong ke ka Ifa lah, akunih nanya ke Ibu.” Jawabku sambil memasang muka
jutek ke ka Ifa
”sudah-sudah
jangan berisik. Sekarang kita berdo’a dulu buat bapak, biar tenang disana dan
biar dijauhkan dari fitnah kubur.” Perintah Ibu untuk mencegah perdebatan
anatara aku dan ka Ifa hehe. Padahal kemarin Ibu terlihat sangat sedih. Tapi
sekarang Ibu sudah seperti biasa lagi. Ah, memang Ibu yang strong!
Sepulang
dari makam, kami semua sarapan bersama A Didin, yang dari malam mengaji di
rumah. A Didin menemani kami di rumah, agar tidak takut dan sepi hehe. Bukan,
remaja masjid disini jika ada yang meninggal akan mengaji d rumah keluarga yang
ditinggalkansampai 40 hari, untuk menemani keluarga yang ditinggalkan dan
sekaligus mendoakan orang yang meninggal.
IFA POV
Omong-omong,
bapakku meninggal karena serangan jantung. Bapakku perokok berat. Padahal
merokok itu hukumnya makruh dalam Islam. Jika ditinggalkan mendapat pahala,
jika dikerjakan tidak apa. Dan Rasulullah.SAW. tidak menyukai hal-hal yang
makruh. Saat bapak meninggal, aku sangat kasihan pada Fiqih, dia masih sangat
kecil kalau boleh dibilang untuk menerima kenyataan itu, dan harusnya hari ini
dia pergi ke Dufan bersama temannya, tapi Fiqih bilang tak apa tak jadi pergi.
Padahal aku tahu sekali dia sangat ingin pergi. Dia sudah menyiapkan segalanya
dari jauh-jauh hari. Dia membuat semacam list, permainan apa saja yang harus
dia naiki jika sudah di Dufan. Tapi takdir berkata lain. Jika Dia sudah
berkehendak, apakah kami bisa mengelakkannya? Tentu tidak, apalagi soal
kematian. Kematian bukanlah suatu pilihan, bukan?
”bu,
Ina dan Ifa berangkat dulu ya. Doakan semoga ujiannya lancar” ucap Ina pada Ibu
sambil salam.
”iya,
pasti Ibu doakan. Jangan lupa berdoa dulu sebelum ujiannya mulai. Yang jujur
ya. Kalo gak jujur nanti jadi koruptor loh.” Itulah nasehat Ibu yang selau ia
sampaikan sebelum kami berangkat sekolah. Utamakan kejujuran dalam keadaan
apapun.
”iya
Ibu, siap! Yaudah bu, Ifa sama ka Ina berangkat ya. De Iki jangan lupa belajar!
Assalamualaikum.”
ORIGINAL POV
Yah
inilah hidup. Walau bapak sudah meninggal, kehidupan akan tetap berjalan,
bukan? Malah, inilah pilihan kita, mau ambil hikmahnya atau tidak dari kejadian
ini. Jangan malah terpuruk dan putus
asa. Mungkin ini adalah musibah bagi keluarga kami, karena bapak, sang tulang
punggung keluarga telah dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Tapi jangan langsung
menganggap musibah adalah suatu hal yang harus diratapi. Bisajadi ini adlah
salah satu bentuk cinta-Nya dan Dia sudah menyiapkan suatu yang lebih baik lagi
dari ini. Seperti kata pepatah, dibalik musibah pasti ada hikmahnya.
Esoknya,
Faqih sudah masuk sekolah. Kangen temen-temen katanya
“Faqih, sehat nak? Ibu gimana? Sehat juga?” bu
Dewi langsung menyambutku dengan pertanyaan begitu aku tiba
“ Faqih sehat saja bu, Ibu juga sehat.”
Jawabku
“Alahamdulillah. Kamu kesini diantar siapa
nak?”
“
sama uwa, tadi pagi uwa datang katanya sekarang tiap pagi uwa mau antar Faqih
ke sekolah, sekalian berangkat kerja katanya.”
“Oh begitu, syukur
deh ya. Ayo masuk kelas, bentar lagi mau bel.”
IFA POV
Faqih anak yang pintar. Pelajaran matematika
yang paling dia sukai. Dan dia sangat tertarik dengan sejarah Islam.
Waktu
berjalan detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan. Tak terasa Faqih
sudah lulus TK, dan dia sekarang sekolah
di SD salah satu kecamatan. Prestasi demi prestasi diraihnya. Faqih mudah dekat
dengan orang baru. Sehingga memudahkannya mencari teman. Hingga pada kelas 4 SD
dia sudah mengikuti lomba antar kecamatan. Karena dari kecil dia sudah diajak
main catur oleh bapak, ia pun sekarang jadi pintar main catur. Sayang, pada
suatu perlombaan dia dikalahkan oleh lawannya yang memang sudah terlatih. Tapi
ia tak menyerah, ia bertekad tahun depan dia harus jadi juara.
Ka
Ina yang juga pandai beradaptasi dengan orang baru, ia pun cukup mudah mendapat
teman di sekolahnya yang baru. Dan juga dia ramah, jadi disukai oleh orang.
Tapi ka Ina tidak mudah terbawa oleh pergaulan anak kota, yang terkenal dengan
mainnya yang selalu ke mall.
Aku
sekarang kelas 9 SMP. Bentar lagi mau ujian nasional. Dan harus memutuskan
segera akan dilanjutkan kemana. Karena
aku suka masak, aku pingin melanjutkan ke SMK yang berbasis pariwisata di kota. Tapi aku kurang
tinggi. Rencana lainnya aku ingin masuk ke sekolah yang sama seperti ka Ina,
sekolah yang memunculkan generasi di bidang analis kimia. Tapi pernah aku
mengikuti tes minat bakat dan nilai analis ku 0. Akhirnya aku masuk ke SMA di
kecamatan, bagus juga. Tapi aku tidak pernah merencanakan masuk kesini. Tapi
yasudahlah, yang penting niatnya mau mencari ilmu, mau ibadah. Karena menuntut
ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim.
Dan
Ibu, ia tetap menjadi wanita yang tegar. Yang kepadanyalah kita menggantung
harap. Kepadanyalah kita harus hormat. Dan dibawah telapak kakinyalah terdapat
surga.
(beberapa tahun kemudian)
Akhirnya
aku sekarang sudah SMA, ka Ina mau naik kelas 3. Dan Faqih, atas kemauannya
sendiri, ia mondok di salah satu pesantren modern di kabupaten. Pingin fokus
pada ilmu agama katanya. Ketertarikan Faqih pada sejarah Islam membuat ia
mengidolakan Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda 21 tahun yang menaklukan
Konstatinopel, kota sumber peradaban, sekaligus sumber kekufuran, menjadi
Negara Islam. Dan dia adalah seorang khalifah Utsmani yang sangat disegani dan
dicintai oleh rakyatnya.
FAQIH POV
“sungguh
kau tak tahu bahwa menegakkan khilafah adalah hukumnya wajib?” tanyaku pada
Hilal dengan herannya
“ya.
Bukankah bapak wakil presiden kita bilang bahwa khilafah hanyalah hayalan?
Memang aku tak mengerti mengapa bapak wapres kita bilang begitu.” Jawab Hilal
yang memang kedengarannya belum paham
“dan
kamu percaya apa yang dikatakannya?” tanyaku greget
“tidak.
Karena tidak ada bukti bahwa itu hanyalah hayalan. Karena para pendahulu kita
sudah membuktikannya dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani.”
“lantas
mengapa kau tak tahu kalau menegakkan khilafah hukumnya wajib?” yah inilah
dunia yang sekarang. Barat sudah menjajah kita kembali. Salah satunya dengan
cara menghilagkan sosok khalifah. Mereka takut ‘dikalahkan’ apabila seluruh
umat muslim bersatu.
“karena
belum ada pemimpin kita yang ingin menegkkan khilafah. Makanya aku tak tahu
kalau khilafah itu wajib.” Jawab Hilal
“hm,
jika aku sudah menjadi pemberani seperti Dr.Zakir Naik aku ingin teriak di
depan orang-orang yang katanya pemimpin itu.” Jawabku sambil memandang langit
“hanya
teriak?” Tanya Hilal tak habis fikir
“
tidak. Sambil mengucapkan apa yang diucapkan oleh Ust. Nurul Dzikri ‘pemimpin
besar lahir dari orang yang benar-benar menjiwai bahwa dia adlah pengikut Nabi
.SAW dan para sahabat’”
AUTHOR POV
Yah itulah Faqih yang sekarang, dia
benar-benar tumbuh menjadi seorang lelaki. Ia belum terlalu paham tentang
agama, tapi dia sudah mampu berpikr kritis tentang masalah apapun dalam negeri.
“yasudah
nanti kita lanjut lagi perbincangan yang cukup berat itu. Sekarang ambil busur
dan anak panahmu. Ayo, kita latihan lagi.”
Faqih
dan Hilal sudah berteman semenjak mereka ada di pesantren. Hilal merupakan
saingan terberat Faqih karena Hilal sangat pandai dalam bidang matematika. Tapi
jika urusan catur Faqih jagonya. Guru-guru di pesantren pun heran mengapa ada
anak yang sangat pandai dalam mengatur strategi itu. Apalagi KH. Ahmad Karaeng,
ia merasa sangat tersaingi oleh Faqih. Karena pernah suatu waktu mereka berdua
beradu catur dan Faqih menang. Dengan lapang dada KH. Ahmad Karaeng menerima
kekalahan itu, dan tentunya ia memberi hadiah berupa sarung untuk Faqih. Selain
karena kemenangan Faqih atas permainan caturnya, KH. Ahmad Karaeng memberi sarung itu denga alas an
karena sarung yang dipakai Faqih sudah terlihat usang. Yah itulah Faqih, jika
ada suatu barang yang sangat sudah nyaman dipakai dia tak akan menggantinya
meskipu sudah usang. Tapi KH.Ahmad Karaeng mengancam akan membuang sarung yang
sudah usang itu jika Faqih tidak memakai sarung pemberiannya haha. KH. Ahmad
Karaeng memang suka mengancam yang aneh-aneh. Tapi dia merupakan guru yang
sangat Faqih hormati dan segani. Banyak pengalaman hidupnya yang bisa dijadikan
pelajaran katanya.
KH. AHMAD KARAENG POV
“Assalamualaikum. Kau sedang rehat nak?”
“Waalaikumsalam. Iya kiyai. Hari ini banyak
mempelajari teknik-teknik baru yang cukup rumit.” Aku cukup senang ketika
mengetahui yang datang adalah KH. Ahmad
“hm,
begitu. Tapi nampaknya sahabat kau yang satu itu tak kenal lelah ya. kau tak takut jika tersaingi oleh dia lagi?” Tanya
Kiyai sambil memandang Hilal
“Hilal?
Kiyai tak tahu saja, dia baru saja rehat tadi kiyai. Itu dia baru mulai lagi”
jawabku sambil tersenyum penuh kemenangan hehe
“oh
begitu. Sok tahu sekali orang tua ini hehe.” KH. Ahmad tertawa kecil dengan
renyahnya. Walau sedang tertawa, kewibaannnya masih jelas terlihat.
“haha tidak juga kiyai.” Aku langsung menimpali
“ah
ya. Nak, kau belajar catur dari siapa? Bagaimana bisa anak kecil sepertimu
mengalahkan ku?” Tanya Kiyai tiba-tiba
“dari
bapakku kiyai. Sejak kecil aku suka diajaknya main catur. Awalnya aku hanya
memperhatikan bapak ketika sedang main dengan temannya. Tapi lama-lama aku jadi
mengerti bagaimana permainan catur itu. Dan sekali mencoba bermain, aku jadi
ketagihan” Faqih menarik nafas, dan memandang langit yang entah sangat cerah
sekali hari ini. Sembari melanjutkan “ Jika bapak masih ada, bapak pasti ingin
main dengan kiyai. Karena menurutku kiyai cukup handal dalam bermain, dan
mempunyai strategi jitu. Kalau kemarin kiyai kalah, kiyai kurang konsentrasi
saja hehe.”
“
ah, begitu. Maafkan orangtua ini membuatmu mengingat masa lalu itu. Pantas saja
kau jadi pandai begini, dari kecil sudah
diajari. Tapi mengapa sekarang kau malah tertarik dengan memanah? Padahal kau
bisa jadi master catur.” Jawab Kiyai sambil sedikt menghiburku
“hm,
yah menjadi master memang jadi cita-citaku. Tapi setelah aku mengidolakan
Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, aku jadi ingin memperjuangkan
Islam di Negeri ini yang dimana pemimpinnya dzalim terhadap rakyatnya. Dan aku
sangat percaya akan janji Allah, bahwa Islam akan bangkit lagi di muka bumi
ini. Makanya aku ingin ikut berjuang.” Jawabku mantap
“subhanallah,
cita-cita yang mulia sekali nak. Selain itu memanah adalah salah satu olahraga
yang disunahkan oleh Rasulullah .SAW.” jawab KH. Ahmad sambil terkagum dengan
cita-citaku. Sambil mengikuti gaya ku yang sedang memandang langit, KH. Ahmad
melanjutkan, “masih teringat sekali cerita pasukan Yenisari yang sangat tangguh
dan terlatih. Dengan keyakinan yang penuh, tekad yang kuat, dan dengan niat
jihad fiisabilillah. Mereka mebidik anak panah dengan mantap untuk
mengahncurkan pasukan Vlad II untuk merebut kembali Hungaria. Dan tentunya
dengan bantuan Allah mereka semua berhasil merebut Hungaria menjadi Negara
Islam.” KH. Ahmad menceritakannya selalu dengan senyum yang menenangkan. “dank
kau tahu nak apa yang membuat Muhammad Al-Fatih bisa menaklukan
Konstantinopel?”
Penjelasan
Kiyai memang selalu singkat, tapi anehnya selalu membekas
“apa itu kiyai?”
tanyaku penasaran
“
akidah yang kuat, tekad yang kuat, dan keimanan yang kuat.” Jawab KH. Ahmad
sambil menatapku. “aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak. inshaAllah,
Allah akan senantiasa membantumu untuk menegakkan kembali Agama yang hanya di
ridhoi oleh-Nya, yaitu Islam.” jawab Kiyai dengan segala kewibaannya
“Aamiin
kiyai. Terimakasih telah senantiasa ada untukku, dan mendukungku.” Tersenyum
aku sambil meng Aamiini doa Kiyai
“bukankah
itu memang sudah tugasku? Ah, yasudah, sana kembali latihan lagi. Maafkan
orangtua ini yang sudah mengganggu jam istirahat mu.” Ucap Kiyai sambil hendak
beranjak
“taka
apa kiyai. Berbincang dengan kiyai selalu ada manfaatnya, selalu ada pelajaran
yang bisa diambil. Yasudah, Faqih latihan dulu kiyai. Assalamualaikum.” Pamit
ku sambil mencium telapak tangannya. Tanda hormat
“Waalaikumsalam
warrahmatullahi wabaraakatuh.” Kiyai menjawab salam ku dengan hidmat dan
tentunya dengan sepoles senyuman yang menenangkan
FAQIH POV
Cita-citaku yang sekarang adalah memperjuangkan agama
yang benar ini di muka bumi, ya, Islam. Islam adalah agama yang benar.
Satu-satu nya agama yang diridhoi oleh Allah. Segala aspek kehidupan ada di
Islam. segala urusan kehidupan baik sejarah atau ekonomi diatur segalanya dalam
Islam, yaitu melalui kitab nya umat muslim, Al-Qur’an Nul Kariim. Setiap orang
pasti ingin berjuang. Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan, bukan?
“hei
Faqih!” Hilal memanggilku dari ujung lab.komputer dengan teriakannya yang masih
merdu. Karena Hilal juga adlah seorang muadzin loh. Dia sangat terinspirasi
oleh Bilal, sahabat Rasulullah .SAW. yang pertama kali mengumandangkan azan,
dan dia rela mati demi membela agamanya.
“ada
apa Hilal?” jawabku dengan bingung karena melihat muka panik Hilal yang datang
dengan tiba-tiba sambil berlarian menghampiriku
“kau!
Kau! Kau dapat beasiswa ke Inggris Faqih!” ucap Hilal antusias sambil masih
ngos-ngosan karena habis berlari
“hah?
Aku tak pernah mendaftar beasiswa itu, Hilal. Memang itu beasiswa untuk apa?”
Jawabku heran setengah mati. Karena memang aku sama sekali tak tahu ada
beasiswa ke Inggris. “sekarang kau taarik nafas dulu, atur nafasnya. Dan mari
kita duduk, bicarakan ini secara
perlahan agar aku mengerti.” Aku membawa Hilal ke tempat duduk terdekat
“haaah,
sebentar..” Hilal masih mengatur nafasnya. “jadi gini Faqih..” sekarang nafas
Hilal sudah terdengar sedikit teratur “beasiswa itu memang ditujukkan untuk
para senior kita di kelas memanah. Setiap tahunnya memang selalu ada beasiswa
itu. Beasiswa ini sebenarnya semacam pertukaran pelajar, hanya saja dikhusukan
untuk para pemanah muda.”
“mengapa
harus para pemanah?” jawabku masih bingung “dan aku ini masih junior, Hilal”
“Inggris
itukan termasuk salah satu Negara yang perkembangan Islamnya cukup pesat. Dan
mereka tahu bahwa ternyata dan seharusnya di muka bumi ini semestinya hanya ada
1 khalifah. Dan untuk itu, mereka ingin berjuang untuk menegakkan khilafah di
muka bumi ini. Menerapkan Islam di segala aspek kehidupan. Dan seperti yang
sudah KH. Ahmad sampaikan, memanah adalah salah satu olahraga yang disunahkan
oleh Rasul. Jadi mereka ingin berjuang melalui itu yang inshaAllah mereka ini
akan menjadi para Ghazi (tentara).”
Hilal
tarik nafas sejenak dan melanjutkan, “KH. Ahmad Karaeng yang mendaftarkanmu.
Bagaimana? Ini salah satu cita-citamu bukan? Kejarlah cita-citamu yang mulia
itu Faqih.” Sambil tersenyum Hilal berkata, “tenang, nanti aku menyusul!”
AUTHOR POV
Ada sebuah kisah menarik. Pada suatu hari, seorang lelaki
bertanya kepada Imam Hasan Al-Bashri, “sesungguhnya aku melakukan banyak dosa.
Tapi ternyata rezeki ku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari
sebelumnya.”
Sang
Imam lantas bertanya, “Apakah semalam engkau melaksanakan qiyamullail?”
Lelaki
itu menjawab, “Tidak.”
Dengan
kalimat bijak, Imam Hasa Al-Bashri menasehatkan pada lelaki tersebut,
“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua mahluk yang berbuat dosa
dengan memutus rezekinya, maka semua manusia di muka bumi ini sudah habis
binasa. Sungguh dunia ini tak bernilai di sisi Allah walau sehelai sayap
nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rezeki bahkan pada orang kufur sekalipun
kepada-Nya. Adapun kita orang mukmin, hukuman atas dosa adalah terputusnya
kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar