Rabu, 28 Desember 2016

A Little Fighter


A LITTLE FIGHTER
AUTHOR POV
                Laailahailaullah Muhammadarrasulullah. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah. Hanya percaya akan hal itu, percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah, Nabi yang terakhir bagi seluruh umat, percaya akan semua janji-Nya, menaati semua perintah-Nya, menjauhi semua laranga-Nya, menjalani segala sunnah Rasul. Percayalah..hidupmu akan baik-baik saja. Hidupmu penuh berkah, hidupmu penuh keikhlasan yang menentramkan hati.
            Tapi entah apa yang merasuki hati, pikiran, dan akal umat sekarang sehingga banyak dari mereka yang ingkar. Banyak dari mereka yang tidak lagi percaya akan janji-Nya. Padahal, Dia adalah yang mengatur segala urusan, Dia yang menghidup matikan manusia, Dia yang mendatangkan rezeki, Dia adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun. Dia adalah segala Maha. Dia adalah Zat yang dengan hanya mengingat-Nya hati akan menjadi tenang, tapi beda lagi apabila kita tidak mengahadirkan Dia dalam setiap kehidupan, beda lagi ketika kita terlalu sibuk memikirkan dunia yang hanya ladang untuk memperbanyak amal untuk menuju akhirat. Padahal, sungguh dunia ini tak bernilai di sisi Allah walau sehelai sayap nyamuk pun.
            Kita ini seakan lupa bahwa dia Maha Melihat, Maha Mendengar. Dengan mudahnya kita bermaksiat kepadanya, dengan mudahnya kita melakukan dosa, seakan amal perbuatan kita tak akan pernah di hisab oleh-Nya. Semakin kita terlena oleh nikmatnya dunia, semakin kita lupa pada-Nya. Padahal dulu, kita sering bangun di 1/3 malam, melakukan qiyamullail, mengadu kepada-Nya atas segala permasalahan hidup kita. Tapi sekarang? Subuh pun terlewat.
            *Ketika Allah rindu dengan tangisnya di keheningan malam, ketika Allah kangen dengan keluhan mesra dalam rangkaian doa-doanya, ketika Allah rindu kekhusyu’an dalam shalat-shalatnya, maka segera ‘dikaruniakan’ lah kesulita hidup kepadanya.

(*dikutip dari buku Ahmad Rifa’I Rif’an Tuhan, maaf, kami sedang sibuk)


FAQIH POV
            Namaku Muhammad Faqih Pasha. Biasa dipanggil Faqih kalau di sekolah, kalau di rumah  dipanggil De Iki karena aku anak bungsu. Besok, tanggal 21 Maret bersama dengan sekolah ku, TK Ibu Pertiwi, Aku akan pergi ke Dufan, jalan-jalan akhir semester. Tapi sayang, Aku tidak jadi pergi, tapi yang teman-teman yang lain jadi pergi. Aku tidak jadi pergi karena tidak bisa pergi, aku harus menjaga Ibunya, takut tiba-tiba sakit.
“De Iki gak apa-apa gak jadi pergi?” Tanya ka Ifa sambil mengelap ingusku karena habis nangis.
Nama kakak ku Amatullah Hanifah Pasha, biasa dipanggil Ifa. Ka Ifa masih kelas 1 SMP.
“Iya gak apa-apa lain kali aja perginya. Iki takut Ibu sakit.” Jawab ku sambil sesenggukan.
“de Ifa, de Iki, makan dulu yu. Dari pagi belum makan, nanti sakit loh.” Seru ka Ina
Ka Ina, kakak kami. Nama lengkapnya Aminah Muslim Pasha. Dia kelas 3 SMP, dan sudah diterima di SMK Kimia Analis yang notaben anak-anaknya pintar dan kaya karena sekolahnya ada di kota. Ka Ina pintar sejak kecil, umur 1  tahun sudah hafal surat Al-Fatihah, sudah pintar baca Al-Qur’an. Dan dia masuk sekolah itu lewat seleksi raport loh.
“Ibu mana ka?” Tanya ku kepada ka Ina.
“Ibu lagi tidur, kasian capek. Tapi Ibu udah makan kok, de Iki tenang aja. Ibu kan cewe strong, gamungkin sakit!” jawab ka Ina dengan senyum yang dipaksakan.
“de Iki besok libur dulu berarti yah? Jagain Ibu dulu, belajar di rumah dulu yah. Besok ka Ina sama ka ifa pulangnya abis dzuhur kok, kan kalo lagi ujian pulangnya suka cepet.” Ucap ka Ifa
“iya ka.” Jawab Faqih
 Keesokan paginya, kami sekeluarga pergi ke makam ba’da shubuh. Disini pepohonan sudah tak banyak dan tak terlalu rindang. Jadi ba’da shubuh sudah terang. Sesampainya di makam, suasana nya sangat mencekam, dan sedikit menakutkan. Padahal tak usah takut, karena itu akan menjadi rumah terakhir kita.
“bu, makam bapak masih basah yah? Tanah dan bunganya masih segar.” Ucapku polos
“iyalah de, kan baru kemarin bapak dikuburnya.”
“aku gak ngomong ke ka Ifa lah, akunih nanya ke Ibu.” Jawabku sambil memasang muka jutek ke ka Ifa
”sudah-sudah jangan berisik. Sekarang kita berdo’a dulu buat bapak, biar tenang disana dan biar dijauhkan dari fitnah kubur.” Perintah Ibu untuk mencegah perdebatan anatara aku dan ka Ifa hehe. Padahal kemarin Ibu terlihat sangat sedih. Tapi sekarang Ibu sudah seperti biasa lagi. Ah, memang Ibu yang strong!
Sepulang dari makam, kami semua sarapan bersama A Didin, yang dari malam mengaji di rumah. A Didin menemani kami di rumah, agar tidak takut dan sepi hehe. Bukan, remaja masjid disini jika ada yang meninggal akan mengaji d rumah keluarga yang ditinggalkansampai 40 hari, untuk menemani keluarga yang ditinggalkan dan sekaligus mendoakan orang yang meninggal.
IFA POV
Omong-omong, bapakku meninggal karena serangan jantung. Bapakku perokok berat. Padahal merokok itu hukumnya makruh dalam Islam. Jika ditinggalkan mendapat pahala, jika dikerjakan tidak apa. Dan Rasulullah.SAW. tidak menyukai hal-hal yang makruh. Saat bapak meninggal, aku sangat kasihan pada Fiqih, dia masih sangat kecil kalau boleh dibilang untuk menerima kenyataan itu, dan harusnya hari ini dia pergi ke Dufan bersama temannya, tapi Fiqih bilang tak apa tak jadi pergi. Padahal aku tahu sekali dia sangat ingin pergi. Dia sudah menyiapkan segalanya dari jauh-jauh hari. Dia membuat semacam list, permainan apa saja yang harus dia naiki jika sudah di Dufan. Tapi takdir berkata lain. Jika Dia sudah berkehendak, apakah kami bisa mengelakkannya? Tentu tidak, apalagi soal kematian. Kematian bukanlah suatu pilihan, bukan?
”bu, Ina dan Ifa berangkat dulu ya. Doakan semoga ujiannya lancar” ucap Ina pada Ibu sambil salam.
”iya, pasti Ibu doakan. Jangan lupa berdoa dulu sebelum ujiannya mulai. Yang jujur ya. Kalo gak jujur nanti jadi koruptor loh.” Itulah nasehat Ibu yang selau ia sampaikan sebelum kami berangkat sekolah. Utamakan kejujuran dalam keadaan apapun.
”iya Ibu, siap! Yaudah bu, Ifa sama ka Ina berangkat ya. De Iki jangan lupa belajar! Assalamualaikum.”





ORIGINAL POV
Yah inilah hidup. Walau bapak sudah meninggal, kehidupan akan tetap berjalan, bukan? Malah, inilah pilihan kita, mau ambil hikmahnya atau tidak dari kejadian ini.  Jangan malah terpuruk dan putus asa. Mungkin ini adalah musibah bagi keluarga kami, karena bapak, sang tulang punggung keluarga telah dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Tapi jangan langsung menganggap musibah adalah suatu hal yang harus diratapi. Bisajadi ini adlah salah satu bentuk cinta-Nya dan Dia sudah menyiapkan suatu yang lebih baik lagi dari ini. Seperti kata pepatah, dibalik musibah pasti ada hikmahnya.
Esoknya, Faqih sudah masuk sekolah. Kangen temen-temen katanya
 “Faqih, sehat nak? Ibu gimana? Sehat juga?” bu Dewi langsung menyambutku dengan pertanyaan begitu aku tiba
 “ Faqih sehat saja bu, Ibu juga sehat.” Jawabku
 “Alahamdulillah. Kamu kesini diantar siapa nak?”  
“ sama uwa, tadi pagi uwa datang katanya sekarang tiap pagi uwa mau antar Faqih ke sekolah, sekalian berangkat kerja katanya.”
 “Oh begitu, syukur deh ya. Ayo masuk kelas, bentar lagi mau bel.”
IFA POV
 Faqih anak yang pintar. Pelajaran matematika yang paling dia sukai. Dan dia sangat tertarik dengan sejarah Islam.
Waktu berjalan detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan. Tak terasa Faqih sudah lulus TK, dan dia  sekarang sekolah di SD salah satu kecamatan. Prestasi demi prestasi diraihnya. Faqih mudah dekat dengan orang baru. Sehingga memudahkannya mencari teman. Hingga pada kelas 4 SD dia sudah mengikuti lomba antar kecamatan. Karena dari kecil dia sudah diajak main catur oleh bapak, ia pun sekarang jadi pintar main catur. Sayang, pada suatu perlombaan dia dikalahkan oleh lawannya yang memang sudah terlatih. Tapi ia tak menyerah, ia bertekad tahun depan dia harus jadi juara.
Ka Ina yang juga pandai beradaptasi dengan orang baru, ia pun cukup mudah mendapat teman di sekolahnya yang baru. Dan juga dia ramah, jadi disukai oleh orang. Tapi ka Ina tidak mudah terbawa oleh pergaulan anak kota, yang terkenal dengan mainnya yang selalu ke mall.
Aku sekarang kelas 9 SMP. Bentar lagi mau ujian nasional. Dan harus memutuskan segera akan dilanjutkan kemana.  Karena aku suka masak, aku pingin melanjutkan ke SMK yang  berbasis pariwisata di kota. Tapi aku kurang tinggi. Rencana lainnya aku ingin masuk ke sekolah yang sama seperti ka Ina, sekolah yang memunculkan generasi di bidang analis kimia. Tapi pernah aku mengikuti tes minat bakat dan nilai analis ku 0. Akhirnya aku masuk ke SMA di kecamatan, bagus juga. Tapi aku tidak pernah merencanakan masuk kesini. Tapi yasudahlah, yang penting niatnya mau mencari ilmu, mau ibadah. Karena menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim.
Dan Ibu, ia tetap menjadi wanita yang tegar. Yang kepadanyalah kita menggantung harap. Kepadanyalah kita harus hormat. Dan dibawah telapak kakinyalah terdapat surga.
(beberapa tahun kemudian)
Akhirnya aku sekarang sudah SMA, ka Ina mau naik kelas 3. Dan Faqih, atas kemauannya sendiri, ia mondok di salah satu pesantren modern di kabupaten. Pingin fokus pada ilmu agama katanya. Ketertarikan Faqih pada sejarah Islam membuat ia mengidolakan Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda 21 tahun yang menaklukan Konstatinopel, kota sumber peradaban, sekaligus sumber kekufuran, menjadi Negara Islam. Dan dia adalah seorang khalifah Utsmani yang sangat disegani dan dicintai oleh rakyatnya.
FAQIH POV
“sungguh kau tak tahu bahwa menegakkan khilafah adalah hukumnya wajib?” tanyaku pada Hilal dengan herannya
“ya. Bukankah bapak wakil presiden kita bilang bahwa khilafah hanyalah hayalan? Memang aku tak mengerti mengapa bapak wapres kita bilang begitu.” Jawab Hilal yang memang kedengarannya belum paham
“dan kamu percaya apa yang dikatakannya?” tanyaku greget
“tidak. Karena tidak ada bukti bahwa itu hanyalah hayalan. Karena para pendahulu kita sudah membuktikannya dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani.”
“lantas mengapa kau tak tahu kalau menegakkan khilafah hukumnya wajib?” yah inilah dunia yang sekarang. Barat sudah menjajah kita kembali. Salah satunya dengan cara menghilagkan sosok khalifah. Mereka takut ‘dikalahkan’ apabila seluruh umat muslim bersatu.
“karena belum ada pemimpin kita yang ingin menegkkan khilafah. Makanya aku tak tahu kalau khilafah itu wajib.” Jawab Hilal
“hm, jika aku sudah menjadi pemberani seperti Dr.Zakir Naik aku ingin teriak di depan orang-orang yang katanya pemimpin itu.” Jawabku sambil memandang langit
“hanya teriak?” Tanya Hilal tak habis fikir
“ tidak. Sambil mengucapkan apa yang diucapkan oleh Ust. Nurul Dzikri ‘pemimpin besar lahir dari orang yang benar-benar menjiwai bahwa dia adlah pengikut Nabi .SAW dan para sahabat’”
AUTHOR POV
 Yah itulah Faqih yang sekarang, dia benar-benar tumbuh menjadi seorang lelaki. Ia belum terlalu paham tentang agama, tapi dia sudah mampu berpikr kritis tentang masalah apapun dalam negeri.
“yasudah nanti kita lanjut lagi perbincangan yang cukup berat itu. Sekarang ambil busur dan anak panahmu. Ayo, kita latihan lagi.”
Faqih dan Hilal sudah berteman semenjak mereka ada di pesantren. Hilal merupakan saingan terberat Faqih karena Hilal sangat pandai dalam bidang matematika. Tapi jika urusan catur Faqih jagonya. Guru-guru di pesantren pun heran mengapa ada anak yang sangat pandai dalam mengatur strategi itu. Apalagi KH. Ahmad Karaeng, ia merasa sangat tersaingi oleh Faqih. Karena pernah suatu waktu mereka berdua beradu catur dan Faqih menang. Dengan lapang dada KH. Ahmad Karaeng menerima kekalahan itu, dan tentunya ia memberi hadiah berupa sarung untuk Faqih. Selain karena kemenangan Faqih atas permainan caturnya, KH. Ahmad  Karaeng memberi sarung itu denga alas an karena sarung yang dipakai Faqih sudah terlihat usang. Yah itulah Faqih, jika ada suatu barang yang sangat sudah nyaman dipakai dia tak akan menggantinya meskipu sudah usang. Tapi KH.Ahmad Karaeng mengancam akan membuang sarung yang sudah usang itu jika Faqih tidak memakai sarung pemberiannya haha. KH. Ahmad Karaeng memang suka mengancam yang aneh-aneh. Tapi dia merupakan guru yang sangat Faqih hormati dan segani. Banyak pengalaman hidupnya yang bisa dijadikan pelajaran katanya.
KH. AHMAD KARAENG POV
 “Assalamualaikum. Kau sedang rehat nak?”
 “Waalaikumsalam. Iya kiyai. Hari ini banyak mempelajari teknik-teknik baru yang cukup rumit.” Aku cukup senang ketika mengetahui yang datang adalah KH. Ahmad
“hm, begitu. Tapi nampaknya sahabat kau yang satu itu tak kenal lelah ya. kau  tak takut jika tersaingi oleh dia lagi?” Tanya Kiyai sambil memandang Hilal
“Hilal? Kiyai tak tahu saja, dia baru saja rehat tadi kiyai. Itu dia baru mulai lagi” jawabku sambil tersenyum penuh kemenangan hehe
“oh begitu. Sok tahu sekali orang tua ini hehe.” KH. Ahmad tertawa kecil dengan renyahnya. Walau sedang tertawa, kewibaannnya masih jelas terlihat.
“haha tidak juga kiyai.” Aku langsung menimpali
“ah ya. Nak, kau belajar catur dari siapa? Bagaimana bisa anak kecil sepertimu mengalahkan ku?” Tanya Kiyai tiba-tiba
“dari bapakku kiyai. Sejak kecil aku suka diajaknya main catur. Awalnya aku hanya memperhatikan bapak ketika sedang main dengan temannya. Tapi lama-lama aku jadi mengerti bagaimana permainan catur itu. Dan sekali mencoba bermain, aku jadi ketagihan” Faqih menarik nafas, dan memandang langit yang entah sangat cerah sekali hari ini. Sembari melanjutkan “ Jika bapak masih ada, bapak pasti ingin main dengan kiyai. Karena menurutku kiyai cukup handal dalam bermain, dan mempunyai strategi jitu. Kalau kemarin kiyai kalah, kiyai kurang konsentrasi saja hehe.”
“ ah, begitu. Maafkan orangtua ini membuatmu mengingat masa lalu itu. Pantas saja kau  jadi pandai begini, dari kecil sudah diajari. Tapi mengapa sekarang kau malah tertarik dengan memanah? Padahal kau bisa jadi master catur.” Jawab Kiyai sambil sedikt menghiburku
“hm, yah menjadi master memang jadi cita-citaku. Tapi setelah aku mengidolakan Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, aku jadi ingin memperjuangkan Islam di Negeri ini yang dimana pemimpinnya dzalim terhadap rakyatnya. Dan aku sangat percaya akan janji Allah, bahwa Islam akan bangkit lagi di muka bumi ini. Makanya aku ingin ikut berjuang.” Jawabku mantap
“subhanallah, cita-cita yang mulia sekali nak. Selain itu memanah adalah salah satu olahraga yang disunahkan oleh Rasulullah .SAW.” jawab KH. Ahmad sambil terkagum dengan cita-citaku. Sambil mengikuti gaya ku yang sedang memandang langit, KH. Ahmad melanjutkan, “masih teringat sekali cerita pasukan Yenisari yang sangat tangguh dan terlatih. Dengan keyakinan yang penuh, tekad yang kuat, dan dengan niat jihad fiisabilillah. Mereka mebidik anak panah dengan mantap untuk mengahncurkan pasukan Vlad II untuk merebut kembali Hungaria. Dan tentunya dengan bantuan Allah mereka semua berhasil merebut Hungaria menjadi Negara Islam.” KH. Ahmad menceritakannya selalu dengan senyum yang menenangkan. “dank kau tahu nak apa yang membuat Muhammad Al-Fatih bisa menaklukan Konstantinopel?”
Penjelasan Kiyai memang selalu singkat, tapi anehnya selalu membekas
 “apa itu kiyai?” tanyaku penasaran
“ akidah yang kuat, tekad yang kuat, dan keimanan yang kuat.” Jawab KH. Ahmad sambil menatapku. “aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak. inshaAllah, Allah akan senantiasa membantumu untuk menegakkan kembali Agama yang hanya di ridhoi oleh-Nya, yaitu Islam.” jawab Kiyai dengan segala kewibaannya
“Aamiin kiyai. Terimakasih telah senantiasa ada untukku, dan mendukungku.” Tersenyum aku sambil meng Aamiini doa Kiyai
“bukankah itu memang sudah tugasku? Ah, yasudah, sana kembali latihan lagi. Maafkan orangtua ini yang sudah mengganggu jam istirahat mu.” Ucap Kiyai sambil hendak beranjak
“taka apa kiyai. Berbincang dengan kiyai selalu ada manfaatnya, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Yasudah, Faqih latihan dulu kiyai. Assalamualaikum.” Pamit ku sambil mencium telapak tangannya. Tanda hormat
“Waalaikumsalam warrahmatullahi wabaraakatuh.” Kiyai menjawab salam ku dengan hidmat dan tentunya dengan sepoles senyuman yang menenangkan
FAQIH POV
            Cita-citaku yang sekarang adalah memperjuangkan agama yang benar ini di muka bumi, ya, Islam. Islam adalah agama yang benar. Satu-satu nya agama yang diridhoi oleh Allah. Segala aspek kehidupan ada di Islam. segala urusan kehidupan baik sejarah atau ekonomi diatur segalanya dalam Islam, yaitu melalui kitab nya umat muslim, Al-Qur’an Nul Kariim. Setiap orang pasti ingin berjuang. Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan, bukan?
“hei Faqih!” Hilal memanggilku dari ujung lab.komputer dengan teriakannya yang masih merdu. Karena Hilal juga adlah seorang muadzin loh. Dia sangat terinspirasi oleh Bilal, sahabat Rasulullah .SAW. yang pertama kali mengumandangkan azan, dan dia rela mati demi membela agamanya.
“ada apa Hilal?” jawabku dengan bingung karena melihat muka panik Hilal yang datang dengan tiba-tiba sambil berlarian menghampiriku
“kau! Kau! Kau dapat beasiswa ke Inggris Faqih!” ucap Hilal antusias sambil masih ngos-ngosan karena habis berlari
“hah? Aku tak pernah mendaftar beasiswa itu, Hilal. Memang itu beasiswa untuk apa?” Jawabku heran setengah mati. Karena memang aku sama sekali tak tahu ada beasiswa ke Inggris. “sekarang kau taarik nafas dulu, atur nafasnya. Dan mari kita duduk, bicarakan ini  secara perlahan agar aku mengerti.” Aku membawa Hilal ke tempat duduk terdekat
“haaah, sebentar..” Hilal masih mengatur nafasnya. “jadi gini Faqih..” sekarang nafas Hilal sudah terdengar sedikit teratur “beasiswa itu memang ditujukkan untuk para senior kita di kelas memanah. Setiap tahunnya memang selalu ada beasiswa itu. Beasiswa ini sebenarnya semacam pertukaran pelajar, hanya saja dikhusukan untuk para pemanah muda.”
“mengapa harus para pemanah?” jawabku masih bingung “dan aku ini masih junior, Hilal”
“Inggris itukan termasuk salah satu Negara yang perkembangan Islamnya cukup pesat. Dan mereka tahu bahwa ternyata dan seharusnya di muka bumi ini semestinya hanya ada 1 khalifah. Dan untuk itu, mereka ingin berjuang untuk menegakkan khilafah di muka bumi ini. Menerapkan Islam di segala aspek kehidupan. Dan seperti yang sudah KH. Ahmad sampaikan, memanah adalah salah satu olahraga yang disunahkan oleh Rasul. Jadi mereka ingin berjuang melalui itu yang inshaAllah mereka ini akan menjadi para Ghazi (tentara).”
Hilal tarik nafas sejenak dan melanjutkan, “KH. Ahmad Karaeng yang mendaftarkanmu. Bagaimana? Ini salah satu cita-citamu bukan? Kejarlah cita-citamu yang mulia itu Faqih.” Sambil tersenyum Hilal berkata, “tenang, nanti aku menyusul!”
AUTHOR POV
            Ada sebuah kisah menarik. Pada suatu hari, seorang lelaki bertanya kepada Imam Hasan Al-Bashri, “sesungguhnya aku melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rezeki ku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”
Sang Imam lantas bertanya, “Apakah semalam engkau melaksanakan qiyamullail?”
Lelaki itu menjawab, “Tidak.”
Dengan kalimat bijak, Imam Hasa Al-Bashri menasehatkan pada lelaki tersebut, “Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua mahluk yang berbuat dosa dengan memutus rezekinya, maka semua manusia di muka bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak bernilai di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rezeki bahkan pada orang kufur sekalipun kepada-Nya. Adapun kita orang mukmin, hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar