Rabu, 28 Desember 2016

Dakwah


Ketika Rasulullah SAW sudah mendapat perintah dari Allah untuk menyebarkan agama Islam, maka dengan ima dan takwa, Rasul pun langsung menjalani aktivitas dakwah di Mekah untuk menumpas segala kemungkaran yang ada dengan berbagai cobaan yang datang bertubi-tubi. Tapi bukannya menyerah, Rasulullah SAW tetap terus melanjutkan dakwahnya sekalipun nyawa yang menjadi ancaman, juga ketika mendapat wahyu pertama di Gua Hira Rasul mengatakan “setelah ini tak akan ada istirahat lagi” maka benar saja hingga wafatnya pun Rasulullah terus berdakwah, menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan mengajak orang-orang untuk memasuki agama yang haq ini, hingga berhasil mendirikan sebuah Negara.

Bicara tentang masa Jahiliyah saat zamannya Rasulullah, adakah persamaannya dengan zaman sekarang ini? Jika zaman Jahiliyah dulu riba menjadi tolak ukur sebuah perdagangan, maka tak ada bedanya dengan ekonomi saat ini. Pelacuran, perempuan hanya dijadikan alat hiburan, judi dan khamr kebiasaan yang sulit ditinggalkan, menyembah berhala, bedusta dan masih banyak lagi. Tak ada bedanya bukan dengan apa yang terjadi saat ini? Sekarang perempuan tak usah dipaksa untuk melacur dan dijadikan sebgai alat hiburan, malah perempuan nya senidir yang mengajukan diri. Khamr pun sekarang dijadikan sebagai salah satu pendapatan Negara terbesar, maka tak usah heran jika khamr makin merajalela. Bukan berhala yang kini disembah, tapi sang idola, bigbang tayswift, raisa, afgan dan masih banyak lagi. Di sekolah ketika mnjelang UN, kita dipaksa untuk berdusta, berbuat curang. Ya, inilah zaman Jahiliyah modern.

Di tulisan sebelumnya sering saya sampaikan bahwa permasalahan utama adalah system. System yang nyatanya bobrok, rusak tapi sampai sekarang masih dipertahankan. Lantas, dengan segala kerusakan yang kini terjadi di masyarakat apa yang musti kita lakukan? Menyelamatkan diri senidiri? Menyelamatkan orang lain? Atau menyelamatkan diri sendiri dan orang lain? Jika kita hanya menyelamatkan diri sendiri, sebagaimana dalam hadisSesungguhnya bila orang-orang melihat orang-orang zhalim (tahu tentang hukum Allah tapi melanggarnya) kemudian mereka tidak mencegahnya maka kemungkinan besar Allah akan meratakan siksa kepada mereka (lantaran perbuatan si Zhalim tadi)”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An-nasai) dalam hal ini contohnya adalah jika dalam suatu negeri ada sebuah bencana diakibatkan oleh ulah manusia sendiri meskipun di dalam negeri tersebut banyak orang baik, Allah tetap menghendaki dan meratakan siksaNya. Juga seperti yang Ali bin Abi Thalib, suatu negeri akan mendapat musibah karena diamnya orang baik. Adapun jika kita menyelamatkan orang lain, ini bahasa sederhananya adalah hanya omong kosong, kita mengataka sesuatu tapi kita sendiri tidak mengerjakannya. Dan Allah telah mempertingati tentang hal yang demikian itu dalmfirmanNya: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (TQS. Al-baqarah [2] : 44-45). Maka hal yang paling tepat adalah dengan menyelamatkan diri sendiri juga orang lain. Bukan hanya menjadi orang baik, tapi menjadi penyeru kebaikan.

 Satu-satunya cara untuk mewujudkan hal yang demikian hanya dengan berdakwah, menyeru dan mengajak kepada kebaikan. Terkait dengan dakwah, ternyata ini adalah suatu kewajiban yang diemban oleh setiap muslim. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. At taubah [9] : 71). “ Dan Zat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kalian (memiliki dua pilihan, yaitu) benar-benar memerintah berbuat ma’ruf (amar ma’ruf) dan melarang berbuat mungkar, ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisiNya yang akan menimpa kalian. Kemudian kalian berdo’a, maka do’a itu tidak akan dikabulkan” (HR. Tirmidzi). Itulah beberapa dalil terkaitwajibnya dakwah. Lantas, kapan kita musti berdakwah? “Pada hari kiamat, kedua kaki seoran hamba tidak akan bisa beringsut sampai dia ditanya mengenai 4 hal : umurnya dihabiskan untuk apa? Masa mudanya digunakan untuk apa? Hartanya diperoleh dari mana dan diinfakkan ke mana? Serta apa yang telah diamalkan dari ilmu yang diketahuinya?” (HR Tirmidzi). Yap, masa mudalah yang paling tepat bagi kita semua untuk menunaikan kewajiban yang mulia ini. Memang beda halnya orang baik dan penyeru kebaikan. Orang baik akan senantiasa disukai oleh banyak orang, beda halnya dengan penyeru kebaikan. Cemoohan dan sindiran-sindiran sinis siap mengahadang kita saat memulai dalam jalan dakwah ini, tapi itu merupakan suatu ujian yangmulia bukan?
Sungguh banyak para syuhada yang syahid dalam jalan dakwah ini, Penting untuk disadari, bahwa seorang Muslim tidak selayaknya meninggalkan aktivitas amar makruf nahi mungkar karena rasa takut atas  kehidupan dan rezekinya. Sebab,  sesungguhnya ajal dan rezeki ada di tangan Allah; tidak seorang pun berkuasa atas keduanya. Rasul saw. bersabda: 
            «لاَ يَنْبَغِي ِلإِمْرِئٍ شَهِدَ مَقَامًا فِيْهِ حَقٌّ إِلاَّ تَكَلَّمَ بِهِ فَإِنَّهُ لَنْ يُقَدِمَ أَجْلَهُ وَلَنْ يُحَّرِمَ رِزْقًا هُوَ لَهُ»
            Tidak layak seseorang, ketika menyaksikan suatu tempat di dalamnya ada kebenaran,  kecuali dia akan mengatakannya. Sesungguhnya sekali-kali hal itu tidak akan pernah  memajukan ajalnya dan tidak akan pernah  mencegah apa yang telah menjadi rezeki baginya. (HR al-Baihaqi).
Allah pun telah menghadiahkan kepada penegmban dakwah seperti dalam hadis: “Sesungguhnya Allah, malaikatnya, serta penduduk langit bumi, hingga semut yang ada dalam lubangnya, dan ikan-ikan yang ada di laut, (semuanya) bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).









Tidak ada komentar:

Posting Komentar