Ketika Rasulullah SAW sudah mendapat perintah dari
Allah untuk menyebarkan agama Islam, maka dengan ima dan takwa, Rasul pun
langsung menjalani aktivitas dakwah di Mekah untuk menumpas segala kemungkaran
yang ada dengan berbagai cobaan yang datang bertubi-tubi. Tapi bukannya
menyerah, Rasulullah SAW tetap terus melanjutkan dakwahnya sekalipun nyawa yang
menjadi ancaman, juga ketika mendapat wahyu pertama di Gua Hira Rasul
mengatakan “setelah ini tak akan ada istirahat lagi” maka benar saja hingga wafatnya
pun Rasulullah terus berdakwah, menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan mengajak
orang-orang untuk memasuki agama yang haq ini, hingga berhasil mendirikan
sebuah Negara.
Bicara tentang masa Jahiliyah saat zamannya
Rasulullah, adakah persamaannya dengan zaman sekarang ini? Jika zaman Jahiliyah
dulu riba menjadi tolak ukur sebuah perdagangan, maka tak ada bedanya dengan
ekonomi saat ini. Pelacuran, perempuan hanya dijadikan alat hiburan, judi dan
khamr kebiasaan yang sulit ditinggalkan, menyembah berhala, bedusta dan masih
banyak lagi. Tak ada bedanya bukan dengan apa yang terjadi saat ini? Sekarang
perempuan tak usah dipaksa untuk melacur dan dijadikan sebgai alat hiburan,
malah perempuan nya senidir yang mengajukan diri. Khamr pun sekarang dijadikan
sebagai salah satu pendapatan Negara terbesar, maka tak usah heran jika khamr
makin merajalela. Bukan berhala yang kini disembah, tapi sang idola, bigbang
tayswift, raisa, afgan dan masih banyak lagi. Di sekolah ketika mnjelang UN,
kita dipaksa untuk berdusta, berbuat curang. Ya, inilah zaman Jahiliyah modern.
Di tulisan sebelumnya sering saya sampaikan bahwa
permasalahan utama adalah system. System yang nyatanya bobrok, rusak tapi
sampai sekarang masih dipertahankan. Lantas, dengan segala kerusakan yang kini
terjadi di masyarakat apa yang musti kita lakukan? Menyelamatkan diri senidiri?
Menyelamatkan orang lain? Atau menyelamatkan diri sendiri dan orang lain? Jika
kita hanya menyelamatkan diri sendiri, sebagaimana dalam hadis“ Sesungguhnya
bila orang-orang melihat orang-orang zhalim (tahu tentang hukum Allah tapi
melanggarnya) kemudian mereka tidak mencegahnya maka kemungkinan besar
Allah akan meratakan siksa kepada mereka (lantaran perbuatan si
Zhalim tadi)”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An-nasai) dalam hal ini contohnya
adalah jika dalam suatu negeri ada sebuah bencana diakibatkan oleh ulah manusia
sendiri meskipun di dalam negeri tersebut banyak orang baik, Allah tetap
menghendaki dan meratakan siksaNya. Juga seperti yang Ali bin Abi Thalib, suatu
negeri akan mendapat musibah karena diamnya orang baik. Adapun jika kita
menyelamatkan orang lain, ini bahasa sederhananya adalah hanya omong kosong,
kita mengataka sesuatu tapi kita sendiri tidak mengerjakannya. Dan Allah telah
mempertingati tentang hal yang demikian itu dalmfirmanNya: “Mengapa kamu suruh
orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu
sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (TQS.
Al-baqarah [2] : 44-45). Maka hal yang paling tepat adalah dengan menyelamatkan
diri sendiri juga orang lain. Bukan hanya menjadi orang baik, tapi menjadi
penyeru kebaikan.
Satu-satunya cara untuk mewujudkan hal yang demikian hanya
dengan berdakwah, menyeru dan mengajak kepada kebaikan. Terkait dengan dakwah, ternyata
ini adalah suatu kewajiban yang diemban oleh setiap muslim. “Dan orang-orang
yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong
bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf,
mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat
pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. At taubah [9] :
71). “ Dan Zat yang jiwaku berada di
tanganNya, sungguh kalian (memiliki dua pilihan, yaitu) benar-benar memerintah
berbuat ma’ruf (amar ma’ruf) dan melarang berbuat mungkar, ataukah Allah akan
mendatangkan siksa dari sisiNya yang akan menimpa kalian. Kemudian kalian
berdo’a, maka do’a itu tidak akan dikabulkan” (HR. Tirmidzi). Itulah beberapa
dalil terkaitwajibnya dakwah. Lantas, kapan kita musti berdakwah? “Pada hari
kiamat, kedua kaki seoran hamba tidak akan bisa beringsut sampai dia ditanya
mengenai 4 hal : umurnya dihabiskan untuk apa? Masa mudanya digunakan
untuk apa? Hartanya diperoleh dari mana dan diinfakkan ke mana? Serta apa
yang telah diamalkan dari ilmu yang diketahuinya?” (HR Tirmidzi). Yap, masa
mudalah yang paling tepat bagi kita semua untuk menunaikan kewajiban yang mulia
ini. Memang beda halnya orang baik dan penyeru kebaikan. Orang baik akan
senantiasa disukai oleh banyak orang, beda halnya dengan penyeru kebaikan.
Cemoohan dan sindiran-sindiran sinis siap mengahadang kita saat memulai dalam
jalan dakwah ini, tapi itu merupakan suatu ujian yangmulia bukan?
Sungguh banyak para
syuhada yang syahid dalam jalan dakwah ini, Penting untuk disadari,
bahwa seorang Muslim tidak selayaknya meninggalkan aktivitas amar makruf nahi
mungkar karena rasa takut atas kehidupan
dan rezekinya. Sebab, sesungguhnya ajal
dan rezeki ada di tangan Allah; tidak seorang pun berkuasa atas keduanya. Rasul
saw. bersabda:
«لاَ يَنْبَغِي
ِلإِمْرِئٍ شَهِدَ مَقَامًا فِيْهِ حَقٌّ إِلاَّ تَكَلَّمَ بِهِ فَإِنَّهُ لَنْ
يُقَدِمَ أَجْلَهُ وَلَنْ يُحَّرِمَ رِزْقًا هُوَ لَهُ»
Tidak layak seseorang,
ketika menyaksikan suatu tempat di dalamnya ada kebenaran, kecuali dia akan mengatakannya. Sesungguhnya
sekali-kali hal itu tidak akan pernah
memajukan ajalnya dan tidak akan pernah
mencegah apa yang telah menjadi rezeki baginya. (HR al-Baihaqi).
Allah pun telah
menghadiahkan kepada penegmban dakwah seperti dalam hadis: “Sesungguhnya Allah,
malaikatnya, serta penduduk langit bumi, hingga semut yang ada dalam lubangnya,
dan ikan-ikan yang ada di laut, (semuanya) bershalawat atas orang yang
mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar