Rabu, 28 Desember 2016

Relation

Relation
Manusia adalah sosok mahluk yang amat unik. Manusia akan berkumpul ketika bertemu dengan seseorang yang sama pikirannya, sama perasaannya. Dari sinilah muncul kehidupan sosial yang menghasilkan ikatan-ikatan atau yang menghubungkan antar sesama manusia yang berlangsung berkat adanya interaksi yang manusia lakukan setiap saatnya. Syaikh Taqiyudin An-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam yang beliau tulis menjelaskan bahwa di dunia ini ada beberapa ikatan, yakni: ikatan kebangsaan atau nasionalisme, ikatan kesukuan, ikatan kemaslahatan, dan ikatan kerohanian. Dalam ikatan inilah manusia berinteraksi kepada sesamanya juga untuk melangsungkan kehidupannya. Ikatan yang dipegang oleh seseorang bergantung pada cara pandang juga cara berpikir seseorang. Lantas ikatan seperti apakah yang mampu menghubungkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya?
Berangkat dari penjelasan Syaikh Taqiyudin, yang pertama yakni adanya ikatan kebangsaan atau nasionalisme. Menurut beliau ikatan ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak berajak dari situ. Dengan demikian naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya. Ikatan ini lemah dan rendah nilainya. Ikatan yang seperti ini tampak juga pada dunia binatang. Maka ikatan ini muncul hanya apabila terdapat ancaman dari pihak luar, lain halnya apabila tidak ada ancaman atau apapun maka hilanglah kekuatan dari ikatan ini. Paham nasionalisme juga menjadi salah satu factor runtuhnya Negara Islam. salah seorang yang mempelopori gerakan ini ialah Mustafa Kemal Attaturk Laknatullah. Sederhananya, ia memahamkan rakyat terkait nasionalisme melalui cara mengahsut rakyat agar tidak perlu lagi tunduk atas pemerintahan Islamyang ada di Turki saat itu, ia menghasut rakyat dengan cara meyakinkan rakyat bahwa rakyat bisa berdiri sendiri tanpa aturan-aturan yang ada, dan meyakinkan bahwa untuk apa rakyat tunduk pada pemerintah Turki, sedang mereka tidak berada di Turki bahkan bukan orang Turki. Begitu meyakinkannya hasutan Mustafa Kemal hingga membuat rakyat percaya dan perlahan meninggalkan aturan-aturan yang dibuat oleh kekhilafahan Turki Utsmani. Hingga pada akhirnya ide nasionalisme pun merambah pada setiap penjuru dunia, dan membuat kekhilafahan pun perlahan-lahan hancur. Pada akhirnya ikatan nasionalisme pun berhasil membuat sekat-sekat Negara yang malah menghasilkan sifat individualisme. Contoh daripada individualisme adalah kasus yang kini sedang marak dibicarakan yakni kasus muslim Rohingya, begitu jelasnya juga begitu terpampang nyata bahwa telah terjadi perbuatan genosida yang dilakukan oleh biksu yang ada di Myanmar. Saat ada hal seperti itu, kemana orang-orang HAM yang menjunjung tinggi hak yang ada pada individu? Kemana negeri muslim lainnya saat saudaranya mengalami penderitaan yang amat sangat?  Inilah hasil daripada nasionalisme, yang memberikan efek pada masing-masing individu yang mereka cenderung lebih memikirkan kepentingan dirinya masing-masing. Bahkan ada yang tak tahu menahu saat saudara seimannya sedang dilanda musibah yang amat sangat. Terbukti bahwa ikatan ini tidak bisa mengikat antar manusia untuk menuju kemajuan dan kebangkitan karena mutu ikatannya rendah, bersifat emosional dan bersifat temporal yang muncul saat adanya ancaman saja.
Adapun ikatan sukuisme, menurut Syaikh Taqiyudin ikatan ini mirip dengan ikatan kekeluargaan, hanya sedikit lebih luas. Munculnya ikatan ini karena dalam diri manusia mencuat keinginan untuk berkuasa. Apabila keinginannya meningkat dan pemikirannya berkembang maka bertambahlah wilayah kekuasaannya, hingga timbul keinginan keluarganya untuk berkuasa. Keinginan tersebut terus berkembang hingga timbul keinginan sukunya berkuasa di negeri tersebut. Apabila telah menempati suatu negeri maka timbul keinginan untuk  menguasai negeri-negeri lain. Inilah yang menyebabkan pertentangan dan perselisihan antar keluarga atau antarsuku.  Perselisihan seperti inipun akan terus ada apabila mereka masih mementingkan atau membanggakan sukunya karena mereka hanya dibalut oleh hawa nafsu. Apalagi jaman Arab jahiliyah dulu, persaingan antar suku amat keras, hingga muncullah berbagai perselisihan bahkan ada yang sampai pada bunuh-membunuh demi membela sukunya.  Hal yang demikian ini amatlah tidak manusiawi dan tidak sesuai dengan fitrah manusia serta jika terus mengedepankan hawa nafsu maka yang terjadi adalah hal yang demikian tadi. Terbukti bahwa ikatan sukuisme pun tidak bisa menjadi pengikat antar manusia untuk menuju kebangkitan dan kemajuan.
Selanjutnya ada ikatan kemaslahatan, ikatan ini sementara sifatnya. Karena ikatan ini hanya berdasarkan pada suatu kemaslahatan yang ada, atau ikatan ini ada karna adanya urusan tertentu. Setelah kita telah menyelesaikan suatu urusan maka selesai pula persoalan yang ada. Akhirnya orang-orang yang terlibat di dalamnya mulai bubar karna merasa urusannya sudah selesai. Contohnya saat kita ada suatu program atau hanya sekedar kerja kelompok saat program atau tugas tersebut belum selesai tentunya kita masih berhubungan dengan orang-orang yang tergabung di dalamnya. Tapi tatkala program itu selesai atau tugas tersebut selesai, selesai pula hubungan orang-orang yang ada di dalamnya. Kalaupun adayang masih berhubungan tidak seerat dulu ketika masih menjalani program atau berada dalam kelompok yang sama. Maka terbukti lagi bahwa ikatan ini tidak bisa dijadikan pengikat antar manusia untuk menuju kebangkitan dan kemajuan.  Adapun ikatan kerohanian yang tidak memiliki aturan, aktifitasnya hanya nampak saat melakukan ibadah ritual saja. Ikatan ini bersifat parsial dan terbatas karena hanya fokus pada aspek kerohanian dan tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Singkatnya ikatan ini tidak memiliki aturan kehidupan yang amatlah tidak bisa dijadikan pengikat antar manusia yang pada hakikatnya ia mustilah diatur oleh suatu aturan.

Itulah segenap aturan yang sebenarnya rusak karna tidak bisa menghantarkan manusia pada kebangkitan dan kemajuan. Juga ikatan ini muncul akibat adanya kemorosotan berpikir di kalangan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar