Relation
Manusia adalah sosok mahluk yang amat unik. Manusia
akan berkumpul ketika bertemu dengan seseorang yang sama pikirannya, sama
perasaannya. Dari sinilah muncul kehidupan sosial yang menghasilkan
ikatan-ikatan atau yang menghubungkan antar sesama manusia yang berlangsung
berkat adanya interaksi yang manusia lakukan setiap saatnya. Syaikh Taqiyudin
An-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam yang beliau tulis menjelaskan bahwa di
dunia ini ada beberapa ikatan, yakni: ikatan kebangsaan atau nasionalisme, ikatan
kesukuan, ikatan kemaslahatan, dan ikatan kerohanian. Dalam ikatan inilah
manusia berinteraksi kepada sesamanya juga untuk melangsungkan kehidupannya.
Ikatan yang dipegang oleh seseorang bergantung pada cara pandang juga cara
berpikir seseorang. Lantas ikatan seperti apakah yang mampu menghubungkan
manusia untuk mencapai tujuan hidupnya?
Berangkat dari penjelasan Syaikh Taqiyudin, yang
pertama yakni adanya ikatan kebangsaan atau nasionalisme. Menurut beliau ikatan
ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan
tidak berajak dari situ. Dengan demikian naluri mempertahankan diri sangat
berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya. Ikatan ini lemah
dan rendah nilainya. Ikatan yang seperti ini tampak juga pada dunia binatang.
Maka ikatan ini muncul hanya apabila terdapat ancaman dari pihak luar, lain
halnya apabila tidak ada ancaman atau apapun maka hilanglah kekuatan dari
ikatan ini. Paham nasionalisme juga menjadi salah satu factor runtuhnya Negara
Islam. salah seorang yang mempelopori gerakan ini ialah Mustafa Kemal Attaturk
Laknatullah. Sederhananya, ia memahamkan rakyat terkait nasionalisme melalui
cara mengahsut rakyat agar tidak perlu lagi tunduk atas pemerintahan Islamyang
ada di Turki saat itu, ia menghasut rakyat dengan cara meyakinkan rakyat bahwa
rakyat bisa berdiri sendiri tanpa aturan-aturan yang ada, dan meyakinkan bahwa
untuk apa rakyat tunduk pada pemerintah Turki, sedang mereka tidak berada di
Turki bahkan bukan orang Turki. Begitu meyakinkannya hasutan Mustafa Kemal
hingga membuat rakyat percaya dan perlahan meninggalkan aturan-aturan yang
dibuat oleh kekhilafahan Turki Utsmani. Hingga pada akhirnya ide nasionalisme
pun merambah pada setiap penjuru dunia, dan membuat kekhilafahan pun perlahan-lahan
hancur. Pada akhirnya ikatan nasionalisme pun berhasil membuat sekat-sekat
Negara yang malah menghasilkan sifat individualisme. Contoh daripada
individualisme adalah kasus yang kini sedang marak dibicarakan yakni kasus
muslim Rohingya, begitu jelasnya juga begitu terpampang nyata bahwa telah
terjadi perbuatan genosida yang dilakukan oleh biksu yang ada di Myanmar. Saat
ada hal seperti itu, kemana orang-orang HAM yang menjunjung tinggi hak yang ada
pada individu? Kemana negeri muslim lainnya saat saudaranya mengalami
penderitaan yang amat sangat? Inilah
hasil daripada nasionalisme, yang memberikan efek pada masing-masing individu yang
mereka cenderung lebih memikirkan kepentingan dirinya masing-masing. Bahkan ada
yang tak tahu menahu saat saudara seimannya sedang dilanda musibah yang amat
sangat. Terbukti bahwa ikatan ini tidak bisa mengikat antar manusia untuk
menuju kemajuan dan kebangkitan karena mutu ikatannya rendah, bersifat
emosional dan bersifat temporal yang muncul saat adanya ancaman saja.
Adapun ikatan sukuisme, menurut Syaikh Taqiyudin
ikatan ini mirip dengan ikatan kekeluargaan, hanya sedikit lebih luas.
Munculnya ikatan ini karena dalam diri manusia mencuat keinginan untuk
berkuasa. Apabila keinginannya meningkat dan pemikirannya berkembang maka
bertambahlah wilayah kekuasaannya, hingga timbul keinginan keluarganya untuk
berkuasa. Keinginan tersebut terus berkembang hingga timbul keinginan sukunya
berkuasa di negeri tersebut. Apabila telah menempati suatu negeri maka timbul
keinginan untuk menguasai negeri-negeri
lain. Inilah yang menyebabkan pertentangan dan perselisihan antar keluarga atau
antarsuku. Perselisihan seperti inipun
akan terus ada apabila mereka masih mementingkan atau membanggakan sukunya
karena mereka hanya dibalut oleh hawa nafsu. Apalagi jaman Arab jahiliyah dulu,
persaingan antar suku amat keras, hingga muncullah berbagai perselisihan bahkan
ada yang sampai pada bunuh-membunuh demi membela sukunya. Hal yang demikian ini amatlah tidak manusiawi
dan tidak sesuai dengan fitrah manusia serta jika terus mengedepankan hawa
nafsu maka yang terjadi adalah hal yang demikian tadi. Terbukti bahwa ikatan
sukuisme pun tidak bisa menjadi pengikat antar manusia untuk menuju kebangkitan
dan kemajuan.
Selanjutnya ada ikatan kemaslahatan, ikatan ini
sementara sifatnya. Karena ikatan ini hanya berdasarkan pada suatu kemaslahatan
yang ada, atau ikatan ini ada karna adanya urusan tertentu. Setelah kita telah
menyelesaikan suatu urusan maka selesai pula persoalan yang ada. Akhirnya
orang-orang yang terlibat di dalamnya mulai bubar karna merasa urusannya sudah
selesai. Contohnya saat kita ada suatu program atau hanya sekedar kerja
kelompok saat program atau tugas tersebut belum selesai tentunya kita masih
berhubungan dengan orang-orang yang tergabung di dalamnya. Tapi tatkala program
itu selesai atau tugas tersebut selesai, selesai pula hubungan orang-orang yang
ada di dalamnya. Kalaupun adayang masih berhubungan tidak seerat dulu ketika
masih menjalani program atau berada dalam kelompok yang sama. Maka terbukti
lagi bahwa ikatan ini tidak bisa dijadikan pengikat antar manusia untuk menuju
kebangkitan dan kemajuan. Adapun ikatan
kerohanian yang tidak memiliki aturan, aktifitasnya hanya nampak saat melakukan
ibadah ritual saja. Ikatan ini bersifat parsial dan terbatas karena hanya fokus
pada aspek kerohanian dan tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Singkatnya ikatan ini tidak memiliki aturan kehidupan yang amatlah tidak bisa
dijadikan pengikat antar manusia yang pada hakikatnya ia mustilah diatur oleh
suatu aturan.
Itulah segenap aturan yang sebenarnya rusak karna
tidak bisa menghantarkan manusia pada kebangkitan dan kemajuan. Juga ikatan ini
muncul akibat adanya kemorosotan berpikir di kalangan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar