Rabu, 28 Desember 2016

Untirta, Immanuel Kant dan B&K

Untirta, Immanuel Kant dan B&K
Terkait dengan pertanyaan Immanuel Kant seputar kehidupan, ketika menempati tempat yang baru atau memulai suatu yang baru pasti timbulah beberapa pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan Immanuel Kant pada setiap individu. Pertanyaan tersebut yakni:
1.      Apa yang dapat saya harapkan?
2.      Apa yang dapat saya ketahui?
3.      Apa yang dapat saya lakukan?
4.      Siapakah saya/manusia itu?
Berangkat dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari “Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengna hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lenih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” Setiap individu yang telah memasuki babak baru dalam hidupnya pastilah, tidak mungkin tidak. Ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, juga memiliki motivasi yang besar untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Dan pastilah memiliki pertanyaan yang dipertanyakan oleh Immanuel Kant.
Begitupun yang terjadi pada saya. Kini saya telah memasuki babak baru. Yang tadinya hanya berstatus sebagai siswa, kini ada sebuah kata tambahan dalam status tersebut. Ya, Maha. Mahasiswa, pemuda dengan berjuta potensi, para intelektual yang dijuluki sebagai “Agen of Change”, garda terdepan untuk suatu perubahan. Tentunya setelah mendengar julukan-julukan mahasiswa, layaknya ada sebuah dorongan untuk melakukan sebuah perubahan. Meskipun dorongan tersebut tidak terlalu kuat, tapi saya yakin setiap Mahasiswa pasti berpikiran untuk melakukan sebuah perubahan jika di alam semesta ini menuntut adanya suatu perubahan.

Babak baru yang akan saya jalani dimulai di salah satu universitas negeri di Banten yakni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Sebelumnya untirta adalah Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH), karena Banten mengalami pemekaran maka memisahkan diri dari Jawa Barat dan akan membentuk provinsi, berubahlah STIH menjadi universitas negeri pada tahun 2001. Tidak mungkin tidak didirikannya sesuatu tanpa ada sebuah tujuan. Begitupun dengan Untirta, ada tujuan yang mendasari mengapa Untirta ini didirikan. Yang lebih kita kenal dengan visi. Visi ini ada kaitannya dengan pertanyaan pertama dari Immanuel Kant, yakni; apa yang dapat saya harapkan?
Visi Untirta: “Terwujudnya Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang maju, bermutu, berkarakter, dan berdaya saing dalam kebersamaan tahun 2025”
Penjelasan dari visi Untirta adalah:
1.      Maju: terwujudnya kondisi Untirta yang mengalami pertumbuhan, peningkatan, dan perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
2.      Bermutu: tercapainya kualitas layanan yang memberikan kepuasan pada pelanggan. Juga menguasai Iptek dan mampu berkomunikasi demi kemajuan bangsa.
3.      Berdaya saing: terwujudnya suatu dorongan pada diri pendidik untuk menjadi lebih kompetitif lagi.
4.      Berkarakter: tercapainya tenaga pendidik yang menguasai iptek dengan menjunjung tinggi kejujuran, amanah, berwibawa, adil, religius, dan akuntabel.
5.      Kebersamaan: mengutamakan semangat gotong royong sebagai sebuah tim kerja yang menjunjung tinggi solidaritas dan soliditas.
Dari penjelasan tadi dapat diketahui bahwa adanya tujuan salah satunya adalah untuk melakukan suatu perubahan kea rah yang lebih baik lagi. Untuk melakukan suatu perubahan hanya diperlukan individu yang bertekad kuat dan yang berpikiran maju lah yang dapat mewujudkan suatu perubahan. Itulah harapan dari seluruh masyrakat Untirta. Dan tentunya sebagai individu yang berintelektualitas, haruslah selalu fokus pada tujuan tersebut. Demi terwujudnya visi Untirta tadi.

Lantas, harus menjadi mahasiswa seperti apakah yang bisa ikut berkontribusi dalam mewujudkan visi Untirta? Pertanyaan ini sama halnya dengan pertanyaan Immanuel Kant yang ketiga, yakni; apa yang dapat saya lakukan?
Sebagai pemuda yang memiliki berjuta potensi tentunya ada banyak cara untuk mewujudkan cita-cita nya. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah mahluk lemah dan terbatas, yang dalam melakukan sesuatu pastilah membutuhkan sesamanya. Berkaitan dengan hal itu, pastilah ada individu yang akan berusaha sekeras mungkin untuk menggali potensi dalam dirinya sehingga ia mengetahui dirinya sendiri dan juga ia bisa menempatkan dirinya dimanapun berada. Juga tentunya ia bisa berkontribusi dalam hal apapun, termasuk mewujudkan visi untirta. Dengan caranya aktif mengikuti berbagai oragnisasi yang ada untuk membawa nama baik Untirta. Dan tak hanya itu, agar Untirta menjadi universitas yang bermutu, tentunya ia akan terus memperluas pengetahuannya agar menjadi masyarakat Untirta yang berintelektualitas. Dan ada pula yang sebaliknya. Yang hanya mengikuti arus perkembangan. Yang hanya ingin menjadi penonton daripada menjadi pemain.

Seperti yang sudah dipaparkan tadi, bahwa untuk mewujudkan cita-cita, haruslah mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Ini berkaitan ddengan pertanyaan Immanuel Kant yang keempat, yakni; siapakah saya/manusia itu?
Dalam proses finding my self saya adalah orang Islam, dan saya tahu kenapa saya memilih Islam. dan saya adalah orang yang suka mendengarkan daripada mendominasi percakapan. Maka dari itu saya memilih Bimbingan dan Konseling sebagai pilihan pertama ketika mengikuti tes masuk universitas. Peran seorang konselor dalam melakukan suatu perubahan cukup besar, karna Bimbingan dan Konseling ada kaitannya dengan psikologi yang mempelajari tentang manusia. Hanya bedanya Bimbingan dan Konseling lebih fokus untuk membantu para konselinya untuk berkonsultasi, bagaimana caranya menghadapi konseli yang tentunya berbeda karakter. Kenapa bisa dikatakan peran Bimbingan dan Konseling cukup besar dalam sutu perubahan, karena melalui konseling yang rutin seorang konselor yang paham akan segala sesuatu tentang kehidupan, bisa mengubah pola pikir tentang kehidupan seorang konseli yang nantinya akan menumbuhkan sutu pemahaman dan menghasilkan suatu perilaku yang nantinya pasti akan timbul suatu perubahan dalam dirinya. Maka dari itu, itulah tujuan saya kenapa memilih Bimbingan dan Konseling.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar