Untirta,
Immanuel Kant dan B&K
Terkait dengan pertanyaan Immanuel Kant seputar
kehidupan, ketika menempati tempat yang baru atau memulai suatu yang baru pasti
timbulah beberapa pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan Immanuel Kant pada
setiap individu. Pertanyaan tersebut yakni:
1. Apa
yang dapat saya harapkan?
2. Apa
yang dapat saya ketahui?
3. Apa
yang dapat saya lakukan?
4. Siapakah
saya/manusia itu?
Berangkat dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
Bukhari “Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari
kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengna hari
kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini
lenih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” Setiap
individu yang telah memasuki babak baru dalam hidupnya pastilah, tidak mungkin
tidak. Ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, juga memiliki motivasi yang
besar untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Dan pastilah memiliki pertanyaan
yang dipertanyakan oleh Immanuel Kant.
Begitupun yang terjadi pada saya. Kini saya telah
memasuki babak baru. Yang tadinya hanya berstatus sebagai siswa, kini ada
sebuah kata tambahan dalam status tersebut. Ya, Maha. Mahasiswa, pemuda dengan
berjuta potensi, para intelektual yang dijuluki sebagai “Agen of Change”, garda
terdepan untuk suatu perubahan. Tentunya setelah mendengar julukan-julukan
mahasiswa, layaknya ada sebuah dorongan untuk melakukan sebuah perubahan.
Meskipun dorongan tersebut tidak terlalu kuat, tapi saya yakin setiap Mahasiswa
pasti berpikiran untuk melakukan sebuah perubahan jika di alam semesta ini
menuntut adanya suatu perubahan.
Babak baru yang akan saya jalani dimulai di salah
satu universitas negeri di Banten yakni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
(Untirta). Sebelumnya untirta adalah Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH), karena
Banten mengalami pemekaran maka memisahkan diri dari Jawa Barat dan akan
membentuk provinsi, berubahlah STIH menjadi universitas negeri pada tahun 2001.
Tidak mungkin tidak didirikannya sesuatu tanpa ada sebuah tujuan. Begitupun
dengan Untirta, ada tujuan yang mendasari mengapa Untirta ini didirikan. Yang
lebih kita kenal dengan visi. Visi ini ada kaitannya dengan pertanyaan pertama
dari Immanuel Kant, yakni; apa yang dapat saya harapkan?
Visi Untirta: “Terwujudnya Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa yang maju, bermutu, berkarakter, dan berdaya saing dalam kebersamaan
tahun 2025”
Penjelasan dari visi Untirta adalah:
1. Maju:
terwujudnya kondisi Untirta yang mengalami pertumbuhan, peningkatan, dan
perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
2. Bermutu:
tercapainya kualitas layanan yang memberikan kepuasan pada pelanggan. Juga
menguasai Iptek dan mampu berkomunikasi demi kemajuan bangsa.
3. Berdaya
saing: terwujudnya suatu dorongan pada diri pendidik untuk menjadi lebih
kompetitif lagi.
4. Berkarakter:
tercapainya tenaga pendidik yang menguasai iptek dengan menjunjung tinggi
kejujuran, amanah, berwibawa, adil, religius, dan akuntabel.
5. Kebersamaan:
mengutamakan semangat gotong royong sebagai sebuah tim kerja yang menjunjung
tinggi solidaritas dan soliditas.
Dari penjelasan tadi dapat diketahui bahwa adanya
tujuan salah satunya adalah untuk melakukan suatu perubahan kea rah yang lebih
baik lagi. Untuk melakukan suatu perubahan hanya diperlukan individu yang
bertekad kuat dan yang berpikiran maju lah yang dapat mewujudkan suatu
perubahan. Itulah harapan dari seluruh masyrakat Untirta. Dan tentunya sebagai
individu yang berintelektualitas, haruslah selalu fokus pada tujuan tersebut.
Demi terwujudnya visi Untirta tadi.
Lantas, harus menjadi mahasiswa seperti apakah yang
bisa ikut berkontribusi dalam mewujudkan visi Untirta? Pertanyaan ini sama
halnya dengan pertanyaan Immanuel Kant yang ketiga, yakni; apa yang dapat saya
lakukan?
Sebagai pemuda yang memiliki berjuta potensi
tentunya ada banyak cara untuk mewujudkan cita-cita nya. Tapi tak bisa
dipungkiri bahwa manusia adalah mahluk lemah dan terbatas, yang dalam melakukan
sesuatu pastilah membutuhkan sesamanya. Berkaitan dengan hal itu, pastilah ada
individu yang akan berusaha sekeras mungkin untuk menggali potensi dalam
dirinya sehingga ia mengetahui dirinya sendiri dan juga ia bisa menempatkan
dirinya dimanapun berada. Juga tentunya ia bisa berkontribusi dalam hal apapun,
termasuk mewujudkan visi untirta. Dengan caranya aktif mengikuti berbagai
oragnisasi yang ada untuk membawa nama baik Untirta. Dan tak hanya itu, agar
Untirta menjadi universitas yang bermutu, tentunya ia akan terus memperluas
pengetahuannya agar menjadi masyarakat Untirta yang berintelektualitas. Dan ada
pula yang sebaliknya. Yang hanya mengikuti arus perkembangan. Yang hanya ingin
menjadi penonton daripada menjadi pemain.
Seperti yang sudah dipaparkan tadi, bahwa untuk
mewujudkan cita-cita, haruslah mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Ini
berkaitan ddengan pertanyaan Immanuel Kant yang keempat, yakni; siapakah
saya/manusia itu?
Dalam proses finding
my self saya adalah orang Islam, dan saya tahu kenapa saya memilih Islam. dan
saya adalah orang yang suka mendengarkan daripada mendominasi percakapan. Maka
dari itu saya memilih Bimbingan dan Konseling sebagai pilihan pertama ketika
mengikuti tes masuk universitas. Peran seorang konselor dalam melakukan suatu
perubahan cukup besar, karna Bimbingan dan Konseling ada kaitannya dengan
psikologi yang mempelajari tentang manusia. Hanya bedanya Bimbingan dan
Konseling lebih fokus untuk membantu para konselinya untuk berkonsultasi,
bagaimana caranya menghadapi konseli yang tentunya berbeda karakter. Kenapa
bisa dikatakan peran Bimbingan dan Konseling cukup besar dalam sutu perubahan,
karena melalui konseling yang rutin seorang konselor yang paham akan segala
sesuatu tentang kehidupan, bisa mengubah pola pikir tentang kehidupan seorang
konseli yang nantinya akan menumbuhkan sutu pemahaman dan menghasilkan suatu
perilaku yang nantinya pasti akan timbul suatu perubahan dalam dirinya. Maka
dari itu, itulah tujuan saya kenapa memilih Bimbingan dan Konseling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar