Akan
Kemana Setelah Mati?
“Today
is yesterday, tomorrow is today.” Kehidupan hari ini adalah hasil daripada
pilihan dari hari kemarin. Dan hari ini akan menentukan masa depan kita. Ya,
life is a choice. Makan tempe atau tahu atau keduanya, itu pilihan. Berangkat
kerja mau tepat waktu atau santai yang akhirnya jadi telat, itu pilihan. Mau
oplas atau bersyukur dengan apa yang udah dikasih, itu pilihan. Mau taat atau
ngga, itu pilihan. Namun banyak orang yang mengartikan takdir bahwa takdir lah
yang sudah membuat saya seperti sekarang ini, kalau saya belum berbuat sesuatu
berarti memang belum takdirnya. Mengartikan bahwa Allah lah yang mengurusi
semua takdir itu sehingga kita manusia hanya tinggal menunggu takdir itu
menghampiri kita, jika memang begitu berarti memberi kesan seola-olah manusia
‘dipaksa’ untuk melakukan perbuatannya. Memang Allah maha mengeahui setiap
perbuatan manusia, dan menjadikan segala sesuatu bagi Allah itu adalah perkara
yang mudah. Hanya saja itu adalah bagian daripada ilmu Allah yang benar-benar
diluar kuasa manusia dan sulit dijangkau, sehingga itu adalah benar-benar
urusan Allah.
Apabila
kita mengamati seluruh perbuatan manusia, akan kita jumpai bahwa manusia hidup
dalam dua area: area yang menguasainya dan area yang dikuasainya—Syaikh
Taqiyudin An-Naabhani (Nizhamul Islam, 2001). Terkait dengan area yang pertama
yakni area yang menguasainya. Ini berarti manusia tidak memiliki andil atas
kejadiannya, dan manusia dipaksa untuk tunduk dan diatur serta tidak bebas
memilih. Dengan kata lain inilah yang dikatakan sebagai suatu takdir yang
ditimpakan kepada manusia.sebagai contoh, hidup mati seseorang sangtlah tidak
bisa ditentukan oleh siapa pun, hanya Dialah yang berhak menentukannya. Yang
bisa manusia lakukan hanyalah tunduk kepada aturan-aturan yang telah ditetapkan
oleh Allah, agar takdir ini tidak memberikan beban sedikit pun pada kita serta
di area ini kita tidak dimintai pertanggungjawaban, karna ini adalah keputusan
Allah—apakah itu baik atau buruk. Dan
jika Allah menghendaki kita akan senantiasa dilapangkan dadanya dan
senantiasa ikhlas juga qanaah.
Adapun
area kedua yakni area yang dikuasainya. Berarti manusia memegang penuh kendali
atas ini, tidak seperti area yang menguasainya, disini manusia bebas menentukan
pilihannya. “telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)”
(Q.S Al-Balad: 10) “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan
dan ketakwaan.” (Q.S Asy-Syams: 8) dan disinilah andil manusia, ia dibebaskan
untuk memilih. Allah lah yang memberikan akal kepada manusia agar ia bisa
memahami dan mempertimbangkan segala sesuatu yang Allah berikan pula. Sebagai
contoh, hari Jumat adalah hari dimana umat muslim berkumpul. Tapi ketika dalam
perjalanan, masih banyak sekali pedangang kaki lima, masih banyak sekali mobil
dan kendaraan umum yang berseliweran. Tak menghiraukan seruan-Nya. Ketika
pedagang ataupun tukang angkot dihadapkan pada pilihan dimana yang satu adalah
untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan mencari rezeki yang menjadi suatu
kewajiban untuk menafkahi anak istrinya yang menunggu dirumah. Mereka rela
untuk tidak memenuhi panggilan-Nya, padahal dalam waktu shalat jumat yang ga
mencapai satu jam lebih kira-kira mereka hanya mendapat 20 ribu, syukur-syukur
kalau lebih dari itu. Demi 20 ribu mereka rela tidak mengindahkan
panggilan-Nya.
Itulah
salah satu kasus dimana manusia memegang andil penuh atas segala perbuatannya
Dimana tentunya hal yang demikian itu akan dimintai pertanggung jawaban di
akhirat kelak. Jadi seharusnya apabila kita diberi kekuasaan penuh atas apa
yang akan kita lakukan, lakukan lah hal
yang sebermanfaat mungkin agar hidup kita senantiasa produktif. “Dan kehidupan
dunia ini hanyalah permainan dan sendagurau. Sedangkan negeri akhirat itu
sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
(Q.S Al-An’am: 32) jadikanlahh dunia ini sebagai ladang untuk terus
berlomba-lomba dalam kebaikan dengan niat hanya untuk meraih ridho-Nya. Dan
setelah kehidupan dunia selesai,kita pun akan kembali lagi kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar