Ancaman
Asing dan Aseng
Sudahkah bisa membedakan siapa lawan dan siapa
kawan? Kafir Barat lah musuh yang nyata bagi umat muslim khususnya. Kafir Barat
dengan kapitalisme dan berbagai ide sekuler, liberal dan nasionalisme telah
bercokol di negeri kita yang tercinta ini. Disuguhi oleh tampuk kekuasaan,
siapa yang akan menolak bagi mereka yang gila kekuasaan? Itulah yang terjai di
negeri ini, akhirnya pemerintah kita saat ini dijadikan boneka oleh orang-orang
kapitalis. Dan rakyat nya menjadi kacung-kacung kapitalis, sekuler, liberal,
dan nasionalis. Terbukti ketika undang-undang yang dikeluarkan amatlah tidak
memihak pada rakyat, bukti nyata bahwa pemerintah tunduk pada korporasi.
Undang-undang yang dikeluarkan alhasil menimbulkan ketimpangan yang luar biasa
antar si kaya dan si miskin. Bahkan Menteri Perencanaan Pembangunan, Bambang
Brodjonegoro pada pertengahan November lalu mengatakan “Ekonomi Indonesia saat
ini tidak jauh beda dengan kondisi ekonomi saat dijajah Belanda. Mantan
presiden kita, BJ Habibie juga megatakan “Ini adalah penjajahandalam bentuk
baru, neo-colonialism atau VOC dengan
baju baru”
Penjajah Asing dan Aseng kini sudah memasuki berbagi
sector di Tanah Air, dengan dalih investasi, pemerintah mengizinkan pemodal
asing masuk ke negeri ini. Di sector perkebunan, data dari Sawit Watch
menyebutkan sekitar 50% dari luas areal perusahaan perkebunan sawit di
Indonesia sekitar 7,8 juta hektar milik asing. Perbandingannya 70:30, 70%
dikuasai asing dan sisanya dimiliki warga. Pun dalam sector kakao Indonesia,
sebanyak 75% pabrik pengolahannya adalah perusahaan multinasional. Di pasar
saham, dominasi asing sangat tinggi, dan di bidang migas ada 60 kontraktor
asing yang telah menguasai 90% migas. Itu barulah asing yang segitu saja
layaknya sudah menguasai hampir seluruh Indonesia. Sedangkan peran aseng dalam
menguasai negeri ini adalah melalui pembangunan infrastuktur Indonesia telah
dikuasai oleh Tiongkok, yang telah dipastikan dalam Konferensi Asia-Afrika.
Reklamasi pantai di Jakarta pun sesungguhnya bukanlah untuk warga setempat
melainkan untuk kaum kapitalis aseng. Pemerintah seakan memberikan jalan mulus
bahkan karpet merah bagi kaum kapitalis asing dan aseng melaui Paket Kebijakan
Ekonomi Jilid X yang disitu pemerintah telah mengizinkan pihak asing untuk
menguasai berbagai sector di Tanah Air. Selain penjajahan melalui pengalihan
kekayaan alam ke negara lain, penjajahan pun dilakukan melalui hutang. Perlu
diketahui bersama anggaran keuangan negara kita itu didasarkan pada pajak dan
hutang. Padahal kita memiliki begitu banyak kekayaan alam. Dua tahun Jokowi
berkuasa, ia berhasil mencatat sejarah utang luar negeri Indonesia yang begitu
fantastis. Pada tahun 2016, hutang luar negeri melonjak sekitar Rp 750 triliyun
selama dua tahun Jokowi berkuasa. Pada tahun ini,pemerintah harus mengelurkan
Rp 210 triliyun untuk membayar bunga daripada hutang-hutangnya. Pemberian
hutang oleh negara lain, khususnya Cina tentu tidak gratis. Selain ada bunga
nya, ada persyaratan yang lain salah satunya adalah dalam penggarapan proyek
haruslah bekerjasama dengan BUMN Cina.
Omong kosong tentang bela negara, nasionalisme jika
kenyataannya malah menggadaikan kekayaan negeri pada asing dan aseng yang
jelas-jelas mereka lah lawan kita sebenarnya. Maka Islam telah memberikan solusi
terbaik atas segala carut marut dalam negeri ini, yakni dengan pendistribusian
yang merata dengan mengendalikan peran negara. Sungguh Islam bukanlah ancaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar