Rabu, 28 Desember 2016

Asing dan Aseng

Ancaman Asing dan Aseng
Sudahkah bisa membedakan siapa lawan dan siapa kawan? Kafir Barat lah musuh yang nyata bagi umat muslim khususnya. Kafir Barat dengan kapitalisme dan berbagai ide sekuler, liberal dan nasionalisme telah bercokol di negeri kita yang tercinta ini. Disuguhi oleh tampuk kekuasaan, siapa yang akan menolak bagi mereka yang gila kekuasaan? Itulah yang terjai di negeri ini, akhirnya pemerintah kita saat ini dijadikan boneka oleh orang-orang kapitalis. Dan rakyat nya menjadi kacung-kacung kapitalis, sekuler, liberal, dan nasionalis. Terbukti ketika undang-undang yang dikeluarkan amatlah tidak memihak pada rakyat, bukti nyata bahwa pemerintah tunduk pada korporasi. Undang-undang yang dikeluarkan alhasil menimbulkan ketimpangan yang luar biasa antar si kaya dan si miskin. Bahkan Menteri Perencanaan Pembangunan, Bambang Brodjonegoro pada pertengahan November lalu mengatakan “Ekonomi Indonesia saat ini tidak jauh beda dengan kondisi ekonomi saat dijajah Belanda. Mantan presiden kita, BJ Habibie juga megatakan “Ini adalah penjajahandalam bentuk baru, neo-colonialism atau VOC dengan baju baru”
Penjajah Asing dan Aseng kini sudah memasuki berbagi sector di Tanah Air, dengan dalih investasi, pemerintah mengizinkan pemodal asing masuk ke negeri ini. Di sector perkebunan, data dari Sawit Watch menyebutkan sekitar 50% dari luas areal perusahaan perkebunan sawit di Indonesia sekitar 7,8 juta hektar milik asing. Perbandingannya 70:30, 70% dikuasai asing dan sisanya dimiliki warga. Pun dalam sector kakao Indonesia, sebanyak 75% pabrik pengolahannya adalah perusahaan multinasional. Di pasar saham, dominasi asing sangat tinggi, dan di bidang migas ada 60 kontraktor asing yang telah menguasai 90% migas. Itu barulah asing yang segitu saja layaknya sudah menguasai hampir seluruh Indonesia. Sedangkan peran aseng dalam menguasai negeri ini adalah melalui pembangunan infrastuktur Indonesia telah dikuasai oleh Tiongkok, yang telah dipastikan dalam Konferensi Asia-Afrika. Reklamasi pantai di Jakarta pun sesungguhnya bukanlah untuk warga setempat melainkan untuk kaum kapitalis aseng. Pemerintah seakan memberikan jalan mulus bahkan karpet merah bagi kaum kapitalis asing dan aseng melaui Paket Kebijakan Ekonomi Jilid X yang disitu pemerintah telah mengizinkan pihak asing untuk menguasai berbagai sector di Tanah Air. Selain penjajahan melalui pengalihan kekayaan alam ke negara lain, penjajahan pun dilakukan melalui hutang. Perlu diketahui bersama anggaran keuangan negara kita itu didasarkan pada pajak dan hutang. Padahal kita memiliki begitu banyak kekayaan alam. Dua tahun Jokowi berkuasa, ia berhasil mencatat sejarah utang luar negeri Indonesia yang begitu fantastis. Pada tahun 2016, hutang luar negeri melonjak sekitar Rp 750 triliyun selama dua tahun Jokowi berkuasa. Pada tahun ini,pemerintah harus mengelurkan Rp 210 triliyun untuk membayar bunga daripada hutang-hutangnya. Pemberian hutang oleh negara lain, khususnya Cina tentu tidak gratis. Selain ada bunga nya, ada persyaratan yang lain salah satunya adalah dalam penggarapan proyek haruslah bekerjasama dengan BUMN Cina. 

Omong kosong tentang bela negara, nasionalisme jika kenyataannya malah menggadaikan kekayaan negeri pada asing dan aseng yang jelas-jelas mereka lah lawan kita sebenarnya. Maka Islam telah memberikan solusi terbaik atas segala carut marut dalam negeri ini, yakni dengan pendistribusian yang merata dengan mengendalikan peran negara. Sungguh Islam bukanlah ancaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar