Dunia
Hari Ini
Bumi adalah tempat dimana 6,5 milyar manusia
bergantung, tempat manusia berpijak dan melagsungkan kehidupan. Sama halnya
dengan manusia, 2/3 dari bumi pun terdiri daripada air. Karna seperti apa yang
kita ketahui air adalah sumber kehidupan. Penciptaan alam semesta termasuk bumi
di dalamnya, kehidupan dan manusia yang begitu luar biasa membuat kita percaya
bahwa ada Sang Pencipta dibalik ini semua, pencipta yang melebihi segalanya,
dan atas dasar inilah kita merasa lemah juga membuat kita senantiasa pasrah,
karna kitalah mahluk yang lemah dan terbatas, sedangkan Sang Pencipta jelasalah
bukan mahluk, karna jika Sang Pencipta sama seperti kita maka mustahil adanya
keluarbiasaan yang ada di sekeliling kita, ya Dialah Allah SWT. Seiring berkembangnya
zaman, dunia punikut berubah dan kita harus berbenah.
Di dunia kita hari ini begitu banyak Negara-negara
dengan berbagai peraturan yang berbeda tentunya. Dibatasi dengan garis
territorial, bahasa, budaya dan kebiasaan. Hingga Indonesia yang hanya berbeda
bahasa, sejarah, dan budaya dengan Malaysia menjadi dua Negara padahal hanya
daratan yang memisahkan. Perbedaan inilah yang membuat Negara-negara lain menjadi
disibukkan oleh berbagai administrasi dalam negaranya. Tatkala membangun
hubungan diplomasi dengan Negara lain, tak lain itu hanyalah demi keuntungan
dan kepentingan kedua Negara itu. Tak jarang kesepakatan yang diambil bisa saja
merugikan pihak di luar kedua negara tersebut.
Itu mungkin sedikit potret dunia saat ini. Di
Indonesia sendiri, demi mempertahankan keutuhan wilayahnya, juga agar tidak
diganggu dan mendapat ancaman dari luar maka diikatlah warga negara Indonesia
dengan ikatan Nasionalisme. Nasionalisme diartikan sebagai wujud dari kecintaan
terhadap negeri dimana tempat kita tinggal, hal yang demikian memang harus
adanya. Dan kewajiban kita sebagai warga negara nya untuk mempertahankan
keutuhan negara. Tapi dari apa yang terjadi saat ini, ternyata meskipun idde
Nasionalisme ini digaungkan dari beberapa tahun silam untuk mempertahankan
negara ini dari berbagai ancaman, nyatanya kesatuan dan persatuan rakyat
Indonesia belum juga terwujud sampai saat ini. maka langsung dapat dibuktikan
bahwa ikatan nasionalisme gagal untuk membawa manusia pada kemajuan dan
kebangkitan. Coba saya ingin bertanya, kapan rasa nasionalisme itu muncul? Saat
kemarin Indonesia v Thailand? Saat pulau Indonesia dicuri oleh tetangga? Saat
budaya Indonesia dicuri oleh negara
tetangga? Akui saja, memang hanya pada saat itulah rasa Nasionalisme
muncul. Hanya saat ada ancaman. Maka dapat disimpulkan bahwa ikatan
Nasionalisme ini emosional sifatnya. Nasionalisme hanyalah salah satu upaya
untuk mengadakan sekat-sekat antar negara.
Saya ingin
bertanya lagi, disaat Aleppo dibombardir oleh Bashar Assad, apa yang bisa kita
lakukan sebagai salah satu negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia?
Tidak banyak, bukan? Berbagai sumbangan telah kita galakkan diberbagai daerah,
doa-doa telah kita lantunkan disetiap shalat kita. Tapi apakah itu yang rakyat
Aleppo butuhkan? Ya memang itu suatu kebutuhan pokok yang musti dipenuhi. Tapi
bukan hanya sekedar itu! mereka butuh pelindung, yang melindungi hak-hak
mereka. Disaat rakyat Aleppo sudah 5 tahunlamanya mengalami penderitaan demi
penderitaan yang makin parah, kemana orang-orang HAM yang katanya mereka adalah
wadah daripada segala hak asasi manusia. mereka mengaku orang-orang humanis,
tapi mereka tidak menunjukkan rasa kemanusiaan sama sekali. Inilah hasil
daripada adanya sekat-sekat negara, membuat rakyatnya menjadi bersifat individualis.
Dan inilah ide-ide yang dihembuskan oleh musuh-musuh islam agar umat islam
terpecah belah. Dan kini mereka telah berhasil memasuki ide-ide mereka ke dalam
pemikiran umat muslim. Hanya dalam daulah Islam lah akidah akan terjaga, dan
mampu mempersatukan umat dari segala penjuru dunia dengan kekuatan akidah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar