Rabu, 28 Desember 2016

Today

Dunia Hari Ini
Bumi adalah tempat dimana 6,5 milyar manusia bergantung, tempat manusia berpijak dan melagsungkan kehidupan. Sama halnya dengan manusia, 2/3 dari bumi pun terdiri daripada air. Karna seperti apa yang kita ketahui air adalah sumber kehidupan. Penciptaan alam semesta termasuk bumi di dalamnya, kehidupan dan manusia yang begitu luar biasa membuat kita percaya bahwa ada Sang Pencipta dibalik ini semua, pencipta yang melebihi segalanya, dan atas dasar inilah kita merasa lemah juga membuat kita senantiasa pasrah, karna kitalah mahluk yang lemah dan terbatas, sedangkan Sang Pencipta jelasalah bukan mahluk, karna jika Sang Pencipta sama seperti kita maka mustahil adanya keluarbiasaan yang ada di sekeliling kita, ya Dialah Allah SWT. Seiring berkembangnya zaman, dunia punikut berubah dan kita harus berbenah.
Di dunia kita hari ini begitu banyak Negara-negara dengan berbagai peraturan yang berbeda tentunya. Dibatasi dengan garis territorial, bahasa, budaya dan kebiasaan. Hingga Indonesia yang hanya berbeda bahasa, sejarah, dan budaya dengan Malaysia menjadi dua Negara padahal hanya daratan yang memisahkan. Perbedaan inilah yang membuat Negara-negara lain menjadi disibukkan oleh berbagai administrasi dalam negaranya. Tatkala membangun hubungan diplomasi dengan Negara lain, tak lain itu hanyalah demi keuntungan dan kepentingan kedua Negara itu. Tak jarang kesepakatan yang diambil bisa saja merugikan pihak di luar kedua negara tersebut.
Itu mungkin sedikit potret dunia saat ini. Di Indonesia sendiri, demi mempertahankan keutuhan wilayahnya, juga agar tidak diganggu dan mendapat ancaman dari luar maka diikatlah warga negara Indonesia dengan ikatan Nasionalisme. Nasionalisme diartikan sebagai wujud dari kecintaan terhadap negeri dimana tempat kita tinggal, hal yang demikian memang harus adanya. Dan kewajiban kita sebagai warga negara nya untuk mempertahankan keutuhan negara. Tapi dari apa yang terjadi saat ini, ternyata meskipun idde Nasionalisme ini digaungkan dari beberapa tahun silam untuk mempertahankan negara ini dari berbagai ancaman, nyatanya kesatuan dan persatuan rakyat Indonesia belum juga terwujud sampai saat ini. maka langsung dapat dibuktikan bahwa ikatan nasionalisme gagal untuk membawa manusia pada kemajuan dan kebangkitan. Coba saya ingin bertanya, kapan rasa nasionalisme itu muncul? Saat kemarin Indonesia v Thailand? Saat pulau Indonesia dicuri oleh tetangga? Saat budaya Indonesia dicuri oleh negara  tetangga? Akui saja, memang hanya pada saat itulah rasa Nasionalisme muncul. Hanya saat ada ancaman. Maka dapat disimpulkan bahwa ikatan Nasionalisme ini emosional sifatnya. Nasionalisme hanyalah salah satu upaya untuk mengadakan sekat-sekat antar negara.
Saya  ingin bertanya lagi, disaat Aleppo dibombardir oleh Bashar Assad, apa yang bisa kita lakukan sebagai salah satu negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia? Tidak banyak, bukan? Berbagai sumbangan telah kita galakkan diberbagai daerah, doa-doa telah kita lantunkan disetiap shalat kita. Tapi apakah itu yang rakyat Aleppo butuhkan? Ya memang itu suatu kebutuhan pokok yang musti dipenuhi. Tapi bukan hanya sekedar itu! mereka butuh pelindung, yang melindungi hak-hak mereka. Disaat rakyat Aleppo sudah 5 tahunlamanya mengalami penderitaan demi penderitaan yang makin parah, kemana orang-orang HAM yang katanya mereka adalah wadah daripada segala hak asasi manusia. mereka mengaku orang-orang humanis, tapi mereka tidak menunjukkan rasa kemanusiaan sama sekali. Inilah hasil daripada adanya sekat-sekat negara, membuat rakyatnya menjadi bersifat individualis. Dan inilah ide-ide yang dihembuskan oleh musuh-musuh islam agar umat islam terpecah belah. Dan kini mereka telah berhasil memasuki ide-ide mereka ke dalam pemikiran umat muslim. Hanya dalam daulah Islam lah akidah akan terjaga, dan mampu mempersatukan umat dari segala penjuru dunia dengan kekuatan akidah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar