Rabu, 28 Desember 2016

Radikalisme

Radikalisme
Sejak runtuhnya kehilafahan terakhir pada tahun 1924 yakni kekhilafahan Utsmianiyah, umat Islam sudah resmi layaknya ayam yang kehilangan induknya. Tanpa adanya komando yang satu, kini umat Islam terpecah belah bahkan tak jarang kita temui adanya permusuhan antar umat Islam. Tanpa adanya pelindung, kini umat Islam sudah tergerus identitasnya sebagai muslim. Tanpa adanya benteng pertahanan  yang satu, berbagai fitnah ditujukkan untuk umat Islam. Padahal ketika umat Islam berada di bawah satu komando, ketika umat Islam terlindungi, dan keika umat Islam memiliki benteng pertahanan yang kuat, umat Islam mampu membawa kegemilangan dan kebangkitan untuk dunia, mencetak generasi-generasi yang memiliki daya intelektual yang tinggi. Tentunya hal yang demikian dapat diraih karna kekuatan akidah yang mampu membuat umat menjadi satu suara, satu perasaan, dan satu gerakan. Tapi faktanya umat Islam saat ini amat jauh dari hal yang demikian tadi. Miris ketika umat Islam saat ini tidak tahu menahu tujuan hidupnya, miris ketika umat Islam hanya mementingkan dirinya sendiri, miris ketika perubahan yang dilakukan hanyalah perubahan yang parsial saja, sedangkan dunia ini sudah sampai pada titik kehancurannya kalau boleh dibilang, dan amat miris ketika kini umat muslim takut akan agamanya sendiri.
Semua yang terjadi saat ini tak lepas dari peran kafir Barat, musuh umat yang sesungguhnya. Tiada hentinya kaum kafir Barat mengupayakan segala cara untuk menguasai kaum muslim, untuk menghentikan segala kegiatan aktivis Islam, semua ini mereka lakukan agar Islam  tidak bangkit lagi dan berada dalam keterpurukan selamanya. Sesungguhnya mereka amat takut apabila Islam kembali bangkit, karna giliran mereka yang akan terhinakan. Meskipun berbagai upaya yang mereka lakukan telah berhasil menjauhkan umat dari Islam, tapi mereka lupa masih ada orang-orang yang teguh dan yakin dengan akidahnya. Hingga satu-satunya cara untuk membungkam mereka yang masih teguh dengan akidahnya yakni dengan cara yang illegal. Dengan memberikan istilah yang abu-abu kepada umat dan  dapat dicari justifikasi (pembenaran, bukan kebenaran). Maka akhirnya mereka memberi istilah radikalisme kepada umat yang masih memperjuangkan Islam dan  menyeru pada kebangkitan Islam dalam naungan Khilafah.
Jika ditilik lebih lanjut tentang radikalisme, radikalisme berasal dari kata radikal. Kata radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa latin artinya akar. Dalam KBBI radikal memiliki arti mendasar (sampai pada prinsip); sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); maju dalam berpikir dan bertindak. Maka dari sini berarti radikal adalah istilah yang netral. Sebagai contoh, dalam dunia kedokteran saat seorang mengidap kanker payudara alternative terapinya adalah pengangkat dan pembedahan tumor tersebut. Jika pengangkatan tumor tersebut mencakup seluruh massa payudara maka itu disebut mastektomi radikal  (pengankatan menyeluruh atau mendasar), dan jika mencakup bagian tertentu atau hanya sebagian saja, maka disebut mastektomi parsial. Maka dengan ini, dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yng radikal, pun dengan 2 ideologi lainnya yakni Kapitalisme dan Sosialisme. Mengapa demikian, karena ketiga ideology tadi mampu menjawab ketiga  pertanyaan mendasar yang ada pada manusia. Hanya saja Kapitalisme dan Sosialisme dalam menjawabnya tidak mampu memuaskan akal dan tidak sesuai dengan fitrah manusia.
Jika radikal ditambah dengan isme maka menjadi radikalisme yang menurut KBBI memiliki arti: paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yag radikal  dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastic; sikap ekstrem dalam aliran politik. Menurut Wikipedia, radikalisme adalah suatu paham yangdibuat oelh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik secara drastic dengan cara kekerasan. Hingga dapat dipastikan sampai sini bahwa Islam adalah agama yang radikal, tapi Islam menolak radikalisme karna amat bertolak belakang dengan Islam. Sebagaimana dalam firman Allah: “Tak ada paksaan dalam memeluk Islam.” (QS Al-Baqarah: 256)
Sepakat?


SUMBER: Al-Wa’ie bulan Oktober; Radikalisme dan Terorisme Propaganda Menyerang Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar