Keterikatan
Hukum Syara
Naluri yang ada pada setiap manusia hanya bisa
dikendalikan dan ditundukan oleh suatu aturan, dimana aturan tersebut sesuai
dengan fitrah manusia serta memuaskan akal. Tidak bisa aturan tersebut
diserahkan pada manusia sepenuhnya, walaupun ia adalah seorang intelektual yang
mengerti sepenuhnya tentang kehidupan tetap saja tidak bisa dijadikan landasan
karena akal manusia lemah dan terbatas sifatnya. Juga jika diserahkan
sepenuhnya pada manusia yang pada hakikatnya manusia senang dengan kekuasaan,
maka ia akan mengendalikan aturan tersebut degan hawa nafsunya, sekali lagi ini
sangta tidak bisa dijadikan landasan karna hawa nafsu berkaitan dengan ego juga
emosi yang cenderung berubah-ubah. Maka suatu aturan untuk mengatur manusia haruslah
yang mengerti sepenuhnya tentang manusia. Yang mengatur hubungannya dengan
Tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan sesama. Segenap aturan inilah yang
akan membuat naluri manusia senantiasa tunduk agar ia bisa menjalani
kehidupannya senantiasa bermanfaat dan jelas apa yang akan ia tuju dalam
kehidupannya. Karena setiap perbuatan manusia akan senantiasa diperhitungkan
dan akan dimintai pertanggung jawaban.
Jika dikaitkan dengan ketiga ideology yang ada di
dunia—kapitalisme, sosialisme dan islam, setiap ideology pasti mempunyai aturan
yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya dan ddengan sesama
karna ideology itu sendiri itu terdiri dari akidah dan thariqah (tata cara
menyalurkan akidah itu) yang dimana akidah adalah pondasi berpikir kita yang di
dalamnya terkandung pemikiran tentang hakikat keberadaan manusia. Dan thariqah
adlah bagaimana pengaplikasian akidah itu dalam kehidupan yang akan mengatur
setiap kehidupan manusia. Meskipun demikian ideology Sosialisme menafikkan
Tuhan dari kehidupannya karna mereka percaya bahwa segala sesuatu itu berasal
dari materi dan akan kembali lagi menjadi materi maka tak heran tujuan hidupnya
hanya untuk mencari materi. Ideology sosialisme lahir akibat adanya pertikaian
antar golongan yang akhirnya memunculkan suatu peraturan yang dikenal dengan
semboyan ‘sama rata sama rasa’ peraturan ini sudah Nampak sekali
ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia dan tidak memuaskan akal yang
insyaAllah akan dibahas di tulisan selanjutnya. Terkait dengan ideology kapitalisme
yang berakidah sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan. Ideology ini
lahir akibat adanya trauma terhadap gereja yang dimana pada saat itu gereja
yang memegang kuasa penuh atas segala aturan, tapi pada penyelengaraannya
banyak orang-orang gereja yang melakukan penindasan, penyelewengan terhadap
hukum yang membuat rakyatnya sudah tidak percaya lagi terhadap mereka. Akhirnya
ilmuwan yang hidup di masa itu memutusan agar kekacauan yang timbul akibat
gereja segera berakhir maka gereja tidak perlu lagi mengurusi kehidupan rakyat.
Ideology ini membuat manusia lah yang berhak menentukan segala peraturan dan
jangan sampai agama ikut andil dalam pembuatan aturan ini. Dan yang terakhir
adalah islam, dalam kitab Al-Quran yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah SAW,
Allah telah menjelaskan secara rinci bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya
(Q.S Az-Zariyat: 56), bagaimana hubungannya dengan diri sendiri yang
berhubungan dengan ibadah mahdhah. Dan hubungannya dengan sesama seperti
berkonomi, berpolitik, pendidikan, kesehatan, dsbg. Semua aturan ini sudah
Allah ‘rancang’ sebaik mungkin demi tercapainya kemaslahatan manusia, karena
Allah lah yang mengerti sepenuhnya keadaan manusia. Perlu ditekankan, islam
bukanlah hanya seputar ibadah ritual saja, tapi islam mengatur segala aspek
kehidupan mulai dari bangun tidur sampai bangun peradaban. Maka dari itu islam
layak dikatakan sebagai ideology.
Hanya dengan islam lah segala naluri yang ada pada
manusia dapat ditundukan, melalui hukum syara lah islam mengaturnya. Apabila
kita telah tunduk kepada hukum syara maka kepribadian yang baik lagi unik akan
terbentuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar