Rabu, 28 Desember 2016

Keterikatan Hukum Syara

Keterikatan Hukum Syara
            Naluri yang ada pada setiap manusia hanya bisa dikendalikan dan ditundukan oleh suatu aturan, dimana aturan tersebut sesuai dengan fitrah manusia serta memuaskan akal. Tidak bisa aturan tersebut diserahkan pada manusia sepenuhnya, walaupun ia adalah seorang intelektual yang mengerti sepenuhnya tentang kehidupan tetap saja tidak bisa dijadikan landasan karena akal manusia lemah dan terbatas sifatnya. Juga jika diserahkan sepenuhnya pada manusia yang pada hakikatnya manusia senang dengan kekuasaan, maka ia akan mengendalikan aturan tersebut degan hawa nafsunya, sekali lagi ini sangta tidak bisa dijadikan landasan karna hawa nafsu berkaitan dengan ego juga emosi yang cenderung berubah-ubah. Maka suatu aturan untuk mengatur manusia haruslah yang mengerti sepenuhnya tentang manusia. Yang mengatur hubungannya dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan sesama. Segenap aturan inilah yang akan membuat naluri manusia senantiasa tunduk agar ia bisa menjalani kehidupannya senantiasa bermanfaat dan jelas apa yang akan ia tuju dalam kehidupannya. Karena setiap perbuatan manusia akan senantiasa diperhitungkan dan akan dimintai pertanggung jawaban.
            Jika dikaitkan dengan ketiga ideology yang ada di dunia—kapitalisme, sosialisme dan islam, setiap ideology pasti mempunyai aturan yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya dan ddengan sesama karna ideology itu sendiri itu terdiri dari akidah dan thariqah (tata cara menyalurkan akidah itu) yang dimana akidah adalah pondasi berpikir kita yang di dalamnya terkandung pemikiran tentang hakikat keberadaan manusia. Dan thariqah adlah bagaimana pengaplikasian akidah itu dalam kehidupan yang akan mengatur setiap kehidupan manusia. Meskipun demikian ideology Sosialisme menafikkan Tuhan dari kehidupannya karna mereka percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari materi dan akan kembali lagi menjadi materi maka tak heran tujuan hidupnya hanya untuk mencari materi. Ideology sosialisme lahir akibat adanya pertikaian antar golongan yang akhirnya memunculkan suatu peraturan yang dikenal dengan semboyan ‘sama rata sama rasa’ peraturan ini sudah Nampak sekali ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia dan tidak memuaskan akal yang insyaAllah akan dibahas di tulisan selanjutnya. Terkait dengan ideology kapitalisme yang berakidah sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan. Ideology ini lahir akibat adanya trauma terhadap gereja yang dimana pada saat itu gereja yang memegang kuasa penuh atas segala aturan, tapi pada penyelengaraannya banyak orang-orang gereja yang melakukan penindasan, penyelewengan terhadap hukum yang membuat rakyatnya sudah tidak percaya lagi terhadap mereka. Akhirnya ilmuwan yang hidup di masa itu memutusan agar kekacauan yang timbul akibat gereja segera berakhir maka gereja tidak perlu lagi mengurusi kehidupan rakyat. Ideology ini membuat manusia lah yang berhak menentukan segala peraturan dan jangan sampai agama ikut andil dalam pembuatan aturan ini. Dan yang terakhir adalah islam, dalam kitab Al-Quran yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah SAW, Allah telah menjelaskan secara rinci bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya (Q.S Az-Zariyat: 56), bagaimana hubungannya dengan diri sendiri yang berhubungan dengan ibadah mahdhah. Dan hubungannya dengan sesama seperti berkonomi, berpolitik, pendidikan, kesehatan, dsbg. Semua aturan ini sudah Allah ‘rancang’ sebaik mungkin demi tercapainya kemaslahatan manusia, karena Allah lah yang mengerti sepenuhnya keadaan manusia. Perlu ditekankan, islam bukanlah hanya seputar ibadah ritual saja, tapi islam mengatur segala aspek kehidupan mulai dari bangun tidur sampai bangun peradaban. Maka dari itu islam layak dikatakan sebagai ideology.

            Hanya dengan islam lah segala naluri yang ada pada manusia dapat ditundukan, melalui hukum syara lah islam mengaturnya. Apabila kita telah tunduk kepada hukum syara maka kepribadian yang baik lagi unik akan terbentuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar