Rabu, 28 Desember 2016

411

411
411. Masih menjadi perbincagan hangat bukan? Bagaimana tidak, jutaan umat muslim datang berbondong-bondong ke ibu kota untuk menuntut seseorang yang melalui mulut manisnya dengan jelas ia mengatakan bahwa salah satu ayat yang ada dalam kitab suci mereka ia katakan ayat itu merupakan suatu hal pembodohan, suatu ayat yang digunakan oleh para pengecut untuk melawannya dari belakang. Kurang lebih begitu paparannya. Sebelum aksi besar itu terjadi, dan bagaimana aksi besar itu bisa terjadi, sebenarnya boleh diakui jika hal ini dikarenakan ada suatu kelompok agama yang amat gencar opininya terkait haramnya memilih pemimpin kafir. Suatu gerakan yang masif ini sebenarnya salah satu tujuan kelompok tersebut untuk menyadarkan masyarakat bahwa keadaan umat muslim mulai terancam atau bahkan sudah terancam. Dengan adanya pemimpin kafir ia bukan hanya akan memimpin, tapi pasti ada tujuan dibalik itu semua. Juga untuk menyadarkan masyarakat khususnya bahwa hal yang demikian bisa terjadi karena kita menerapkan system demokrasi. Demokrasilah yang menjadikan suara rakyat menjadi suara tuhan, yang halal jadi haram dan yang haram jadi halal. Itulah yang terjadi apabila kedaulatan diserahkan kepada rakyat. Dengan adanya kebebasan dalam demokrasi maka pemimpin kafir yang seperti itu layakanya diberikan karpet merah oleh demokrasi, dan layaknya diberi lampu hijau untuk memuluskan seluruh kepentigannya.  System yang diterapkan saat inilah yang menimbulkan segala permasalahan yang ada. Sebenarnya dengan adanya kasus penistaan ini, masyarakat seharusnya semakin sadar bahwa demokrasi nyatanya tidak bisa mensejahterakan, yang katanya demokrasi dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat nyatanya sama sekali tidak memihak rakyat. Katanya demokrasi sepenuhnya mendengarkan aspirasi rakyat, tapi ketika rakyat berbondong-bondong datang untuk menyampaikan aspirasinya, sang penguasa malah melarikan diri seakan itu bukan merupakan hal yang penting. Bukankah tugas penguasa melayani penuh keinginan rakyatnya agar tercapai suatu kesejahteraan?
Luar biasanya zaman ini ketika jelas-jelas ada penistaan terhadap Al-Quran, mereka, orang-orang yang ada di pihak sang penista begitu besar upaya mereka untuk melindungi sang penista. malah menyebutkan bahwa kami, yang melakukan aksi tersebut disebut rasis, disebut akan mengancm keutuhan NKRI, dan berbagai macam lagi mereka katakan untuk membuat seolah-olah aksi ini malah akan menimbulkan keributan yang besar. Begitu luar biasanya zaman ini, berikut peran media yang senantiasa mengalihkan fokus utama permasalahan. Sama halnya dengan orang nomor satu di Indonesia kita yang tercinta ini, ia malah menyerukan agar aksi ini tidak anarkis. Ia sekakan-akan ingin mengalihkan fokus kita agar tidak terpusat pada permasalahan utama yakni penistaan yang dilakukan oleh cagub Jakarta, Ahok.
Jelas aksi ini bukanlah permasalahan SARA, tapi lebih kepada mempertanyakan ketegasan hukum yag ada di Indonesia. Jika memang Indonesia adalah Negara hukum, maka jalankanlah hukum dengan sebgaimana mestinya tidak perlu pandang bulu, jika ia salah maka tindak kanjut dan langsungkan proses hukum. Anehnya kasus yang satu ini, yang sudah jelas siapa pelakunya, ada buktinya dan siapa saksinya. Tapi proses hukum amatlah lamban untuk dilaksanakan, kasus ini begitu luar biasa hingga untuk melangsungkan proses hukum jutaanumat musti turun dulu ke  jalan barulah proses itu dimulai. Jika umat tidak melakukan hal yang demikian, mungkin kasus itu tidak akan ditindak lanjut. Megapa hukum di Indonesia ini begitu runcing ke bawah dan tumpul ke atas? Kapitalisme lah jawabannya. Sesungguhnya demokrasi adalah salah satu ide daripada idoeologi kapitalis ini, yang berarti secara tidak lansung Indonesia dan negeri manapun yang menggunakan demokrasi telah menerapkan ideology Kapitalisme baik secara sadar ataupun tidak. Ideology yang berakidahkan sekularisme inilah yang membawa masyarakat pada jurang kehancuran. Dengan ide pemisahan agama dari kehidupan inilah sebuah kehancuran berawal. Apalah jadinya jika suatu aturan tidak diiringi dengan agama? Dan bagaimana sebaliknya jika agama tidak diiringi dengan segenap aturan kehidupan? Kehancuran lah yang akan kita hadapi. Siapalah kita ini hingga berani-beraninya membuat aturan tanpa dilandaskan aturanNya? Padahal Allah telah memperingati kita dalam firmannya: “apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini agamanya?” (Q.S Al-Maidah:50)

 Berjuta umat dari seluruh penjuru negeri datang untuk membela kitab suci nya. Mereka datang atas panggilan keimanan.  Habib Rizieq tidak mungkin menggerakan massa yang sebnayak ini, pun dengan Ust Ismail Yusanto atau Aa Gym. Bukan karena merekalah kami datang, tapi atas izin dan kuasa Allah lah kami datang. Semoga dengan adanya aksi ini umat makin sadar bahwa ada suatu hal yang musti kita ubah. Semoga kita semua senantiasa kembali taat pada aturanNya. Semoga janjiNya akan segera tiba, yakni kemenangan umat Islam. Allahu Akbar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar