411
411. Masih menjadi
perbincagan hangat bukan? Bagaimana tidak, jutaan umat muslim datang
berbondong-bondong ke ibu kota untuk menuntut seseorang yang melalui mulut
manisnya dengan jelas ia mengatakan bahwa salah satu ayat yang ada dalam kitab
suci mereka ia katakan ayat itu merupakan suatu hal pembodohan, suatu ayat yang
digunakan oleh para pengecut untuk melawannya dari belakang. Kurang lebih
begitu paparannya. Sebelum aksi besar itu terjadi, dan bagaimana aksi besar itu
bisa terjadi, sebenarnya boleh diakui jika hal ini dikarenakan ada suatu
kelompok agama yang amat gencar opininya terkait haramnya memilih pemimpin
kafir. Suatu gerakan yang masif ini sebenarnya salah satu tujuan kelompok
tersebut untuk menyadarkan masyarakat bahwa keadaan umat muslim mulai terancam
atau bahkan sudah terancam. Dengan adanya pemimpin kafir ia bukan hanya akan
memimpin, tapi pasti ada tujuan dibalik itu semua. Juga untuk menyadarkan
masyarakat khususnya bahwa hal yang demikian bisa terjadi karena kita
menerapkan system demokrasi. Demokrasilah yang menjadikan suara rakyat menjadi
suara tuhan, yang halal jadi haram dan yang haram jadi halal. Itulah yang
terjadi apabila kedaulatan diserahkan kepada rakyat. Dengan adanya kebebasan
dalam demokrasi maka pemimpin kafir yang seperti itu layakanya diberikan karpet
merah oleh demokrasi, dan layaknya diberi lampu hijau untuk memuluskan seluruh
kepentigannya. System yang diterapkan
saat inilah yang menimbulkan segala permasalahan yang ada. Sebenarnya dengan
adanya kasus penistaan ini, masyarakat seharusnya semakin sadar bahwa demokrasi
nyatanya tidak bisa mensejahterakan, yang katanya demokrasi dari rakyat untuk
rakyat dan oleh rakyat nyatanya sama sekali tidak memihak rakyat. Katanya
demokrasi sepenuhnya mendengarkan aspirasi rakyat, tapi ketika rakyat
berbondong-bondong datang untuk menyampaikan aspirasinya, sang penguasa malah
melarikan diri seakan itu bukan merupakan hal yang penting. Bukankah tugas
penguasa melayani penuh keinginan rakyatnya agar tercapai suatu kesejahteraan?
Luar biasanya zaman ini
ketika jelas-jelas ada penistaan terhadap Al-Quran, mereka, orang-orang yang
ada di pihak sang penista begitu besar upaya mereka untuk melindungi sang
penista. malah menyebutkan bahwa kami, yang melakukan aksi tersebut disebut
rasis, disebut akan mengancm keutuhan NKRI, dan berbagai macam lagi mereka
katakan untuk membuat seolah-olah aksi ini malah akan menimbulkan keributan
yang besar. Begitu luar biasanya zaman ini, berikut peran media yang senantiasa
mengalihkan fokus utama permasalahan. Sama halnya dengan orang nomor satu di
Indonesia kita yang tercinta ini, ia malah menyerukan agar aksi ini tidak
anarkis. Ia sekakan-akan ingin mengalihkan fokus kita agar tidak terpusat pada
permasalahan utama yakni penistaan yang dilakukan oleh cagub Jakarta, Ahok.
Jelas aksi ini bukanlah
permasalahan SARA, tapi lebih kepada mempertanyakan ketegasan hukum yag ada di
Indonesia. Jika memang Indonesia adalah Negara hukum, maka jalankanlah hukum
dengan sebgaimana mestinya tidak perlu pandang bulu, jika ia salah maka tindak
kanjut dan langsungkan proses hukum. Anehnya kasus yang satu ini, yang sudah
jelas siapa pelakunya, ada buktinya dan siapa saksinya. Tapi proses hukum
amatlah lamban untuk dilaksanakan, kasus ini begitu luar biasa hingga untuk
melangsungkan proses hukum jutaanumat musti turun dulu ke jalan barulah proses itu dimulai. Jika umat
tidak melakukan hal yang demikian, mungkin kasus itu tidak akan ditindak
lanjut. Megapa hukum di Indonesia ini begitu runcing ke bawah dan tumpul ke
atas? Kapitalisme lah jawabannya. Sesungguhnya demokrasi adalah salah satu ide
daripada idoeologi kapitalis ini, yang berarti secara tidak lansung Indonesia
dan negeri manapun yang menggunakan demokrasi telah menerapkan ideology
Kapitalisme baik secara sadar ataupun tidak. Ideology yang berakidahkan
sekularisme inilah yang membawa masyarakat pada jurang kehancuran. Dengan ide
pemisahan agama dari kehidupan inilah sebuah kehancuran berawal. Apalah jadinya
jika suatu aturan tidak diiringi dengan agama? Dan bagaimana sebaliknya jika
agama tidak diiringi dengan segenap aturan kehidupan? Kehancuran lah yang akan
kita hadapi. Siapalah kita ini hingga berani-beraninya membuat aturan tanpa
dilandaskan aturanNya? Padahal Allah telah memperingati kita dalam firmannya:
“apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik
daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini agamanya?” (Q.S
Al-Maidah:50)
Berjuta umat dari seluruh penjuru negeri
datang untuk membela kitab suci nya. Mereka datang atas panggilan
keimanan. Habib Rizieq tidak mungkin
menggerakan massa yang sebnayak ini, pun dengan Ust Ismail Yusanto atau Aa Gym.
Bukan karena merekalah kami datang, tapi atas izin dan kuasa Allah lah kami
datang. Semoga dengan adanya aksi ini umat makin sadar bahwa ada suatu hal yang
musti kita ubah. Semoga kita semua senantiasa kembali taat pada aturanNya.
Semoga janjiNya akan segera tiba, yakni kemenangan umat Islam. Allahu Akbar!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar