Budak
di Negeri Sendiri
Indonesia, surga kecil tempatku menggantung harap.
Indonesia ku sangat kaya, lempar batu jadi pohon, lempar pohon jadi hutan.
Menggali emas di atas tanah ada, di bawah tanah ada. Mencari minyak, dalam
pantai ada, lepas pantai ada. Berjuta rasa makanan, ada di sini. Bahkan
dikatakan bahwa Indonesia bagaikan miniature dunia, saking seluruh keberagaman
ada di dalamnya. Tapi nampaknya Indonesia masih baper semenjak Jepang datang
ke Indonesia dengan mengatakan bahwa Jepang adalah saudara tua, dengan ramahnya
atau karena baper akhirnya Indonesia
menyambut baik kedatangan Jepang. Padahal dibalik kata saudara tua, ada tujuan
lain yakni menjajah, meraup segala kekayaan yang ada di dalamnya. Memang
Indonesia dengan segala keindahan dan kekayaan yang ada di dalamnya menjadi
rebutan setiap negara. Hingga saat inipun Indonesia masih menjadi rebutan tiap
negara, dan yang telah ‘memenangkan hati’ Indonesia adalah Amerika. Sadar atau
tidak hampir seluruh yang ada di Indonesia—ekonomi dan politik khususnya,
berada di bawah control Amerika dan antek-anteknya. Bukannya dituankan, tapi
Indonesia malah menjadi boneka yang harus tunduk pada tiap aturan Amerika dan
anteknya. Inilah akibat dari kebaperan Indonesia.
Siapalah yang tak tahu bagaimana kejamnya PKI dalam
sejarah Indonesia, PKI yang ingin mengkomuniskan Indonesia telah berlaku kejam
terhadap Indonesia dan kekejamannya itu terus teringat dalam benak rakyat
Indonesia, apalagi yang hidup di masanya. Meskipun PKI sudah ‘musnah’ di
Indonesia, tapi ternyata puing-puing PKI masih nyata. Bahkan baru-baru ini kita
sempat dihebohkan dengan banyaknya symbol-simbol PKI yang muncul kembali,
symbol palu arit itu ada dalam kaos-kaos bahkan sekarang ini ada dalam symbol
uang yang baru. Entah maksudnya apa. Memang ideology yang lama telah terpuruk
itu kini menggeliat untuk kembali bangkit.
Sadar atau tidak, kini Indonesia kembali terjajah.
Dengan banyaknya aseng-aseng yang kini menduduki Indonesia, bahkan kawasan
reklamasi pantai Jakarta sudah ramai ditawarkan kepada kaum kaya di Tiongkok.
Ini berarti memang, pembangunan reklamasi pantai Jakarta bukan untuk warga
pribumi tapi untuk kaum kapitalis aseng dari negeri seberang. Kini ramai
diberitakan bahwa ada banyak buruh Cina yang bekerja di Indonesia dan itu
illegal. Di Lebak, Banten sendiri ada
sekitar 700 orang Cina dipekerjakan untuk membangun pabrik semen Merah Putih.
Mereka dikontrak oleh perusahan PT Cemendo Gemilang dengan PT Cinoma dan PT
CHI. Bahkan diperkirakan Indonesia akan
bernasib sama seperti Angola, di Angola sendiri dikatakan ada beribu proyek
China yang sedang dibangun. Tentu dipekerjakan oleh orang China. Sedangkan
angka pengangguran di Angola cukup tinggi.
Inilah akibat daripada mengesampingkan Islam
sebagaiaturan hidup, system ekonomi tidakdikelola dengan baik malah hanya
menguntungkan beberapa pihak saja. maka tunggu apa lagi saatnya kita kembali
pada kehidupan Islam dalam naungan Khilafah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar