Rabu, 28 Desember 2016

Budak di Negeri Sendiri

Budak di Negeri Sendiri
Indonesia, surga kecil tempatku menggantung harap. Indonesia ku sangat kaya, lempar batu jadi pohon, lempar pohon jadi hutan. Menggali emas di atas tanah ada, di bawah tanah ada. Mencari minyak, dalam pantai ada, lepas pantai ada. Berjuta rasa makanan, ada di sini. Bahkan dikatakan bahwa Indonesia bagaikan miniature dunia, saking seluruh keberagaman ada di dalamnya. Tapi nampaknya Indonesia masih baper  semenjak Jepang datang ke Indonesia dengan mengatakan bahwa Jepang adalah saudara tua, dengan ramahnya atau karena baper akhirnya Indonesia menyambut baik kedatangan Jepang. Padahal dibalik kata saudara tua, ada tujuan lain yakni menjajah, meraup segala kekayaan yang ada di dalamnya. Memang Indonesia dengan segala keindahan dan kekayaan yang ada di dalamnya menjadi rebutan setiap negara. Hingga saat inipun Indonesia masih menjadi rebutan tiap negara, dan yang telah ‘memenangkan hati’ Indonesia adalah Amerika. Sadar atau tidak hampir seluruh yang ada di Indonesia—ekonomi dan politik khususnya, berada di bawah control Amerika dan antek-anteknya. Bukannya dituankan, tapi Indonesia malah menjadi boneka yang harus tunduk pada tiap aturan Amerika dan anteknya. Inilah akibat dari kebaperan Indonesia.
Siapalah yang tak tahu bagaimana kejamnya PKI dalam sejarah Indonesia, PKI yang ingin mengkomuniskan Indonesia telah berlaku kejam terhadap Indonesia dan kekejamannya itu terus teringat dalam benak rakyat Indonesia, apalagi yang hidup di masanya. Meskipun PKI sudah ‘musnah’ di Indonesia, tapi ternyata puing-puing PKI masih nyata. Bahkan baru-baru ini kita sempat dihebohkan dengan banyaknya symbol-simbol PKI yang muncul kembali, symbol palu arit itu ada dalam kaos-kaos bahkan sekarang ini ada dalam symbol uang yang baru. Entah maksudnya apa. Memang ideology yang lama telah terpuruk itu kini menggeliat untuk kembali bangkit.
Sadar atau tidak, kini Indonesia kembali terjajah. Dengan banyaknya aseng-aseng yang kini menduduki Indonesia, bahkan kawasan reklamasi pantai Jakarta sudah ramai ditawarkan kepada kaum kaya di Tiongkok. Ini berarti memang, pembangunan reklamasi pantai Jakarta bukan untuk warga pribumi tapi untuk kaum kapitalis aseng dari negeri seberang. Kini ramai diberitakan bahwa ada banyak buruh Cina yang bekerja di Indonesia dan itu illegal. Di Lebak, Banten sendiri  ada sekitar 700 orang Cina dipekerjakan untuk membangun pabrik semen Merah Putih. Mereka dikontrak oleh perusahan PT Cemendo Gemilang dengan PT Cinoma dan PT CHI.  Bahkan diperkirakan Indonesia akan bernasib sama seperti Angola, di Angola sendiri dikatakan ada beribu proyek China yang sedang dibangun. Tentu dipekerjakan oleh orang China. Sedangkan angka pengangguran di Angola cukup tinggi.

Inilah akibat daripada mengesampingkan Islam sebagaiaturan hidup, system ekonomi tidakdikelola dengan baik malah hanya menguntungkan beberapa pihak saja. maka tunggu apa lagi saatnya kita kembali pada kehidupan Islam dalam naungan Khilafah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar