Rabu, 28 Desember 2016

Time For Change


Masih ingatkah pada era reformasi tahun 1998? Mahasiswa dari seluruh penjuru negeri berbondong-bondong datang ke ibu kota, mereka datang karna mereka bertanggung jawab besar atas kemajuan suatu bangsa. Karna tongkat estafet kepemimpinan ada pada tangan mereka. Sama halnya terkait aksi damai bela islam 4 november lalu, berjuta ummat terpanggil untuk menumpas kemungkaran yang ada di negeri ini. Ummat yang berdatangan jiwanya dipenuhi oleh ghirah islam yang luar biasa. Mereka datang atas panggilan keimanan. Mereka datang atas kewajiban mereka agar senantiasa memperjuangkan agama yang haq ini. Dari Aceh dan dari berbagai daerah mereka datang berbus-bus untuk memenuhi seruan ini, mereka datang tanpa memedulikan seberapa besar biaya yang harus mereka keluarkan. Jika ada yang mengatakan bahwa kedua aksi di atas adalah semata-mata karna uang, unsure politisi, dan sebagainya. Tentu mereka salah besar. Karna yang mereka tuntut hanya satu. Keadilan.

Semakin ‘canggih’ nya dunia semakin banyak pula masalah yang ditimbulkan. Ya, bisa kita lihat sendiri dengan mata telanjang kita bahwa kini baik itu pendidikan, politik, ekonomi, kesehatan, dan lain sebagainya. Hampir tiap bidang memiliki masalahnya masing-masing, mulai dari masalah yang terkecil hingga yang terbesar dan terrumit sekalipun ada di zaman sekarang. Dari bidang ekonomi, sudah bukan rahasia lagi bahwa ekonomi yang diterapkan saat ini khususnya di negeri kita yang tercinta ini adalah ekonomi kapitalis. Dilihat dari kapitalisnya sendiri, ideology tersebut berakidahkan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sekularisme sendiri timbul akibat adanya trauma gereja, yang mana pada masanya gereja lah yang mengatur segala aspek kehidupan. Seiring dengan memimpinnya gereja, malah semakin banyak penindasan dan penyelewengan yang mereka lakukan khususnya pada rakyat kecil dan perempuan. Melihat banyaknya penindasan yang terjadi timbullah keinginan rakyatnya agar gereja jika hanya tempat untuk berbagai penindasan lebih baik tidak perlu lagi mengatur kehidupan. Akhirnya dari situlah timbulnya sekularisme. Dilihat dari akidahnya yakni sekuler, tentunya ideology kapitalis pun menjauhkan nilai-nilai agama dalam tiap-tiap aturannya yang pada akhirnya orang-orang kapitalis lah yang memegang penuh aturan yang ada. Hingga dalam tujuan hidupnya orang-orang kapitalis hanya  untuk memenuhi hawa nafsunya.

Dalam ekonomi kapitalis, permasalahan utama suatu perekonomian yakni kelangkaan suatu barang. Pada akhirnya menjadikan pertumbuhan ekonomi atau produksi kekayaan menjadi fokus perhatian. Dengan memfokuskan untuk terus memproduksi kekayaan, itu hanyalah wujud dari keserakahan para kapitalis untuk terus menimbun kekayaan yang malah mengakibatkan ketimpangan yang luar biasa antara si kaya dan si miskin. Perlu diketahui bahwa Pendapatan Domestik Bruto Indonesia tahun 2015 adalah sebesar Rp 11.540,80 triliun (Biro Pusat Statistik) dan Indonesia masuk pada peringkat 10 sebagai produsen barang dan jasa terbesar dunia. Apakah itu sebuah prestasi untuk Indonesia? Bisa iya bisa tidak, karena dengan pendapatan PDB yang sebesar itu ternyata angka kemiskinan tetap tinggi. Jelas sekali karna PDB sendiri hanya menghitung nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu Negara bukan menghitung tingkat kesejahteraannya.

Dari bidang politik sendiri pun sama halnya dengan bidang ekonomi. Mengapa banyak orang yang mengatakan bahwa politik itu kotor, ya karna orang-orang yang berdiri di tampuk kekuasaan pun ‘kotor’. Menjadikan hukum bagaikan barang belian. Contoh yang paling nyata adalah kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Kenapa kasus ini begitu rumit padahal pelaku ada, saksi ada, bukti ada. Kasus Ahok ini sesungguhnya tidak serumit kasus kopi sianida, begitu kata jubir Hizbut Tahrir Indonesia. Memang benar kasus ini amat sagat tidak rumit, tapi kenapa hukum Indonesia begitu tidak tegas. Bagaimana tidak, karna hukum yang ada di Indonesia itu runcing ke bawah dan tumpul ke atas. Ketika ada orang kecil yang melakukan suatu kesalahan, aparat hukum begitu tegasnya untuk mengambil suatu tindakan, tapi tatkala orang besar yang melakukannya seakan-akan hukum tidak berlaku lagi. Ini semua karena tadi, akibat dari penerapan system kapitalisme yang menjadikan para ‘cukong-cukong’ berkuasa. Buktinya adalah hukum yang ada di Indonesia lebih memihak pada pengusaha korporasi karna mereka lah yang membuat undang-undangnya. Mereka melakukan semua ini hanya demi mementingkan kepentingan-kepentingan mereka. Sebagai bukti tunduknya pemerintah di bawah korporasi adalah dengan adanya kontrak perpanjangan dengan PT.Freeport

Dari bidang pendidikan sendiri selama sistemnya kapitalisme akhirnya banyak para pendidik sekarang yang mereka sekolah hanya untuk mengejar nilai semata. Jadi mereka tidak perlu lagi sebuah proses, yang mereka inginkan hanyalah sebuah keinstanan. Pun dalam bidang kesehatan, dengan adanya system BPJS, bukannya makin sejahtera tapi malah membuat semakin sengsara dengan bayaran yang diwajibkan setiap bulannya. Tapi tatkala kita membutuhkan suatu perawatan, orang-orang yang menggunakan BPJS malah menjadi orang-orang yang terbelakang. Padahal kita semua haruslah menjadi prioritas.

Terbukti sudah kapitalisme rusak dan merusak dan kini kehancurannya pun sudah mulai terlihat, tinggal tunggu saja sampai ia benar-bear ada dalam titik kehancuran. Sebetulnya bukan hanya kapitalisme saja yang menguasai dunia ini. Komunisme pada masanya pernah menjadi yang berkuasa. Komunisme pernah melakukan pemberontakan di 76 negara, dan hanya 24 negara yan berhasil mereka kuasai. Tapi sayang, di Indonesia sendiri komunisme memiliki sejarah kelam dengan adanya G30 S/PKI. Ideology yang dilhirkan Karl Marx ini gagal untuk berkuasa lebih lama, karna dari sisi aturan saja sudah tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dari mereka yang menafikkan keberadaan Tuhan sudah membuktikan bahwa itu sudah tidak sesuai dengan naluri beragama yang ada pada setiap manusia dimana pun berada. Maka komunisme sudah terbukti gagal. Hanya tinggal satu lagi, yakni system kepemimpinan Negara yang tidak pernah disebut dalam sejarah, padahal pernah menguasai 2/3 dunia dan berjaya selama 1400 tahun. Ya itulah Khilafah, dimana system yang menjadikan hukum Islam sebagai tolak ukur segala perbuatan. Terbukti hanya system yang berlandaskan islam lah yang mampu mengatasi semua permasalahan yang ada. System ekonomi islam fokus pada pendistribusian barang dan jasa, hingga permasalahan utama adalah bagaimana setiap individu bisa memenuhi kebutuhan pokok barang dan jasa, melalui pendistribusian yang adil dan merata. Apabila ada yang belum terpenuhi kebutuhan pokoknya maka Negara bertanggung jawab penuh atas pemenuhannya. Juga dalam system kapitalis, peran Negara dikesampingkan hingga sumber daya alam yang ada diserahkan pada swasta. Padahal dalam islam sendiri haram hukumnya jika suatu sumber daya alam dimiliki oleh perorangan, ini semua bertujuan agar terciptanya pendistribusian yag adil dan merata. Hingga pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ada satupun rakyatnya yang layak menerima zakat. Juga system politik atau pengambilan suatu hukum dikembalikan lagi kepada sumber hukum islam yakni Al-Quran dan Sunnah hingga kedaulatan hanya ada pada Allah semata. Sangat keliru apabila kedaulatan ada di tangan rakyat karna Allah SWT berfirman: “barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apayang diturunkan Allah, mereka itulah orang-orang  kafir.” (QS Al Maidah: 44) juga dalam QS Al-Maidah: 50: “apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum mana yang lebih baik daripada hukum Allah?” terbukti bila hukum diserahkan pada manusia, maka yang terjadi adalah seperti sekarang ini. Dalam bidang pendidikan pada masa kekhalifahan Muhammad Al Fatih setiap bulannya para pelajar diberikan beasiswa penuh dengan cuma-cuma. Itulah bukti bahwa Negara bertanggung jawab penuh atas pemenuhan pendidikan juga sebagai fasilitator terbaik. Pun dalam kesehatan, ada satu cerita pada masa islam berjaya, ada seorang non-muslim yang tidak mengidap penyakit apapun tapi ia datang ke sebuah rumah sakit dengan dalih merasakan sakit dalam tubuhnya. Ketika itu dokter yang bertanggung jawab pun memeriksanya. Langsunglah dokter tersebut mengetahui bahwa tidak ada suatu penyakit tertetu yang sedang diidapnya. Tapi mengetahui hal tersebut, dari pihak rumah sakit sendiri pun tidak memulangkan si pasien yang pura-pura sakit tadi alih-alih malah memberikan pelayanan yang terbaik sebagaimana mestinya. Terbukti bahwa system kesehatan dalam islam mensejahterakan semua dan pelayanan yang terbaik pun diberikan dengan cuma-cuma.
Ini semua adalah bukti bahwa sudah saatnya kita kembali lagi kepada islam dan meninggalkan segala system yang nyatanya rusak dan merusak ini. Jika kerusakan terletak pada system, maka sudah sepatutnya diganti dengan system pula. Hanya islam lah yang patut diterapkan demi memusnahkan segala permasalahan yang ada. Islam adalah satu-satunya agama yang benar yang membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firmanNya: “dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam apabila islam diterpkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam segala aspek kehidupan. Untuk mengubah suatu keadaan atau memajukan suatu bangsa tidak bisa hanya melalui satu dua bidang saja. Tapi mustilah mencangkup seluruh bidang. Kedengarannya sulit memang, tapi kita sebagai muslim dan sebagai ummat terbaik mustilah berprinsip Think Globally Act Locally. Perubahan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tekad dan keyakinan yang kuat demi terwujudnya perubahan



SUMBER:
1.      Al-Waie edisi bulan September 2016: Bela Negara; melawan ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme.
2.      Al-Waie edisi bulan Oktober 2016: radikalisme dan terorisme; propaganda menyerang islam
3.      Al-Waie edisi bulan November 2016: demokrasi tunduk pada korporasi
4.      Jalan baru islam karya Ahmad Athiyat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar