Masih ingatkah pada era
reformasi tahun 1998? Mahasiswa dari seluruh penjuru negeri berbondong-bondong
datang ke ibu kota, mereka datang karna mereka bertanggung jawab besar atas
kemajuan suatu bangsa. Karna tongkat estafet kepemimpinan ada pada tangan
mereka. Sama halnya terkait aksi damai bela islam 4 november lalu, berjuta
ummat terpanggil untuk menumpas kemungkaran yang ada di negeri ini. Ummat yang
berdatangan jiwanya dipenuhi oleh ghirah islam yang luar biasa. Mereka datang
atas panggilan keimanan. Mereka datang atas kewajiban mereka agar senantiasa
memperjuangkan agama yang haq ini. Dari Aceh dan dari berbagai daerah mereka
datang berbus-bus untuk memenuhi seruan ini, mereka datang tanpa memedulikan
seberapa besar biaya yang harus mereka keluarkan. Jika ada yang mengatakan
bahwa kedua aksi di atas adalah semata-mata karna uang, unsure politisi, dan
sebagainya. Tentu mereka salah besar. Karna yang mereka tuntut hanya satu.
Keadilan.
Semakin ‘canggih’ nya
dunia semakin banyak pula masalah yang ditimbulkan. Ya, bisa kita lihat sendiri
dengan mata telanjang kita bahwa kini baik itu pendidikan, politik, ekonomi,
kesehatan, dan lain sebagainya. Hampir tiap bidang memiliki masalahnya
masing-masing, mulai dari masalah yang terkecil hingga yang terbesar dan
terrumit sekalipun ada di zaman sekarang. Dari bidang ekonomi, sudah bukan
rahasia lagi bahwa ekonomi yang diterapkan saat ini khususnya di negeri kita
yang tercinta ini adalah ekonomi kapitalis. Dilihat dari kapitalisnya sendiri,
ideology tersebut berakidahkan sekularisme yang memisahkan agama dari
kehidupan. Sekularisme sendiri timbul akibat adanya trauma gereja, yang mana
pada masanya gereja lah yang mengatur segala aspek kehidupan. Seiring dengan
memimpinnya gereja, malah semakin banyak penindasan dan penyelewengan yang
mereka lakukan khususnya pada rakyat kecil dan perempuan. Melihat banyaknya
penindasan yang terjadi timbullah keinginan rakyatnya agar gereja jika hanya
tempat untuk berbagai penindasan lebih baik tidak perlu lagi mengatur kehidupan.
Akhirnya dari situlah timbulnya sekularisme. Dilihat dari akidahnya yakni
sekuler, tentunya ideology kapitalis pun menjauhkan nilai-nilai agama dalam
tiap-tiap aturannya yang pada akhirnya orang-orang kapitalis lah yang memegang
penuh aturan yang ada. Hingga dalam tujuan hidupnya orang-orang kapitalis
hanya untuk memenuhi hawa nafsunya.
Dalam ekonomi kapitalis, permasalahan utama suatu perekonomian yakni kelangkaan
suatu barang. Pada akhirnya menjadikan pertumbuhan ekonomi atau produksi
kekayaan menjadi fokus perhatian. Dengan memfokuskan untuk terus memproduksi
kekayaan, itu hanyalah wujud dari keserakahan para kapitalis untuk terus
menimbun kekayaan yang malah mengakibatkan ketimpangan yang luar biasa antara
si kaya dan si miskin. Perlu diketahui bahwa Pendapatan Domestik Bruto
Indonesia tahun 2015 adalah sebesar Rp 11.540,80 triliun (Biro Pusat Statistik)
dan Indonesia masuk pada peringkat 10 sebagai produsen barang dan jasa terbesar
dunia. Apakah itu sebuah prestasi untuk Indonesia? Bisa iya bisa tidak, karena
dengan pendapatan PDB yang sebesar itu ternyata angka kemiskinan tetap tinggi.
Jelas sekali karna PDB sendiri hanya menghitung nilai barang dan jasa yang
dihasilkan suatu Negara bukan menghitung tingkat kesejahteraannya.
Dari bidang politik
sendiri pun sama halnya dengan bidang ekonomi. Mengapa banyak orang yang
mengatakan bahwa politik itu kotor, ya karna orang-orang yang berdiri di tampuk
kekuasaan pun ‘kotor’. Menjadikan hukum bagaikan barang belian. Contoh yang
paling nyata adalah kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Kenapa
kasus ini begitu rumit padahal pelaku ada, saksi ada, bukti ada. Kasus Ahok ini
sesungguhnya tidak serumit kasus kopi sianida, begitu kata jubir Hizbut Tahrir
Indonesia. Memang benar kasus ini amat sagat tidak rumit, tapi kenapa hukum
Indonesia begitu tidak tegas. Bagaimana tidak, karna hukum yang ada di
Indonesia itu runcing ke bawah dan tumpul ke atas. Ketika ada orang kecil yang
melakukan suatu kesalahan, aparat hukum begitu tegasnya untuk mengambil suatu
tindakan, tapi tatkala orang besar yang melakukannya seakan-akan hukum tidak
berlaku lagi. Ini semua karena tadi, akibat dari penerapan system kapitalisme
yang menjadikan para ‘cukong-cukong’ berkuasa. Buktinya adalah hukum yang ada
di Indonesia lebih memihak pada pengusaha korporasi karna mereka lah yang
membuat undang-undangnya. Mereka melakukan semua ini hanya demi mementingkan
kepentingan-kepentingan mereka. Sebagai bukti tunduknya pemerintah di bawah
korporasi adalah dengan adanya kontrak perpanjangan dengan PT.Freeport
Dari bidang pendidikan
sendiri selama sistemnya kapitalisme akhirnya banyak para pendidik sekarang
yang mereka sekolah hanya untuk mengejar nilai semata. Jadi mereka tidak perlu
lagi sebuah proses, yang mereka inginkan hanyalah sebuah keinstanan. Pun dalam
bidang kesehatan, dengan adanya system BPJS, bukannya makin sejahtera tapi
malah membuat semakin sengsara dengan bayaran yang diwajibkan setiap bulannya.
Tapi tatkala kita membutuhkan suatu perawatan, orang-orang yang menggunakan BPJS
malah menjadi orang-orang yang terbelakang. Padahal kita semua haruslah menjadi
prioritas.
Terbukti sudah
kapitalisme rusak dan merusak dan kini kehancurannya pun sudah mulai terlihat,
tinggal tunggu saja sampai ia benar-bear ada dalam titik kehancuran. Sebetulnya
bukan hanya kapitalisme saja yang menguasai dunia ini. Komunisme pada masanya
pernah menjadi yang berkuasa. Komunisme pernah melakukan pemberontakan di 76
negara, dan hanya 24 negara yan berhasil mereka kuasai. Tapi sayang, di
Indonesia sendiri komunisme memiliki sejarah kelam dengan adanya G30 S/PKI.
Ideology yang dilhirkan Karl Marx ini gagal untuk berkuasa lebih lama, karna
dari sisi aturan saja sudah tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dari mereka
yang menafikkan keberadaan Tuhan sudah membuktikan bahwa itu sudah tidak sesuai
dengan naluri beragama yang ada pada setiap manusia dimana pun berada. Maka
komunisme sudah terbukti gagal. Hanya tinggal satu lagi, yakni system
kepemimpinan Negara yang tidak pernah disebut dalam sejarah, padahal pernah
menguasai 2/3 dunia dan berjaya selama 1400 tahun. Ya itulah Khilafah, dimana
system yang menjadikan hukum Islam sebagai tolak ukur segala perbuatan.
Terbukti hanya system yang berlandaskan islam lah yang mampu mengatasi semua
permasalahan yang ada. System ekonomi islam fokus pada pendistribusian barang
dan jasa, hingga permasalahan utama adalah bagaimana setiap individu bisa
memenuhi kebutuhan pokok barang dan jasa, melalui pendistribusian yang adil dan
merata. Apabila ada yang belum terpenuhi kebutuhan pokoknya maka Negara
bertanggung jawab penuh atas pemenuhannya. Juga dalam system kapitalis, peran
Negara dikesampingkan hingga sumber daya alam yang ada diserahkan pada swasta.
Padahal dalam islam sendiri haram hukumnya jika suatu sumber daya alam dimiliki
oleh perorangan, ini semua bertujuan agar terciptanya pendistribusian yag adil
dan merata. Hingga pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ada
satupun rakyatnya yang layak menerima zakat. Juga system politik atau
pengambilan suatu hukum dikembalikan lagi kepada sumber hukum islam yakni
Al-Quran dan Sunnah hingga kedaulatan hanya ada pada Allah semata. Sangat
keliru apabila kedaulatan ada di tangan rakyat karna Allah SWT berfirman:
“barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apayang diturunkan Allah, mereka
itulah orang-orang kafir.” (QS Al
Maidah: 44) juga dalam QS Al-Maidah: 50: “apakah hukum jahiliyah yang mereka
kehendaki? Hukum mana yang lebih baik daripada hukum Allah?” terbukti bila
hukum diserahkan pada manusia, maka yang terjadi adalah seperti sekarang ini.
Dalam bidang pendidikan pada masa kekhalifahan Muhammad Al Fatih setiap
bulannya para pelajar diberikan beasiswa penuh dengan cuma-cuma. Itulah bukti
bahwa Negara bertanggung jawab penuh atas pemenuhan pendidikan juga sebagai
fasilitator terbaik. Pun dalam kesehatan, ada satu cerita pada masa islam
berjaya, ada seorang non-muslim yang tidak mengidap penyakit apapun tapi ia
datang ke sebuah rumah sakit dengan dalih merasakan sakit dalam tubuhnya.
Ketika itu dokter yang bertanggung jawab pun memeriksanya. Langsunglah dokter
tersebut mengetahui bahwa tidak ada suatu penyakit tertetu yang sedang
diidapnya. Tapi mengetahui hal tersebut, dari pihak rumah sakit sendiri pun
tidak memulangkan si pasien yang pura-pura sakit tadi alih-alih malah memberikan
pelayanan yang terbaik sebagaimana mestinya. Terbukti bahwa system kesehatan
dalam islam mensejahterakan semua dan pelayanan yang terbaik pun diberikan
dengan cuma-cuma.
Ini semua adalah bukti
bahwa sudah saatnya kita kembali lagi kepada islam dan meninggalkan segala
system yang nyatanya rusak dan merusak ini. Jika kerusakan terletak pada
system, maka sudah sepatutnya diganti dengan system pula. Hanya islam lah yang
patut diterapkan demi memusnahkan segala permasalahan yang ada. Islam adalah satu-satunya
agama yang benar yang membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firmanNya:
“dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi seluruh alam.” Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam apabila islam
diterpkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam segala aspek kehidupan. Untuk
mengubah suatu keadaan atau memajukan suatu bangsa tidak bisa hanya melalui
satu dua bidang saja. Tapi mustilah mencangkup seluruh bidang. Kedengarannya
sulit memang, tapi kita sebagai muslim dan sebagai ummat terbaik mustilah
berprinsip Think Globally Act Locally.
Perubahan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tekad dan
keyakinan yang kuat demi terwujudnya perubahan
SUMBER:
1.
Al-Waie edisi bulan September 2016: Bela
Negara; melawan ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme.
2.
Al-Waie edisi bulan Oktober 2016:
radikalisme dan terorisme; propaganda menyerang islam
3.
Al-Waie edisi bulan November 2016:
demokrasi tunduk pada korporasi
4.
Jalan baru islam karya Ahmad Athiyat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar