Rabu, 28 Desember 2016

Umat Muhammad SAW


Masih teringat dalam benak kita bagaimana rintihan lembut itu berkata ‘ummati…..ummati…ummati’ tatkala nyawa nya diregang oleh Malaikat Izrail, bukan Khadijah yang beliau tanyakan, bukan pula Aisyah, bukan ibunya Aminah, bukan ayahnya Abdullah, bukan para sahabatnya. Tapi kita, kita yang saat ini sibuk dengan pencapaian dunia kita, kita yang jauh dari ajaran agama yang dibawanya, kita yang pada hari ini bershalawat kepadanya pun tidak. Jauh sebelum kita dilahirkan di dunia ini, Nabi Muhammad sudah lebih dulu mengenal kita, Nabi Muhammad sudah lebih dulu perduli terhadap kita. Tapi mengapa kita abai terhadap ajaran yang beliau bawa, padahal tugas kita hanyalah menaati apa-apa yang diperintahkanNya, menjauhi laranganNya dan menjalankan sunah NabiNya. Kini mereka, musuh Islam sudah berhasil menjauhkan umatnya dari Islam, membuat umat tak kenal lagi dengan agamanya sendiri, membuat umat kehilangan identitasnya sebagai muslim, bahkan membuat umat takut akan agamanya  sendiri.

Aksi 212 kemarin membuktikan persatuan dan kesatuan umat dan bergerak untuk membela kitab sucinya. Saat QS Al-Maidah: 51 dinistakan, umat sadar bahwa inilah firman Allah SWT yang tidak pernah mereka ragukan kebenarannya sedikit pun. Karna itu, dengan kesadrannya ini umat seharusnya bisa meyakini akan kebenaran seluruh ayat al-Quran dan dengan kesadaran ini pula umat seharusnya menuntut agar seluruh isi al-Quran diterapkan dalam kehidupan, sebagai bukti keyakinan kita, sebagai konsekuensi keimanan kita, dan inilah keimanan hakiki. Kita tidak boleh hanya mengimani sebagian ayat al-Quran dan mengingkari ayat yang lainnya, sebgaimana dalam firman Allah SWT: “Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lainnya? tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat mereka akan dikembalikan pada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari  apa yang kalian perbuat.”(QS Al-Baqarah: 85) maka dengan ini amatlah wajib bagi kita agar senantiasa mengaplikasikan isi al-Qurn dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidakboleh memilih-milih ayat mana yang akan kita imani berdasarkan kesanggupan kita. Justru Allah menurunkan al-Quran untuk mempermudah kita, bukan malah mempersulit kita. Juga kita harus menjadikan al-Quran sebagai hukum tertinggi dimanapun kita berada. Karna al-Quran adalah kalam Allah, sang Pencipta alam semesta, kehidupan, dan manusia.


Tidak layak bagi kita, umat Islam khususnya berpijak pada hukum selain hukum Allah, sebagaimana firman Allah: “Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya.” (QS Al-An’am: 61) maka ketika Allah memrintahkan sesuatu, itu pasti akan membawa kemaslahatan bagi seluruh alam. Karna Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi, hanya penciptalah yang mengerti sepenuhnya tentang ciptaannya. Adapun akibat daripada meninggalkan al-Quran dalam kehidupan, yakni terciptanya berbagai kerusakan. Terbukti sudah hal yang demikian itu dengan zaman sekarang ini yang tidak menjadikan al-Quran sebagai rujukan. Karena itu, berangkat dari kasus penistaan ini seharusnya bukan hanya satu ayat saja yang diperjuangkan, melainkan seluruh ayat dalam al-Quran wajib kita perjuangkan dan amalkan dalam kehidupan kita. Maka penerapan hukum syariah secara menyeluruh hanya dapat dilakukan dalam institusi Khilafah Islamiyah. Dan dengan penerapan isi al-Quran dalam kehidupan secara menyeluruh, dapat membuktikan bahwa kitalah umat Muhammad, kita lah umatnya yang senantiasa meneladani akhlaknya, yakni Al-Quran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar