Negara
Soko Guru Ketahanan Keluarga
Timbul pertanyaan,
bagaimana agar kita tidak terpengaruh oleh lingkugan? Atau dengan kata lain,
bagaimana agar kita tidak terbawa arus? Kaka tingkat saya menjawab bahwa hal
yang demikian itu dapat dicegah apabila pondasi dalam keluarganya kuat hingga
apabila dalam keluarganya sudah ditanamkan berbagai aspek budi pekerti dan lain
sebagainya juga dengan pengawasan dan bimbingan yang berkesinambungan, maka
ketika dihadapkan dengan dunia luar kita sudah siap. Itulah jawaban yang
berdasarkan teori bimbingan keluarga. Dengan demikian, peran keluarga sangatlah
berpengaruh dalam pertahanan masyarakat bahkan amatlah berpengaruh dalam
pertahanan Negara. Karna Negara sendiri terbentuk dengan adanya masyarakat,
Negara yang kuat berarti memiliki masyarakat yang kuat. Masyarakat yang kuat
lahir dari keluarga yang kuat pula. Keluarga yang memiliki ketahanan yang kuat
timbul karna kesejahteraan yang ada di sekitarnya. Dalam keadaan yang sudah
kian memburuk, apalagi peran Negara yang abai terhadap rakyatnya, keluarga
adalah pertahanan terakhir dalam pembentuka keahanan masyarakat.
Tapi kenyataannya,
kesejahteraan dalam keluarga bahkan Negara masih berupa angan-angan. Tak jarang
ditemui keluarga yang hancur dikarenakan keadaan ekonominya yang belum
tercukupi, tak jarang ditemui keluarga yang tingkat pendidikannya hanya sampai
pada tingkat SD dikarenakan factor ekonomi yang lagi-lagi belum tercukupi.
Memang jika masalah keluarga hal yang paling menjadi masalah ada dalam bidang
ekonomi. Menurut data dari kemenag.go.id,
dalam 5 tahun terakhir (2010-2015) angka perceraian meningkat 59-80% dan
mayoritas adalah gugat cerai yang mana gugat cerai adalah sang istri yang
meminta untuk diceraikan, lagi-lagi karna faktor ekonomi. Perceraian pun terjadi
karna adanya KDRT, perselingkuhan dan lain-lain. Dampak dari perceraian menurut
KPAI (komisi perlindungan anak Indonesia) adalah: 1) korban hak asuh. 2)
pelarangan akses bertemu orangtua. 3) penelantaran ekonomi. 4) anak hilang. 5)
penculikan. Seperti apa yang sudah disampaikan dalam paragraph pertama,
keluarga adalah perthanan terakhir untuk pembentukan ketahanan masyarakat.
Apabila keadaan keluarganya sendiri sudah rapuh, maka bisa dikatakan keluarga
tidak lagi bisa menjadi perthanan tatkala sedang ditimpa berbagi permasalah
yang adaseperti sekarang ini.
Lantas untuk mewujudkan
ketahanan keluarga, apalah yang musti dilakukan? Satu-satunya cara untuk
mewujudkan hal yang demikian adalah dengan adanya peran serta Negara untuk
berkontribusi dalam pembentukan tatanan keluarga. Mengapa musti Negara? Kita
ambil contoh, ketika seorang anak sedang mengalami masalah dalam keluarganya,
yang ia lakukan adalah ‘lari’ keluar, entah untuk memecahkan masalah atau hanya
ingin melampiaskan saja. Tapi tatkala ia melampiaskannya ke luar, lingkungan
luar pun amatlah kejam bagi dirinya yang belum memahami betul hakikat
kehidupan. Maka dengan ini Negara berperan besar untuk ketahanan keluarga. Tapi
melihat keadaan Negara yang saat ini jelas tidak berpihak pada rakyat, malah mementingkan
kepentingannya sendiri ketimbang menjalani kewajibannya sebagai pelayan rakyat.
Tak heran apabila banyaknya kasus perceraian dilandaskan factor ekonomi, di
jaman sekarang ini uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang. Yap,
lagi-lagi kapitalisme. Selama system yang masih diterapkan adalah kapitalisme
yang mana hanya mementingkan urusan para korporasi maka kesejahteraan selamanya
milik mereka, rakyat hanya dijadikan alat pemeras untuk melangsungkan
kepentingan mereka. Terbukti dengan adanya kebijakan ekonomi yang malah
menyengserakan rakyat. Penguasa menjadikan pajak sebagai salah satu sumber
penghasilan Negara, maka tak heran rakyat diwajibkan membayar pajak yang pada
kenyataannya rakyat tidak merasakan apa yang telah mereka beri. Dari rakyat,
untuk rakyat dan oleh rakyat hanyalah omong kosong karna pada kenyataannya
pemerintah yang seharusnya menjadi penyambung lidahnya juga panjang tangannya
rakyat nyatanya tidak sepenuhnya memihak pada rakyat. Sadar ataupun tidak, kini
orang-orang kapitalis telah berhasil mengalih fungsikan peran keluarga.
Keluarga yang seharusnya menjadi madrasah yang utama bagianaknya kini telah
hilang. System yang sekarang ini menghilangkan peran ibu yang semestinya
menjadi pengurus rumah tangga dan madrasah yang utama bagi anak. Juga membuat
peran ibu menjadi peran seorang ayah. Peneliti di Jerman mengungkapkan bahwa
jika seorang wanita dipekerjakan maka hasil kerjanya akan rapi, terbukti
memang. Tapi tidak sepatutnya malah menghilangkan peran ibu. Tugas dan peran
ibu tidak akan berjalan ketika kebijakan Negara masih kontraproduktif yang
akhirnya menghasilkan pemeberdayaan ekonomi perempuan yang masif. Walhasil
lahirlah pemikiran feminism dibenak para ibu.
Hal yang demikian itu
yang menjadikan keluarga bukan lagi sebagai pertahanan terakhir disebabkan oleh
system Kapitalisme yang kini diterapkan. Kapitalisme yang berakidahkan
sekularisme menjauhkan agama dari kehidupan membuat kurangnya pengetahuan agama
dalam keluarga. Padahal apabila kita mengikuti segala apa yang diperintah-Nya
niscaya hal yang demikian tadi tidak akan terjadi. Maka solusi satu-satunya
adalah kembali pada islam, karna hanya islamlah satu-satunya agama yang benar,
islamlah agama penyempurna, segala aturan kehidupan ada dalam islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar