Rabu, 28 Desember 2016

Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga

Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga
Timbul pertanyaan, bagaimana agar kita tidak terpengaruh oleh lingkugan? Atau dengan kata lain, bagaimana agar kita tidak terbawa arus? Kaka tingkat saya menjawab bahwa hal yang demikian itu dapat dicegah apabila pondasi dalam keluarganya kuat hingga apabila dalam keluarganya sudah ditanamkan berbagai aspek budi pekerti dan lain sebagainya juga dengan pengawasan dan bimbingan yang berkesinambungan, maka ketika dihadapkan dengan dunia luar kita sudah siap. Itulah jawaban yang berdasarkan teori bimbingan keluarga. Dengan demikian, peran keluarga sangatlah berpengaruh dalam pertahanan masyarakat bahkan amatlah berpengaruh dalam pertahanan Negara. Karna Negara sendiri terbentuk dengan adanya masyarakat, Negara yang kuat berarti memiliki masyarakat yang kuat. Masyarakat yang kuat lahir dari keluarga yang kuat pula. Keluarga yang memiliki ketahanan yang kuat timbul karna kesejahteraan yang ada di sekitarnya. Dalam keadaan yang sudah kian memburuk, apalagi peran Negara yang abai terhadap rakyatnya, keluarga adalah pertahanan terakhir dalam pembentuka keahanan masyarakat.

Tapi kenyataannya, kesejahteraan dalam keluarga bahkan Negara masih berupa angan-angan. Tak jarang ditemui keluarga yang hancur dikarenakan keadaan ekonominya yang belum tercukupi, tak jarang ditemui keluarga yang tingkat pendidikannya hanya sampai pada tingkat SD dikarenakan factor ekonomi yang lagi-lagi belum tercukupi. Memang jika masalah keluarga hal yang paling menjadi masalah ada dalam bidang ekonomi. Menurut data dari kemenag.go.id, dalam 5 tahun terakhir (2010-2015) angka perceraian meningkat 59-80% dan mayoritas adalah gugat cerai yang mana gugat cerai adalah sang istri yang meminta untuk diceraikan, lagi-lagi karna faktor ekonomi. Perceraian pun terjadi karna adanya KDRT, perselingkuhan dan lain-lain. Dampak dari perceraian menurut KPAI (komisi perlindungan anak Indonesia) adalah: 1) korban hak asuh. 2) pelarangan akses bertemu orangtua. 3) penelantaran ekonomi. 4) anak hilang. 5) penculikan. Seperti apa yang sudah disampaikan dalam paragraph pertama, keluarga adalah perthanan terakhir untuk pembentukan ketahanan masyarakat. Apabila keadaan keluarganya sendiri sudah rapuh, maka bisa dikatakan keluarga tidak lagi bisa menjadi perthanan tatkala sedang ditimpa berbagi permasalah yang adaseperti sekarang ini.

Lantas untuk mewujudkan ketahanan keluarga, apalah yang musti dilakukan? Satu-satunya cara untuk mewujudkan hal yang demikian adalah dengan adanya peran serta Negara untuk berkontribusi dalam pembentukan tatanan keluarga. Mengapa musti Negara? Kita ambil contoh, ketika seorang anak sedang mengalami masalah dalam keluarganya, yang ia lakukan adalah ‘lari’ keluar, entah untuk memecahkan masalah atau hanya ingin melampiaskan saja. Tapi tatkala ia melampiaskannya ke luar, lingkungan luar pun amatlah kejam bagi dirinya yang belum memahami betul hakikat kehidupan. Maka dengan ini Negara berperan besar untuk ketahanan keluarga. Tapi melihat keadaan Negara yang saat ini jelas tidak berpihak pada rakyat, malah mementingkan kepentingannya sendiri ketimbang menjalani kewajibannya sebagai pelayan rakyat. Tak heran apabila banyaknya kasus perceraian dilandaskan factor ekonomi, di jaman sekarang ini uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang. Yap, lagi-lagi kapitalisme. Selama system yang masih diterapkan adalah kapitalisme yang mana hanya mementingkan urusan para korporasi maka kesejahteraan selamanya milik mereka, rakyat hanya dijadikan alat pemeras untuk melangsungkan kepentingan mereka. Terbukti dengan adanya kebijakan ekonomi yang malah menyengserakan rakyat. Penguasa menjadikan pajak sebagai salah satu sumber penghasilan Negara, maka tak heran rakyat diwajibkan membayar pajak yang pada kenyataannya rakyat tidak merasakan apa yang telah mereka beri. Dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat hanyalah omong kosong karna pada kenyataannya pemerintah yang seharusnya menjadi penyambung lidahnya juga panjang tangannya rakyat nyatanya tidak sepenuhnya memihak pada rakyat. Sadar ataupun tidak, kini orang-orang kapitalis telah berhasil mengalih fungsikan peran keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi madrasah yang utama bagianaknya kini telah hilang. System yang sekarang ini menghilangkan peran ibu yang semestinya menjadi pengurus rumah tangga dan madrasah yang utama bagi anak. Juga membuat peran ibu menjadi peran seorang ayah. Peneliti di Jerman mengungkapkan bahwa jika seorang wanita dipekerjakan maka hasil kerjanya akan rapi, terbukti memang. Tapi tidak sepatutnya malah menghilangkan peran ibu. Tugas dan peran ibu tidak akan berjalan ketika kebijakan Negara masih kontraproduktif yang akhirnya menghasilkan pemeberdayaan ekonomi perempuan yang masif. Walhasil lahirlah pemikiran feminism dibenak para ibu.


Hal yang demikian itu yang menjadikan keluarga bukan lagi sebagai pertahanan terakhir disebabkan oleh system Kapitalisme yang kini diterapkan. Kapitalisme yang berakidahkan sekularisme menjauhkan agama dari kehidupan membuat kurangnya pengetahuan agama dalam keluarga. Padahal apabila kita mengikuti segala apa yang diperintah-Nya niscaya hal yang demikian tadi tidak akan terjadi. Maka solusi satu-satunya adalah kembali pada islam, karna hanya islamlah satu-satunya agama yang benar, islamlah agama penyempurna, segala aturan kehidupan ada dalam islam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar