Rabu, 28 Desember 2016

Guidance

The Power of Guidance
Jiwa muda, jiwa yang menggelora. Hanya satu kali saja kita dalam hidup ini mengalami masa muda, tidak ada yang namanya pubertas kedua. Masa muda adalah masa dimana kita mendulang prestasi juga karya sebanyak mungkin, seperti kata pepatah kecil disuka, muda penuh karya, tua bijaksana, mati masuk surga. Berarti memang masa kecil kita itu cukup menentukan masa depan, meskipun hanya terkait karakter atau sebuah kebiasaan saja. Menurut John Locke dengan teori tabula rasa nya, kehidupan kita dipengaruhi sepenuhnya oleh lingkungan. Memang betul sedari kecil karakter kita terbentuk sesuai dengan lingkungan kita berada, termasuk didikan orangtua pun sangatlah memprngaruhi karakter individu. Terkait dengan lingkungan, ketika memasuki masa remaja tentu makin banyak dan  makin beragam lingkungan yang akan dihadapi. Dalam menghadapi lingkungan yang baru tentulah kita harus mempersiapkan mental kita agar nantinya mulai terbiasa, dan kembali lagi dari didikan orangtua di rumah sangat mempengaruhi sikap kita nantinya.
Masa remaja identik dengan masa pencarian jati diri, dimana ia akan mencari hakikat tentang dirinya juga tentang kehidupan atau sering orang-orang bilang masa remaja adalah masa coba-coba demi jati dirinya. Ketika ia memasuki SMP, ia akan mencari siapa dirinya melalui pengembangan diri yang ada di sekolah atau ekstrakulikuler (ekskul), ketika ia tidak cocok dengan satu ekskul, ia akan mencari ekskul lainnya yang sesuai dengan dirinya. Adapun remaja yang senang mencari jati diri nya melalui cara bimbingan baik melalui rohis atau bimbingan dan konseling. Sebetulnya masih banyak sekali cara-cara remaja saat ini untuk menemukan jati dirinya, tapi yang paling tepat adalah melalui bimbingan. Karena dengan bimbingan, remaja dibantu untuk mengenali dan memahami dirinya sendiri untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Dan melalui bimbingan tentu bisa memandirikan remaja tersebut hingga ia bisa menilai segala sesuatu berdasarkan pilihannya, apabila remaja sudah mandiri tentu ia akan memilih pilihan yang betanggung jawab. Melalui bimbingan yang tepat dan benar akan membuat remaja menuju kedewasaan, khususnya dalam pola pikirnya. Lantas bimbingan yang seperti apa yang memandirikan remaja?

Remaja selalu ingin tahu dia ini orang seperti apa, pandai dalam hal apa dan lain sebagainya. Atau bisa dibilang ia ingin tahu hakikat tentang dirinya. Rasanya sudah saya tulis di awal, tapi masih menarik untuk dibahas bukan? Ya, manusia baik remaja atau bukan dalam pencarian hakikat tentang dirinya atau tujuan hidupnya mustilah bisa memcahkan 3 pertanyaan besar yang mana pertanyaan ini pasti akan ditanyakan oleh siapapun yang ada di dunia; 1) darimana asal manusia?, 2) untuk apa ia di dunia? 3) akan kemana setelah mati. Seseorang apabila telah berhasil memecahkan ketiga pertanyaan ini dengan akal dan ia benar-benar yakin dengan jawabannya maka permasalahan lain pun akan terurai dengan sendirinya. Meski pertanyaan tersebut terkesan mudah dijawab tapi apabila kita tidak yakin dengan jawabannya maka akan timbullah masalah-masalah yang tidak bisa ia selesaikan dengan sendiri. Begitupun untuk memandirikan remaja, maka kita harus mengajaknya berpikir tentang ketiga pertanyaan tadi, berpikir yang mendalam dan cemerlang tentunya yang akan memuaskan akal kita. Ketiga pertanyaan tadi sangatlah penting untuk dipecahkan, karna akan mnyangkut tujuan hidup seseorang. Dan dari situlah semestinya bimbingan dimulai. Dari situ pula lah bimbingan yang memandirikan dapat dicapai.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar