The
Power of Guidance
Jiwa muda, jiwa yang
menggelora. Hanya satu kali saja kita dalam hidup ini mengalami masa muda,
tidak ada yang namanya pubertas kedua. Masa muda adalah masa dimana kita
mendulang prestasi juga karya sebanyak mungkin, seperti kata pepatah kecil
disuka, muda penuh karya, tua bijaksana, mati masuk surga. Berarti memang masa
kecil kita itu cukup menentukan masa depan, meskipun hanya terkait karakter
atau sebuah kebiasaan saja. Menurut John Locke dengan teori tabula rasa nya,
kehidupan kita dipengaruhi sepenuhnya oleh lingkungan. Memang betul sedari
kecil karakter kita terbentuk sesuai dengan lingkungan kita berada, termasuk
didikan orangtua pun sangatlah memprngaruhi karakter individu. Terkait dengan
lingkungan, ketika memasuki masa remaja tentu makin banyak dan makin beragam lingkungan yang akan dihadapi.
Dalam menghadapi lingkungan yang baru tentulah kita harus mempersiapkan mental
kita agar nantinya mulai terbiasa, dan kembali lagi dari didikan orangtua di
rumah sangat mempengaruhi sikap kita nantinya.
Masa remaja identik
dengan masa pencarian jati diri, dimana ia akan mencari hakikat tentang dirinya
juga tentang kehidupan atau sering orang-orang bilang masa remaja adalah masa
coba-coba demi jati dirinya. Ketika ia memasuki SMP, ia akan mencari siapa
dirinya melalui pengembangan diri yang ada di sekolah atau ekstrakulikuler
(ekskul), ketika ia tidak cocok dengan satu ekskul, ia akan mencari ekskul
lainnya yang sesuai dengan dirinya. Adapun remaja yang senang mencari jati diri
nya melalui cara bimbingan baik melalui rohis atau bimbingan dan konseling.
Sebetulnya masih banyak sekali cara-cara remaja saat ini untuk menemukan jati
dirinya, tapi yang paling tepat adalah melalui bimbingan. Karena dengan
bimbingan, remaja dibantu untuk mengenali dan memahami dirinya sendiri untuk
mengembangkan potensinya secara optimal. Dan melalui bimbingan tentu bisa
memandirikan remaja tersebut hingga ia bisa menilai segala sesuatu berdasarkan
pilihannya, apabila remaja sudah mandiri tentu ia akan memilih pilihan yang
betanggung jawab. Melalui bimbingan yang tepat dan benar akan membuat remaja
menuju kedewasaan, khususnya dalam pola pikirnya. Lantas bimbingan yang seperti
apa yang memandirikan remaja?
Remaja selalu ingin
tahu dia ini orang seperti apa, pandai dalam hal apa dan lain sebagainya. Atau
bisa dibilang ia ingin tahu hakikat tentang dirinya. Rasanya sudah saya tulis
di awal, tapi masih menarik untuk dibahas bukan? Ya, manusia baik remaja atau
bukan dalam pencarian hakikat tentang dirinya atau tujuan hidupnya mustilah
bisa memcahkan 3 pertanyaan besar yang mana pertanyaan ini pasti akan
ditanyakan oleh siapapun yang ada di dunia; 1) darimana asal manusia?, 2) untuk
apa ia di dunia? 3) akan kemana setelah mati. Seseorang apabila telah berhasil
memecahkan ketiga pertanyaan ini dengan akal dan ia benar-benar yakin dengan
jawabannya maka permasalahan lain pun akan terurai dengan sendirinya. Meski
pertanyaan tersebut terkesan mudah dijawab tapi apabila kita tidak yakin dengan
jawabannya maka akan timbullah masalah-masalah yang tidak bisa ia selesaikan
dengan sendiri. Begitupun untuk memandirikan remaja, maka kita harus
mengajaknya berpikir tentang ketiga pertanyaan tadi, berpikir yang mendalam dan
cemerlang tentunya yang akan memuaskan akal kita. Ketiga pertanyaan tadi
sangatlah penting untuk dipecahkan, karna akan mnyangkut tujuan hidup
seseorang. Dan dari situlah semestinya bimbingan dimulai. Dari situ pula lah
bimbingan yang memandirikan dapat dicapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar