Rabu, 28 Desember 2016

Maha

Maha
Yap, maha. Tittle itulah yang kini disandang pelajar yang sudah lulus SMA. Mahasiswa. Tatkala memasuki gerbang kehidupan baru, apalah yang kita rencanakan? Mengejar beasiswa? Pertahankan ipk? Aktif di berbagai organisasi? Atau malah kita tidak merencanakan apa-apa? Jalani saja apa yang sedang berlangsung? Oh, sungguh amat disayangkan jika kita hendak memulai babak baru hanya dengan tujuan yang begitu sempit. Sempit? Ya. bagaimana tidak, masa yang dimana seharusnya kita manfaatkan sebaik mungkin untuk membuktikan bahwa memang kitalah yang pantas untuk menyonsong perubahan, kitalah yang memegang tongkat estafet pemerintahan. Tapi malah kita gunakan untuk hal yang demikian sempit itu. Berdasarkan penilaian subjektif saya, saya memandang bahwa kini aktifitas mahasiswa sekarang ini hanyalah untuk memntingkan dirinya sendiri saja. Belajar serajin mungkin untuk mendapatkan beasiswa, berprestasi di berbagai kegiatan. Tapi apa pernah membawakan perubahan? Perubahan yang parsial, ya sudah mereka lakukan, seperti contohnya prestasi yang didapat pastilah membawa nama baik dan nama instasinya juga jika hasil daripada apa yang dihasilkan itu bermanfaat pasti akan berdampak pada lingkungan sekitarnya. Tapi yang dimaksud perubahan adalah perubahan yang hakiki, perubahan yang benar-benar membawa kebangkitan dan kemajuan bagi bangsa dan Negara khususnya. Perubahan yang memerdekakan kaum-kaum yang sampai saat ini masih tertindas. Perubahan yang hakiki lah yang kini dibutuhkan orang banyak.
Dibalik almamater tercinta yang kita pakai, disitu tersimpan berjuta harap rakyat. Mereka menantikan kita untuk membawa perubahan tadi. Kita dipandang oleh mereka, kita dipercaya oleh mereka. Apakah kita akan mematahkan begitu saja harap itu? Sungguh sakit pengharapan tanpa kepastian. Benar dikatakan bahwa dunia perkuliahan adalah miniature pemerintahan, di dalamnya terdapat berbagai organisasi yang menyerupai pemerintahan Negara. Dikatakan seperti itu karna apa, karna kitalah yang akan memegang estafet pemerintahan selanjutnya. Maka sedari dini ketika memasuki dunia perkuliahan, kita diajarkan untuk berorganisasi selayaknya di pemerintahan. Sama halnya dengan rakyat kebanyakan, mahasiswa yang tidak memasuki organisasi tersebut menyimpan harapnya pada aktivis-aktivis itu. Berharap agar bisa membantu menyampaikan aspirasinya. Maka dari sini dapat disimpulkan bahwa peran mahasiswa sesungguhnya adalah sebgai penyambung lidah masyarakat. Ingat, masyarakat. Bukan hanya mahasiswanya saja. Sebagai sambung lidahnya masyarakat, tentu kita harus merakyat. Mendengarkan setiap aspirasi rakyat, memberikan solusi terbaik untuk rakyat. Jika adayang berpikiran bahwa masa muda haruslah dipakai senang-senang karna masa muda tak akan datang dua kali, salah besar. Justru berjuta jiwa rakyat menjadi tanggung jawab terbesar kita. Jika masih ada yang berpikiran untuk kuliah hanya mementingkan nilai, berhasil sudah anda menjadi kacung-kacung kapitalisme. Kapitalisme telah berhasil membuat masyarakatnya bersifat individualisme. Individualisme inilah yang amat berbahaya, menghilangkan setiap peran dilapisan masyarakat, menghilangkan kepedulian terhadap sesama. Itulah yang paling miris, seperti yang kita tahu di bulan kelahiran kekasih Allah, suri tauladan terbaik kita Nabi Muhammad SAW, berjuta kaum muslim di Aleppo dibombardir kembali oleh Bassar Assad. Ketika berangkat tubuh masih lengkap, tapi ketika pulang jidatnya sudah berlubang, banyak wanita muslim yang bunuh diri karna enggan kesuciannya diambil oleh tangan-tangan biadab. Itulah pemandangan yang kini ada di kota Aleppo, kotanya para ulama, kotanya saudara kita. Dengan hal yang demikian, masihkah kita mengedepankan sikap individualisme? Masihkah kita berdiam diri terhadap apa yang sedang terjadi terhadap saudara kita? Bukankah kita, kaum muslim adalah saudara? Yang diibaratkan bagai satu tubuh, dimana saat bagian tubuh yang satu sakit bagian yang lain pun sama. Apakah kita merasakan rasa sakit itu?

Maka seharusnya yang menjadi cita-cita besar mahasiswa bukanlah mendapat ipk tinggi, mendapat berbagai beasiswa, tapi cita-citakanlah dalam benak kalian wahai kaum muslim, apa yang bisa kalian berikan pada umat Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar