Rabu, 28 Desember 2016

Benahi atau Ganti?


Sabtu itu saya mendapat kesempatan untuk berdiri dihadapan dewan juri untuk mempresentasikan hasil essay yang saya buat. Tema essay yang diberikan panitia adalah membangun kampus peradaban melalui bidang pendidikan, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Karna saya sangat menyadari betul apa yang menjadi hambatan untuk majunya bangsa ini juga apa yang menjadi masalah utama dalam hidup. Ya, system. Maka saya pun ingin menyadari orang-orang melalui essay yang saya tulis. Ketika itu adalah sesi tanya jawab, kedua juri menanyakan bagaimana cara untuk mengubah system ini? Apa hanya dengan dakwah? Atau masuk dalam parlemen dan membenahi segala yang salah dan kurang tepat dalam tata penyelenggaraannya? Bagaimana menurut anda?

Bapak yang mengenakan peci hitam dan kemeja putih kukuh dengan argumennya bahwa jika memang system yang salah, caranya yakni  dengan memasuki parlemen dan jadilah orang yang mampu membawa suatu perubahan. Bahkan beliau mengibaratkan layaknya sebuah rumah yang keadaannya kotor juga rusak, maka apa salahnya jika kita memasuki rumah itu dan kita lihat bagian mana saja yang kotor dan rusak itu, dan dari situ kita bisa membersihkanya juga memperbaikinya. Duhai bapak peci hitam, diakui bahwa analogi yang demikian amatlah tepat. Tapi saya mohon maaf apabila jawaban yang saya jawab kala itu kurang memuaskan, kini saya akan menjawabnya dengan yakin dan insyaAllah memuaskan. Analogi yang bapak sebutkan amat tepat dan bagus menurut saya. Tapi mari kita bahas lebih lanjut. Jika ada suatu rumah yang luar biasa kerusakannya, ubinnya retak-retak, temboknya disenggol sedikit sudah ambruk, dan jika menatap ke atas langsung langit yang kita lihat. Jika keadaannya demikian, bagaimana cara yang paling tepat dan akurat untuk membenahi rumah tersebut? Jika kita fokus pada ubinnya, sebelum ubin tersebut selesai, mungkin ada bagian ubin lainnya yang keadaannya makin parah bahkan yang sudah selesai ditata besar kemungkinan akan rusak kembali dikarenakan terkena ‘serangan’ dari atas yakni hujan angin bahkan badai sekalipun. Pun dengan bagian yang lainnya, jika hanya fokus di satu bidang tapi bidang yang lainnya masih mengalami kerusakan, satu bagian belum terselesaikan sudah rusak kembali. Maka jika hanya fokus pada satu bidang sedang bidang lainnya masih mengalami kerusakan, perubahan akan sulit dicapai. Lantas apa yang harus kita lakukan? Yap! Langsung saja ganti rumah itu dengan rumah yang baru, dengan begitu perubahan terpampang nyata bukan?

Hal yang demikian sama halnya dengan apa yang terjadi di negeri kita ini, kita terus saja melakukan perubahan demi tercapainya pembangunan yang membawa kemajuan tapi sayangnya kita malah mengurusi hal-hal cabang,  tidak fokus kepada inti dari segala permasalahan. Maka yang terjadi adalah masalah demi masalah tetap ada, makin parah malah. Argument bapak terkait dengan memasuki parlemen tentunya dipikirkan oleh beberapa orang, termasuk saya ketika belum paham. Tapi duhai bapak peci hitam, bukankah Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi kita semua sebagai ummatnya? Bukankah kita mencintai Rasul? Lantas apa wujud cinta kita? Mengamalkan segala perbuatannya bukan? Ya, sama halnya dengan berdakwah yakni membawa kebajikan dan setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk mengembannya. Adapun tata cara Rasulullah saat berdakwah yakni: 1) sembunyi-sembunyi 2) berinteraksi langsung dengan ummat dan 3) tidak memasuki pemerintahan. Kala itu Rasulullah ditawari untuk menjadi pemimpin oleh pimpinan Quraisy selama beberapa hari, tapi kemudian Rasul menolaknya. Karna yang Rasul inginkan dan menjadi tujuannya adalah membenahi akidah setiap ummat terlebih dahulu baru demikian jika ummat sudah berakidah dengan benar yakni melalui cara berpikir barulah Rasulullah mendirikan sebuah pemerintahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar