Sabtu itu saya mendapat kesempatan untuk berdiri
dihadapan dewan juri untuk mempresentasikan hasil essay yang saya buat. Tema
essay yang diberikan panitia adalah membangun kampus peradaban melalui bidang
pendidikan, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Karna saya sangat menyadari betul
apa yang menjadi hambatan untuk majunya bangsa ini juga apa yang menjadi
masalah utama dalam hidup. Ya, system. Maka saya pun ingin menyadari
orang-orang melalui essay yang saya tulis. Ketika itu adalah sesi tanya jawab,
kedua juri menanyakan bagaimana cara untuk mengubah system ini? Apa hanya
dengan dakwah? Atau masuk dalam parlemen dan membenahi segala yang salah dan
kurang tepat dalam tata penyelenggaraannya? Bagaimana menurut anda?
Bapak yang mengenakan peci hitam dan kemeja putih
kukuh dengan argumennya bahwa jika memang system yang salah, caranya yakni dengan memasuki parlemen dan jadilah orang
yang mampu membawa suatu perubahan. Bahkan beliau mengibaratkan layaknya sebuah
rumah yang keadaannya kotor juga rusak, maka apa salahnya jika kita memasuki
rumah itu dan kita lihat bagian mana saja yang kotor dan rusak itu, dan dari
situ kita bisa membersihkanya juga memperbaikinya. Duhai bapak peci hitam,
diakui bahwa analogi yang demikian amatlah tepat. Tapi saya mohon maaf apabila
jawaban yang saya jawab kala itu kurang memuaskan, kini saya akan menjawabnya
dengan yakin dan insyaAllah memuaskan. Analogi yang bapak sebutkan amat tepat
dan bagus menurut saya. Tapi mari kita bahas lebih lanjut. Jika ada suatu rumah
yang luar biasa kerusakannya, ubinnya retak-retak, temboknya disenggol sedikit
sudah ambruk, dan jika menatap ke atas langsung langit yang kita lihat. Jika
keadaannya demikian, bagaimana cara yang paling tepat dan akurat untuk
membenahi rumah tersebut? Jika kita fokus pada ubinnya, sebelum ubin tersebut
selesai, mungkin ada bagian ubin lainnya yang keadaannya makin parah bahkan
yang sudah selesai ditata besar kemungkinan akan rusak kembali dikarenakan
terkena ‘serangan’ dari atas yakni hujan angin bahkan badai sekalipun. Pun
dengan bagian yang lainnya, jika hanya fokus di satu bidang tapi bidang yang
lainnya masih mengalami kerusakan, satu bagian belum terselesaikan sudah rusak
kembali. Maka jika hanya fokus pada satu bidang sedang bidang lainnya masih
mengalami kerusakan, perubahan akan sulit dicapai. Lantas apa yang harus kita
lakukan? Yap! Langsung saja ganti rumah itu dengan rumah yang baru, dengan
begitu perubahan terpampang nyata bukan?
Hal yang demikian sama halnya dengan apa yang
terjadi di negeri kita ini, kita terus saja melakukan perubahan demi
tercapainya pembangunan yang membawa kemajuan tapi sayangnya kita malah
mengurusi hal-hal cabang, tidak fokus
kepada inti dari segala permasalahan. Maka yang terjadi adalah masalah demi
masalah tetap ada, makin parah malah. Argument bapak terkait dengan memasuki
parlemen tentunya dipikirkan oleh beberapa orang, termasuk saya ketika belum
paham. Tapi duhai bapak peci hitam, bukankah Rasulullah SAW adalah suri
tauladan bagi kita semua sebagai ummatnya? Bukankah kita mencintai Rasul?
Lantas apa wujud cinta kita? Mengamalkan segala perbuatannya bukan? Ya, sama
halnya dengan berdakwah yakni membawa kebajikan dan setiap muslim memiliki
tanggung jawab untuk mengembannya. Adapun tata cara Rasulullah saat berdakwah
yakni: 1) sembunyi-sembunyi 2) berinteraksi langsung dengan ummat dan 3) tidak
memasuki pemerintahan. Kala itu Rasulullah ditawari untuk menjadi pemimpin oleh
pimpinan Quraisy selama beberapa hari, tapi kemudian Rasul menolaknya. Karna
yang Rasul inginkan dan menjadi tujuannya adalah membenahi akidah setiap ummat
terlebih dahulu baru demikian jika ummat sudah berakidah dengan benar yakni
melalui cara berpikir barulah Rasulullah mendirikan sebuah pemerintahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar